My Blog List

My Blog List

link Facebook "Doel Mahessa Jeenar"

Sunday, January 12, 2014

Aku, Kamu Dan Istriku ..



 Agustus 2003
  Siang itu mentari sangat terasa terik,,,dan sambil bercanda tawa lepas di teras rumah, Doel pemuda yg sedang liburan di kampungnya mengusir rasa kangen di teras rumah temanya.,karena selama Doel berada di Jakarta ga pernah ada komunikasi antara Doel sama teman” sepermainannya di kampung,maklum wktu itu belom rame Hp seperti sekarang….Asyik bercanda”mata Doel  tertuju pada seorang gadis berseragam biru putih yang mengucap salam,,Assalamu alaikum,,,temannya  menjawab salam,sementara Doel masih memandangi gadis berseragam itu….Lalu Doel bertanya sama temannya siapa dia,,,,temannya  menjawab Akh kamu ini gimana ,,dia itu Adiku sekarang udah kelas 3 SMP,,
  Doel sedikit  kaget,,,Oh…..
  Ternyata waktu cepat sekali berlalu,,,Aku pernah melihatnya dulu sebelum aku meneruskan pendidikan dan Bekerja di Jakarta,dia adalah gadis kecil yang lucu,tak ku sangka sekarang secantik dan semanis ini,,,gumamnya  dalam hati,, Doel masih merasakan sesuatu yang biasa,,,tanpa berpikir macam macam,,,dan Hari hari berikutnya Doel seperti biasa nongkrong di rumah temannya itu,,Dan mulai terbiasa bercanda tawa dengan adik temanNya yang memang manis dan lugu ….,,
  Dan waktu berlibur Doel di kampung halaman pun berakhir,,karena Dia harus kembali ke Jakarta,waktu itu Doel bekerja di sebuah yayasan Abbalove Ministries ,Di kawasan Gunung sahari XI Jakarta pusat, dan dapat cuti sebentar di kampung….
  Minggu berganti bulan dan bulanpun terus berlalu berganti tahun,Doel menghabiskan hari harinya di ibu kota Jakarta,Hingga dia sempat tak mengingat lagi gadis manis, adik temanya yang berseragam biru putih waktu itu,,
Dari perjalan  melewati kerasnya ibu kota Jakarta Doel mulai berfikir untuk menata kehidupan nya menjadi lebih baik,,,Dan tak mungkin Dia terus menjalani kehidupan seorang diri,,memang banyak sekali wanita yang dekat & akrab dengan Doel,tpi mungkin tuhan belum memberikan jodoh yang terbaik buat Dia,,,hingga suatu hari Doel mengenal seorang gadis tetangga kampungnya sendiri Dari tegal,yang waktu itu bekerja sebagai baby sitter di wilayah Jakarta timur,Melalui telepon umum koin,Doel biasa menyapanya tiap pagi dan malam,sampai suatu hari dia menemuinya langsung di tempatnya bekerja,,,Erniyati,, yah gadis itu bernama Erniyati doel  memanggil’y Erny….Dari perkenalnya sama Erny Doel menjalin hubungan yang serius Dan akhirnya mereka Pacaran,…
  Seperti biasa,,setelah selesai beraktifitas Doel merapat ke telepon umum koin di samping Kantor tempatnya bekerja,yang kebetulan dekat tempat kostnya…Doel menghubungi Erny,,”Hallo Er,Gimana kabar’y,???dia menjawab Aku baik” saja ..Kabar mas Gimana ??tanya’y Doel pun menjawab sama Aku juga BAik “ saja,,,,Oiya er,besok kan hari minggu ??bos kamu ada acara ngga,,Kalo ngga ada kebetulan Besok aku mo Main ke rumah saudara di Jembatan lima ,,,ikut yah???,,”ya nanti aku Tanya BOS ku dulu trus aku kabarin lagi klo aku siap ,Jawabnya…OKE jawab Doel penuh harap…..
Jam sembilam malam Doel kembali menghubungi Erny lewat telepon,,,,”gimana bisa nggak??,,,tanyanya…bisa mas,tpi mas jemput ke sini biar bosku lihat langsung aku pergi sama mas,,,,
OKE jawab doel penuh semangat….
  Minggu pagi dengan penuh semangat,Doel ke Stasiun Rajawali,untuk menjemput erny di Jakarta timur,,Sampai di sana ,erny dan bos’y sudah menunggu di ruang tamu,dan mempersilahkan Doel masuk,setelah ngobrol sebentar,Erny berpamitan sama Bos ,Dan Mereka berdua bergegas meninggalkan rumah tempat erny bekerja..”hati –hati di jalan,,dan cepat pulang jangan lama lama,,,kata BOS yang mempekerjakan erny di rumah itu,,,,sambil berlalu mereka menjawab insya allah kami Cuma sebentar bu,,,Dengan perasaan senang bisa  jalan berdua Doel & menghabiskan minggu itu di jembatan Lima Bersama Erny di tempat tinggal kakaknya,yang kebetulan menjadi mandor pabrik di PT cinta Seni jl.sawah lio jembatan lima…
  Tak terasa Waktu sudah mulai sore,,Sebelum kembali mengantar erni ke Jakarta timur Doel mengajak Erny untuk mampir ke mess pabrik yang kebetulan di sana banyak teman teman satu kampung berkumpul,karena mereka memang kebanyakan bekerja di pabrik tersebut….
