Kisah-kisah agung dari Nabi Ibrahim
‘alaihissalam adalah peneguhan nyata akan tauhid. Ketaatan dan keimanan
yang luar biasa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mewujud pada tindakan
yang niscaya akan teramat berat ditunaikan manusia pada umumnya. Sebuah
keteladanan yang mesti kita tangkap dan nyalakan dalam kehidupan kita.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah seorang teladan yang baik. Perjalanan
hidupnya selalu berpijak di atas kebenaran dan tak pernah
meninggalkannya. Posisinya dalam agama amat tinggi (seorang imam) yang
selalu patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mempersembahkan
segala ibadahnya hanya untuk-Nya semata. Beliau pun tak pernah lupa
mensyukuri segala nikmat dan karunia ilahi. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan
lagi patuh kepada Allah dan selalu berpegang kepada kebenaran serta tak
pernah meninggalkannya (hanif). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk
orang-orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia pun selalu
mensyukuri nikmat-nikmat Allah.” (An-Nahl: 120-121)
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan sosok pembawa panji-panji tauhid.
Perjalanan hidupnya yang panjang sarat dengan dakwah kepada tauhid dan
segala liku-likunya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan beliau
sebagai teladan dalam hal ini, sebagaimana dalam firman-Nya:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي
إِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا
بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ كَفَرْنَا
بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ
أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ إِلاَّ قَوْلَ إِبْرَاهِيْمَ
لِأَبِيْهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ
شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ
الْمَصِيْرُ.
رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim
dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaumnya:
‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah
selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian serta telah nyata antara
kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai
kalian beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada
bapaknya; ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku
tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah’. (Ibrahim
berkata): ‘Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan
hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami
kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah
bagi orang-orang kafir, dan ampunilah kami ya Rabb kami, sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Mumtahanah: 4-5)
Demikian pula, beliau selalu mengajak umatnya kepada jalan Allah
Subhanahu wa Ta’ala serta mencegah mereka dari sikap taqlid buta
terhadap ajaran sesat nenek moyang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِذْ قَالَ لِأَبِيْهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيْلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُوْنَ.
قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِيْنَ.
قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ.
قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللاَّعِبِيْنَ.
قَالَ بَل رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ.
وَتَاللهِ لَأَكِيْدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِيْنَ.
فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلاَّ كَبِيْرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ
“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya:
‘Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadah kepadanya?’ Mereka
menjawab: ‘