  Lama tak jumpa mereka,Doel dan erni di sambut senang oleh teman”y di mess pabrik tersebut,Erny masuk ke salah satu kamar temanya,sementara Doel duduk di teras loteng sambil sesekali terawa tawa karena ledekan lucu teman temanya,,yang ngeledek Sambil Berkata “Cieee,,Yang udah punya pacar,kapan nih married,,,???Doel Cuma tersenyum senyum sambil menjawab “akh kalian ini bisa aja,,,..tunggu Saja undanganya Nanti juga Sam…..BElum selesai bibir Doel menjawab ledekan teman temanya,,,Seorang Gadis Cantik +Tomboy keluar dari salah satu kamar mess menghampiri nya Dan Menyapa,,,”Kapan datang,,??Sama Siapa,,? Doel terdiam dan bibirnya terkunci…Ia seolah tak dapat berkata apa apa,..Doel menatap gadis itu dalam dalam,,Seolah terhipnotis,,sampai gadis itu kembali menyapanya “kenapa Diam,??? Eghh..Ngga apa apa jawab Doel gugup…Betapa tidak,ternyata gadis yang menyapanya adalah adik temanya di kampung yang pernah ia temui waktu masih berseragam Biru putih.Dan sekarang dia tak menyangka harus bertemu dengannya di situ dengan tampilan yang sangat berbeda,,entah apa yang di rasakan Doel waktu itu,,dia merasakan sesuatu yang lain setelah melihat adik temanya menjadi seorang gadis yang cantik ,manis,dan sedap di pandang mata….Ya tuhan, kenapa aku bertemu denganya Di sini,,?dan di waktu Aku sudah punya kekasih,,,doel sesekali menahan nafasnya sambil berfikir keras tentang gadis itu…..Lama doel terdiam, Sampai Akhirnya Suara pelan terdengar “mas udah Hampir maghrib,,Yuk kita pulang,,??Erny membangunkan lamunannya….Dan Doel pun mengiyakan,,sambil berpamitan sama teman”nya,,Dan si gadis manis itu tersenyum dan berkata Hati” yah di jalan,,Doel tersenyum sambil berlalu,dan sesekali dia menoleh kearah gadis yang masih berdiri di depan gerbang,,sampai tikungan yang menghalangi pandangan mereka……..
Sepanjang perjalanan Pulang Doel terdiam,tak seperti waktu mereka berangkat pagi tadi,”kenapa mas diam,,suara erny mnyeruak diantara lamunannya…Eghh engga apa apa ,,mungkin mas sedikit capek,jawab Doel pelan..
Owhh maaf mas,Desah erny sedikit bingung dengan perubahan sikap kekasihnya itu,,,,,
Menjelang Pukul 09 malam mereka sampai di tempat erny bekerja,setelah bercakap cakap sebentar dengan bos Erny ,,Doel pun berpamitan pulang kembali ke kost’y di gunung sahari XI .Erny mngantar nya sampai di depan pintu,dia seolah berat untuk melepaskan nya pergi malam itu,tpi Doel memang harus pulang karena harus bekerja lagi keesokan harinya….
___________________________________________________________________________________ http://www.abdoel06google.blogspot.com _____ ________________________________________________________________________ ______________________________________________________
  Februari 2005,, Bulan pertama Doel Mengarungi bahtera rumah tangga bersama Erny,mereka Tinggal di Sebuah rumah di wilayah Jati Asih Bekasi selatan,,bersama dengan keluarganya yang menetap di sana..Menikmati masa masa awal pernikahan mereka dengan menyewa rumah kontrakan berhadapan dengan rumah keluarga doel sendiri…
  Tapi tempat tinggal yang jauh dengan tempat Doel bekerja,,Membuat Doel Sering sekali tidak masuk kerja karena kesiangan,dan juga ketinggalan kereta yang setiap hari mengantarnya dari bekasi ke Jakarta…Hingga suatu hari tanpa keterangan yang jelas Doel di berhentikan dari pekerjaanya Tanpa pesangon,,,
  Sejak saat itu Doel mulai bingung,Dia berusaha membahagiakan Istrinya dengan bekerja serabutan ,jadi kuli bangunan,jadi tukang parkir,bahkan sempat juga menjadi pengamen Di kereta api jabodetabek,,, Doel tetap semangat demi kebahagiaan istrinya tercinta,sambil tetap mencoba melamar pekerjaan dari satu PT ke PT yang lain,,dari satu kantor ke kantor yang lain di Jakarta,Tapi Cobaan di awal awal pernikahanya memang terlalu berat dia rasakan karena hampir 5 bulan ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang tetap,sementara kebutuhan hidup bersama istrinya harus tercukupi sehari harinya….
  Kabar tentang Keberadaan Doel di Jakarta yang kurang berhasil terdengar oleh keluarga Erny di tegal,Hingga suatu hari Ayah Erny menjemputnya Pulang,karena menurut Ayah Erny kehidupan di kampung akan lebih baik dengan bekerja apa adanya,Dari pada di kota Jakarta tanpa pekerjaan yang jelas,.
  Erny pulang bersama ayahnya,Sementara Doel tinggal Di Jakarta sambil nunggu kepastian dari beberapa perusahaan yang pernah dia masukin lamaran pekerjaanya,,tpi nasib baik memang belum juga berpihak padanya,hingga hampir 2 bulan Doel belum juga mendapatkan pekerjaan yang di harapkanya….Dengan perasaan yang tak menentu dan pikiran yang bercampur campur,Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul istrinya di kampung halamanya di tegal,,,,Dengan harapan Dia akan bisa hidup lebih baik dengan bekerja apa adanya ,seperti yang di katakan Orang tua istrinya sewaktu menjemput Erny pulang Dulu….

  Pagi itu udara Di cawitali terasa dingin,,,Sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok yang di hisapnya,Doel berpikir keras apa yang akan ia lakukan,sementara dia belum terbiasa dengan pekerjaan bercocok tanam seperti umumnya penduduk desa tersebut,,Tapia pa mau di kata ,menjalani kehidupan di ibukota pun percuma,,pelan pelan Doel terbiasa dengan kehidupan yang serba sederhana di kampung…
  Seperti biasa setelah menjalani aktivitas di kebun,,Doel menyempatkan berkumpul sama teman”nya di Rumah kawan lamanya,,ternyata kebiasaan itu membuat keluarga erny Merasa tidak senang,karena hampir setiap hari doel berkumpul dengan teman” nya…
  Gadis manis itu,mengubah semua keadaan hidup Doel,,gadis yang pernah ia temui dulu waktu masih berseragam biru putih,dan sempat ia temui di Jakarta beberapa tahun lalu,,dia kini sedang mengandung Dari hasil perkawinananya dengan teman sepermainannya,,hanya saja dia kurang beruntung karena dari semenjak umur Awal kehamilanya dia tidak pernah bersama suaminya,karena menurut kabar memang pernikahan mereka kurang di harapkan oleh suami gadis itu…biarpun sesungguhnya dia amat sangat sayang pada suaminya…

  Sejak saat itu entah apa yang di rasakan Doel pada sosok wanita itu,,,di sela sela kesibukanya dia selalu menyempatkan untuk datang menemui gadis yang sedang hamil muda itu,Doel sadar betul posisinya dia adalah seorang laki  yang  tlah beristri,tpi wanita itu benar benar menjatuhkan pribadinya sebagai seseorang yang tegar…doel rela membuang banyak waktunya demi wanita itu,,,Dan sejak saat itu pula kasih sayang Doel kepada istri dan keluarganya sangat berkurang,Dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk menengok wanita tersebut..Apalagi semenjak dia tau kalo suami wanita itu tak pernah mau pulang ke rumah itu..dan jarang menemui selama kehamilannya.
  Keadaan menjadi semakin parah,saat dilemma rumah tangga menghampiri Rumah tangga doel,,Bahkan saat Doel sendiri telah di karuniai seorang putra…Dalam kondisi ekonomi yang serba sulit,Pernah Suatu hari Istri Doel menuntut Cerai “Mas,Kalo memang Hubungan kita Sudah tidak bisa di pertahankan,,Kenapa mas ngga ceraikan saja saya”kata Erny sambil menangis Waktu itu,,,Doel hanya terdiam Dia lebih memilih  untuk sementara pisah ranjang dengannya…di masa masa itu Doel lebih sering mencurahkan perasaannya pada wanita yang lama dia kagumi itu,,walaupun memang wanita itu lebih memilih setia pada suaminya yang tidak memperhatikan dirinya,Bahkan setelah mereka di karuniai seorang putri yang cantik dan lucu,seiring berjalanya waktu,,mungkin karena alasan perasaan wanita itu menjadi lebih sering berkeluh kesah Sama Doel,,Doel sadar wanita itu tidak pernah memberikan harapan lebih pada dirinya,,tapi Doel menikmati itu laksana sebuah jalinan batin yang tak terputus,,.
  Motivasi,ribuan Syair indah,penyemangat hidup dan semua tentang perasaan,,mengalir begitu saja,walaupun Jalinan itu tk lebih sebatas seorang kakak dan adik yang saling mengasihi,,………
______________________________________________________________________________
  Tahun berganti,,,Doel kini Tlah bekerja menjadi pelaksana Di salah satu Rayon PT.PLN persero di tegal,perubahan hidup sedikit di rasakanya,apalagi dia tlah membangun rumah kecil untuk singgah bersama anak dan istrinya…,,,Namun hingga Cerita ini Di tulis perasaan yang tak pernah hilang yang di rasakan oleh Doel pada sosok wanita yang kini lebih memilih tinggal di Jakarta,bersama putrinya,semenjak Dia di tuntut cerai oleh suaminya,,


Tahun berganti,,,Doel kini Tlah bekerja menjadi pelaksana Di salah satu Rayon PT.PLN persero di tegal,perubahan hidup sedikit di rasakanya,apalagi dia tlah membangun rumah kecil untuk singgah bersama anak dan istrinya…,,,Namun hingga Cerita ini Di tulis perasaan yang tak pernah hilang yang di rasakan oleh Doel pada sosok wanita yang kini lebih memilih tinggal di Jakarta,bersama putrinya,semenjak Dia di tuntut cerai oleh suaminya,,,

Benar kata pepatah bahwa cinta itu buta, karena terkadang cinta bisa merubah segalanya. Adakalanya cinta merubah hitam menjadi putih, duka menjadi suka, kecewa menjadi bahagian, sedih menjadi senang ataupun sebaliknya. Itulah kekuatan cinta, jika panah cinta sudah tertancap di hati seseorang maka ia bisa menjadikan seseorang tersebut kehilangan jati dirinya. Banyak cerita cinta yang bisa merubah segala sesuatunya, kita tentu tahu karena cinta yang sangat dalam Qais rela dianggap gila karena mencintai Laila. Kita tentu juga tahu kisah cinta Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian. Semua itu tak lain karena cinta.

Begitu Juga kisah cinta Doel dan Wanita Yang dia sayangi,tak perduli betapapun yang harus Dia jalani,Mengorbankan orang orang terdekat demi sesuatu yang sesungguhnya Semu,, Mungkin bertemu dengannya Membuat Doel terluka. Memaksa menahan sakit di balik senyumnya,Tapi itu yang bisa Doel lakukan untuk bisa berada di sampingnya dan istrinya. Walaupun Sesungguhnya hanya sebuah bayangan tak berarti. Tapi Dia tetap merasa senang.
Dan mohon maaf untuk pembaca,,Kisah antara Aku kau dan istriku,,Mungkin sebagai syair penutup cerita ini Aku Lampirkan puisi ini…
Ditengah malam syahdu nan pekat
Ku teringat pada mu, bayangmu
Selalu melintas di kelopak mataku
Ku coba untuk melupakanmu
Namun bayang mu, trus menghampiriku
Sunyiku kau tabur bunga rindu
Kau bagai angin yang sejukkan
Jiwa ragaku…
Namun kini, sia-sia sudah mahligai cintaku
Mimpi indah tiada lagi, sirna terbakar
Kayu arang abu…
Ku coba bertanya pada malam
Dia membisu
Angin berlalupun, tak memberikan
Jawaban,,
Hanya satu yang terucap
Mengapa aku mencintaimu
Mengapaaku menyukaimu..
Dan Doel berharap dari kisah ini Tak ada pihak yang tersakiti….
Sekian…..



Thursday, January 9, 2014

HUJAN TERAKHIR BERSAMAMU


Gadis ini mencengkram erat kepalanya. Di tengah hujan, dia masih harus mengalami perdebatan sengit antara hati dan otaknya. Dinda, begitu gadis ini disapa. Menangis di tengah hujan yang sangat deras memang efektif karena tetesan air matapun takkan terlihat.Dinda berjalan di koridor kelas dengan lesu. Bagaimana tidak, fikirannya benar-benar sedang kacau. Apalagi kalau bukan karna cinta. Tepatnya karna Denis, si pangeran berkuda putih itu. Sebenarnya Denis hanyalah pria biasa, hanya saja cinta membuat Denis terlihat tak biasa di mata Dinda. Mungkin Dinda melihat menggunakan mata hati. Mungkin.
Tak ada yang buruk dari mengenal Denis. Hanya saja Denis terlalu untuk Dinda. Terlalu baik, terlalu tampan, terlalu pintar.. Nyaris sempurna. Dulu, Dinda tidak suka pada Denis, bahkan Dinda membencinya. Tapi sekarang? Ia menyukainya. Atau mencintainya. Mungkin.
“Din, kamu baik-baik saja?” Suara itu. Suara itu sudah tak asing lagi di telinga Dinda. Dan benar saja, ketika Dinda melihat siapa orang itu. Ternyata Denis.
“Aku? Aku baik-baik saja.” Jawab Dinda. Sungguh dibalik kata baik-baik saja ada kata tidak dalam keadaan baik yang tersembunyi. Perempuan. Bukankah itu salah satu keahliannya untuk menutupi perasaan mereka yang sebenarnya?

Seperti biasa, Dinda duduk di samping Gisha. Gisha dulunya adalah gadis yang Denis sukai. Gisha itu perempuan yang cantik, pintar, dan pandai bergaul, hampir tak ada celah pada dirinya. Tapi itu dulu, sampai Denis berkata kalau ia menyukai Dinda. Dinda mendengus geli ketika otaknya memutar memori antara Dia, Gisha dan Denis.
Waktu itu, hujan sangat lebat. Dinda dan Gisha menunggu hujan itu berhenti. Gisha sibuk mengamati hujan yang deras itu, tetapi Dinda justru menikmatinya. Aroma hujan, Dinda selalu menyukai itu. Rintikan hujan mengalun seperti sebuah musik di telinganya. Dinda menikmati itu sampai dia tahu bahwa Denis memberikan jaketnya untuk Gisha. Dinda benar-benar cemburu hingga dia lepas kendali.
“Din maaf.. Aku nggak mau semua berakhir sampai di sini?”
Dinda sempat bingung dengan isi pesan singkat Denis. Kata-katanya sedikit sulit untuk dicerna oleh otaknya. Bahkan butuh waktu yang lama untuk memikirkan kata-kata Denis. Tetapi akhirnya Dinda menjawab
“Apa yang berakhir? Nggak ada yang berakhir. Semuanya akan sama seperti dulu. Maaf, tadi aku memang lagi emosi. Jangan berlebihan menanggapinya. Nothing gonna change Denis, trust me.”
Tiba-tiba Dinda tersadar dari lamunannya karena guru sudah memasuki kelas. Lagi-lagi matanya kembali menangkap sosok Denis. Denis sibuk dengan perempuan itu. Target baru mungkin. Dinda pura-pura tidak memperdulikannya. Dinda harus fokus. Ini demi mimpinya juga kebahagiaannya.
Jam tambahanpun berakhir. Semua anak-anak sibuk mengobrol sana-sini, membicarakan rencana mereka sepulang jam tambahan. Dinda sedang fokus membereskan buku-bukunya. Memastikan bahwa tak ada satupun barangnya yang tertinggal. Tapi tiba-tiba sosok itu mengusiknya, lagi.
“Tidak. Hanya ingin melihat kamu. Dinda yang fokus benar-benar lain ya.”
Dinda mengangkat sudut bibirnya ketika mendengar kata-kata Denis.
“Eh? Dinda tersenyum?”
Setelah mendengarnya, Dinda segera merubah raut wajahnya. Dinda menyesali senyumannya tadi. Harusnya ia tidak memberikan senyuman berharganya itu kepada Denis. Si pemberi harapan palsu.
“Dinda, ada yang mau aku bicarakan. Kita keluar sebentar ya”
Dinda segera keluar bersama Denis sebelum teman-temannya melihat. Ketika Denis mengajak Dinda untuk mengobrol di tempat teduh, Dinda menolaknya. Dinda beralasan kalau saat ini hanya hujan. Hujan air, dan lagipula Dinda suka hujan.
“Mau bicara apa?” tanya Dinda..
“Kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu menjauhiku. Kamu nggak pernah mengirimiku pesan singkat. Bahkan seperti kamu membenciku. Aku salah apa sama kamu?” jawab Denis yang kembali bertanya.
“Semuanya sudah berakhir”
“Berakhir? Maksudmu? Apa yang berakhir?”
“Kita.”
Beberapa menit kemudian Dinda meralat kata-katanya
“Maksudku bukan kita. Tapi aku dan kamu. Bukankah aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita?”
“Kamu ini bicara apa Dinda. Siapa yang bilang kalau kamu dan aku tidak akan pernah menjadi kita?”
“Takdir. Takdir memang tak pernah berkata tentang hal itu. Tapi, takdir menunjukkannya.”
“Takdir tak pernah menunjukkan itu Din” jawab Denis tegas.
“Tak pernah? Bagaimana dengan kebudayaan kita? Bukankah itu cukup menunjukkan kalau kita tidak bisa bersama? Kamu keras sedangkan aku lembut. Kamu api sedangkan aku air. Kita berbeda, bahkan jika kita bersama maka kita akan menghancurkan satu sama lain.”
Hujan semakin deras. Sebanyak air hujan itulah air mata Dinda yang ditahannya. Mungkin untuk terakhir kalinya, Dinda ingin Denis mengingat senyumnya, bukan tangisnya.
“Kenapa kamu menginginkan ini berakhir? Bukankah terlalu awal untuk mengakhirinya?”
“Kenapa kamu bertanya kepadaku? Kamu yang mengakhirinya. Bukan aku.”
“Aku? Aku tak pernah mengatakan ingin mengakhiri semuanya.”
“Sekali lagi, mungkin lidahmu terlalu kelu untuk mengatakan bahwa semua ini telah berakhir. Tetapi kamu berhasil menunjukkan. Kamu menunjukkan tanda-tanda bahwa kamu ingin mengakhirinya.”
“Din.. Dulu aku kan pernah bilang kalau aku nggak mau —” ucapan Denis terpotong karna Dinda segera menjawab
“Itu dulu Sekarang, tanda-tandanya sudah jelas bahwa kamu ingin mengakhirinya.”
Hening. Denis tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Tak pernah terfikirkan oleh Denis kalau Dinda akan mengatakan hal-hal seperti ini. Denis tak tahu apa yang membuat Dinda berubah seperti ini.
“Lagipula, kamu sekarang sudah punya pacar, kan?” kata Dinda yang sepertinya ingin menyindir Denis.
“Pasti kamu bingung aku tahu dari mana kalau kamu sudah punya pacar.” sambung Dinda sambil memaksakan senyum pada wajahnya.
“Pastinya. Kamu ini jangan-jangan penguntit aku ya.” Denis benar-benar tertawa lepas dengan jawabannya tadi. Bahkan Dinda ikut terkekeh dengan jawaban Denis.
Tiba-tiba Dinda berhenti tertawa. Dia memperhatikan Denis yang masih tertawa lepas. Mungkin ini terakhir kalinya Dinda melihat Denis tertawa karnanya dan bersamanya. Dinda menatap wajah Denis lekat-lekat. Ia mencoba mengingat setiap lekuk wajah Denis. Jika Tuhan tak mengizinkannya untuk memiliki Denis, maka biarkanlah Dinda memiliki kenangan tentang Denis. Tetapi Dinda tak ingin mengingat kenangan ini setiap saat. Biarkanlah hujan menyimpan kenangan antara Dinda dan Denis.
Tanpa sadar Dinda menitihkan setetes air matanya. Dia berbalik membelakangi Denis. Pundaknya bergetar hebat. Tangisannya benar-benar tak bisa ditahan lagi. Suara tangisnya pecah diantara lebatnya hujan. Denis segera menghentikan tawanya. Dia menatap punggung itu. Punggung gadis yang dulu sempat menjadi tempat pertama saat sedih maupun senang. Denis tahu betapa rapuhnya gadis ini.
Dinda segera menghapus air matanya. Mengatur suaranya agar tak bergetar saat berbicara dengan Denis nantinya. Dinda membalikkan tubuhnya dan tersenyum kaku saat melihat Denis. Denis membalas senyuman Dinda dengan tulus. Dinda tak tahu harus bagaimana atas sesuatu yang telah berakhir. Yang terbesit di benaknya adalah betapa bodohnya dia. Dinda juga tahu bahwa hujan akan membawanya pada kenangan antara dia dan Denis, tetapi pada saat hujan berhenti kenangan itu sedikit demi sedikit akan menghilang.
Dinda beranjak dari duduknya. Begitu juga dengan Denis.
“Sepertinya aku harus pulang. Hujannya semakin deras. Dan kamu juga harus pulang.” kata Dinda.
“Aku harap setelah hujan ini akan ada pelangi. Pelangi yang menghubungkan aku dengan pasanganku, dan kamu dengan pasanganmu.” sambungnya.
Dinda pergi meninggalkan Denis lebih dahulu. Dinda kini sadar bahwa tak selamanya pangeran baik untuknya. Dan hujan? Terimakasih untuk hujan karena bersedia menjadi pengingat kenangan yang Dinda miliki.








Wednesday, January 8, 2014

MAKNA DI BALIK MAULID NABI

أهلا وسهلا بحضوركم في صفحتنا. نرجو من الله أن تكون نافعة لصاحبها وقارئيها ومشاركيها. آمين
MAKNA DI BALIK MAULID NABI
Di Negara kita, perayaan maulid
Nabi Muhammad saw sudah menjadi rutinitas tahunan. Hampir seluruh lapisan masyarakat islam memperingatinya, mulai dari istana negara sampai sudut mushala. Sebagian muslimin bahkan memperingati maulid Nabi saw pada tiap malam senin ataupun jum'at. Maulid Nabi saw biasanya diperingati dengan berkumpulnya beberapa orang membaca al-Quran dan kisah teladan nabi saw sepanjang hidupnya. Kisah itu biasanya berupa karya prosa maupun puisi yang berbahasa arab. Tidak jarang pula acara peringatan maulid diisi dengan ceramah agama.  Beberapa daerah di Indonesia memiliki ciri khas dalam merayakan maulid nabi, seperti Jogjakarta yang terkenal dengan grebek maulid, Surakarta dengan sekaten, dan Banyuwangi dengan endog-endog'an nya.
Rabi'ul Awal sebelum kelahiran baginda Nabi saw, merupakan bulan yang tidak memilki keistimewaan bagi orang arab. Berbeda halnya dengan asyhur al-hurum, yang telah di-nash kemuliannya oleh Allah swt dalam surah al-taubah;36 serta diagungkan oleh bangsa arab kala itu dengan melakukan gencatan senjata pada bulan-bulan tersebut, yaitu bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Menarik juga mengapa Nabi Muhammad saw tidak dilahirkan pada bulan-bulan tersebut. Padahal bulan muharram adalah bulan penuh keutamaan dengan diselamatkannya beberapa nabi terdahulu. Menurut As-Sayid Muhammad Alawi al-Maliki, Allah swt menjadikan bulan Rabi'ul Awwal sebagai bulan kelahiran nabi agar keistimewaan dan keutamaan nabi muhammad muncul dari diri beliau. Jika nabi saw dilahirkan pada salah satu bulan asyhurul hurum  maka seakan-akan keutamaan Nabi saw bersumber dan mengikut pada keutamaan dan keistimewaan bulan-bulan tersebut. Setelah Nabi saw dilahirkan pada bulan Rabi'ul Awal, bulan yang asalnya tidak memilki keistimewaan ini menjadi istimewa dan mulia berkat kelahiran Nabi saw pada bulan itu. Hal ini juga terjadi pada hari kelahiran nabi, yaitu hari senin.  Dahulu, orang arab hanya mengetahui kemulyaan dan keutamaan bagi hari jum'at. Setelah nabi lahir pada hari senin, hari itu menjadi mulia dan istimewa berkat nabi saw.
Sebagian ahli sejarah mencatat Al-Mudzaffar Abu Sa'id Kaukabari (W. 360 H) sebagai orang yang pertama kali memperingati Maulid Nabi saw, ia adalah seorang penguasa daerah Irbil yang masuk dalam wilayah Mosul, Iraq. Sejarawan islam, Ibnu Katsir menceritakan bahwa sosok penguasa Irbil ini setiap bulan Rabi'ul Awal memperingati maulid Nabi dengan perayaan yang begitu semarak.
  Memperingati maulid nabi Muhammad saw memiliki beberapa nilai dan makna, diantaranya: Pertama, nilai spiritual. Setiap insan muslim akan mampu menumbuhkan dan menambah rasa cinta pada beliau saw dengan maulid. Luapan kegembiraan terhadap kelahiran nabi saw merupakan bentuk cerminan rasa cinta dan penghormatan kita terhadap Nabi pembawa rahmat bagi seluruh alam sebagaimana surah Yunus; 58. Karena figur teladan ini diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh alam (surah al-Anbiya'; 107). Kegembiraan Abu Lahab dengan kelahiran Nabi saw saja dapat mengurangi siksa neraka yang ia cicipi tiap hari senin. Apalagi kegembiraan itu disertai dengan keimanan. Dengan memperingati maulid, kita akan sendirinya ingat dengan perintah bershalawat kepada Nabi saw. Allah swt dan malaikat pun telah memberi contoh bagi kita dengan selalu bershalawat kepada beliau saw (surah al-Ahzab;56).        
Kedua, nilai moral dapat dipetik dengan menyimak akhlak terpuji dan nasab mulia dalam kisah teladan Nabi Muhammad saw. Mempraktikan sifat-sifat terpuji yang bersumber dari Nabi saw adalah salah satu tujuan dari dutusnya Nabi saw. Dalam peringatan maulid Nabi saw, kita juga bisa mendapat nasehat dan pengarahan dari ulama agar kita selalu berada dalam tuntunan dan bimbingan agama.
Keempat, nilai sosial. Memulyakan dan memberikan jamuan makanan para tamu, terutama dari golongan fakir miskin yang menghadiri majlis maulid sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta. Hal ini sangat dianjurkan oleh agama, karena memiliki nilai sosial yang tinggi (surah al-Insan;8-9).
Kelima, nilai persatuan akan terjalin dengan berkumpul bersama dalam rangka bermaulid dan bershalawat  maupun berdzikir. Diceritakan bahwa Shalahuddin al-Ayubi mengumpulkan umat islam dikala itu untuk memperingati maulid Nabi saw. Hal itu dilakukan oleh panglima islam ini bertujuan untuk mempersolid kekuatan dan persatuan pasukan islam dalam menghadapi perang salib di zaman itu.
Semoga dengan memperingati Maulid Baginda Nabi saw kita dapat memetik nilai-nilai positif.

Tuesday, January 7, 2014

Ke Istimewaan Maulid Nabi Muhamad SAW

Mengistimewakan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw.

Al kisah dijaman Khalifah Harun ar Rasyid ada seorang pemuda yang mempunyai kelakuan buruk di kota Bashrah, penduduk kota memandang rendah padanya, karena perilakunya itu. Hanya saja, pemuda ini mempunyai kebiasaan unik; setiap bulan Rabi'ul Awal tiba (bulan Maulid), dia menyambutnya dengan suka cita, membersihkan badan, memakai pakaian yang rapi, mengadakan walimah, dan membaca kisah maulid Nabi Saw. dalam acara itu.

Kebiasaan itu berlansung dalam waktu yang lama. Pada saat pemuda itu wafat penduduk kota mendengar suara dari angkasa; 'wahai penduduk kota Bashrah datanglah, dan layatlah wali Allah Swt. Sebab dia memiliki kududukan terhormat disisi-Ku. Kemudian penduduk kota melayat, dan menghadiri pemakaman pemuda itu. Pada saat penduduk Bashrah tidur, mereka bermimpi melihat pemuda itu berjalan dengan gagahnya diatas hamparan kain sutra.  

Pemuda itu ditanya, dengan apa engkau mendapat keutamaan ini? Dia menjawab dengan mengagungkan dan mengistimewakan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw.

Membaca maulid Nabi Saw

Dikisahkan pada masa Khalifah Abd Malik bin Marwan ada seorang pemuda yang berwajah tampan dan berperawakan menawan di Kota Syam (syiria). Dia mempunyai kebiasaan menunggang kuda. Suatu hari, kuda yang dia tungganginya lari dengan kecang, dia tidak mampu menghentikan kudanya itu.Kuda tersebut berlari kearah rumah khalifah, dan menabrak putra sang khalifah, hingga akhirnya wafat. Kejadian itu sampai ke telinga khalifah. 

Lalu khalifah menyuruh si pemuda di datangkan kehadapannya. Ketika pemuda itu hampir tiba di hadapan khalifah dia berkata dalam hati; 'seandainya Allah Taala menyelamatkanku dari kasus ini, aku akan menyelenggarakan  walimah yang meriah dan aku akan membaca maulid Nabi Saw. pada acara itu.

Setelah pemuda sampai ke hadapan khalifah, khalifah memandanginya.  Lalu khalifah tertawa setelah terbakar api amarah. Kemudian khalifah bertanya;
'hai pemuda kau pandai ilmu sihir ya? Tanya khalifah sambil tersenyum.
'Tidak, demi Allah duhai Amirul mukminin', jawab si pemuda.
Khalifah berkata: 'Aku telah memafkanmu, tapi katakan padaku kau membaca apa?
Aku berkata dalam hati, seandainya Allah Taala menyelamatkanku dari kejadian yang menakutkan ini, aku akan mengadakan walimah maulid Nabi Saw., jawab sipemuda.

JANJI TERAKHIR





Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia., meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Elga, meskipun dia sering menghianati cintaku.

“Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!”

Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan Dia memelukku erat.

“Maafin aku Nilam, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Nilam. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Elga, aku sangat mencintainya.

Malam ini Elga menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun biru pemberian Elga dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Elga di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.

“Nilam, kamu cantik banget malam ini.”

“Makasih. Kita jadi dinner kan?”

“Ya tentu, tapi Nilam, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?”

“Engga ko, ya udah kita panggil Taksi aja, ayo.”

Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Elga. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Elga menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Elga menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Elga perbuat padaku.

Kami berhenti disebuah Tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Elga benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Elga, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan.

“Kenapa El? Mienya gak enak?”

“Enggak ko, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini Nilam?”

“Enggak. Aku sering ko makan ditempat kaya gini. Mie ayamnya enak loch. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”

Aku yakin, Elga gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Elga mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal.
Dua tahun bersama Elga bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Elga sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Elga berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku wanita bodoh yang mau dipermainkan oleh Elga. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.

Selesai makan Elga Nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.

“Apa dompetku ketinggalan di Taksi?”

“Yakin di saku gak ada?”

“Gak ada. Gimana dong?”

“ya udah, pake uang aku aja. Setiap jalan selalu kamu yang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir kamu. Ok!”

“ok. Makasih ya sayang, maafin aku.”

Saat di kampus, aku bertemu dengan Alin dan Flora. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Alin menarik tanganku.

“Nilam, kamu sakit? Ko pucet sich?”

Alin bicara padaku, ini seperti mimpi, Alin masih peduli padaku.

“Engga, Cuma capek aja ko Lin. Kalian apa kabar?”

“Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sich dimainin sama cowok playboy kaya Elga! Jangan-jangan Elga gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.”

“Stop Flo! Kasian Nilam! Kamu kenapa sich Flo bahas itu mulu? Nilam kan gak salah.”
“Udah dech Alin, kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Nilam! Kenapa kamu diselingkuhin terus!”

Flora bener, jangan-jangan Elga gak sayang sama aku, Elga gak cinta sama aku, itu yang buat Elga selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Elga dan takut kehilangan Elga. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Elga padaku. Jika benar Elga tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.

Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Elga bersama seorang wanita. Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Elga menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat wanitaitu, sangat jelas, dia sahabatku, Flora….

Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Elga. Akan ku pastikan, apa Elga akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Elga.

“Hallo, kamu bisa jemput aku sekarang El?”

“Maaf Nilam, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu gak bawa mobil ya?”

“Emang kakak kamu mau kemana El?”

“Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?”

“El! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja? Sejak Flora jadi kakak kamu? Hah?!!”

“Nilam, kamu ngomong apa sayang? Kamu bilang sekarang lagi dimana?”

“Aku liat sendiri kamu pergi sama Flora El! Kamu gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin kamu El! Kenapa kamu harus selingkuh sama Flora El? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi! Kita Putus El!”

“Nilam, ini gak…….”

Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Elga tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.

Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Elga, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Elga datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Elga sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan Elga, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Elga yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari.

Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Elga. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Elga ada dihadapanku.

“Maafin aku Nilam! Aku sama Flora gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Nilam!

“Kita udah putus El! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu bebas! Kamu mau punya pacar Tujuh juga bukan urusan aku!”

“Tapi Nilam…..”

Aku berlari meninggalkan Elga, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Elga terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan…………

“Elgaaaa…..”

Elga tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepala Elga.

“Elga, maafin aku!”

“Nilam. Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”

“Elgaaaaaa……”

Elga meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Elga semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Elga menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan.
Rasanya ingin sekali menemani Elga didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

Satu minggu setelah Elga meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersama Elga yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyuman Elga, tatapan Elga, takan pernah bisa kulupakan.

“Nilam sayang, ini ada titipan dari Ibunya Elga. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Elga tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!”

“Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.”

Kubuka bingkisan dari Ibu Elga, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.

    Dear Nilam,
    Nilam sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo Cuma kamu yang terbaik buat aku, Cuma kamu yang aku cinta.
    Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
    Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Nilam.
    Love You
    Elga


Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Elga, aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.

“Bu, aku udah nikah sama Elga!”

“Nilam, kenapa sayang?”

“Ini!” Kutunjukan cincin pemberian Elga dijari manisku.

“Nilam, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”

“Sekarang aku mau cerai sama Elga Bu!” kulepas cincin pemberian Elga dan memberikannya pada Ibu.

“Aku titip cincin pernikahanku dengan Elga Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!”
Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.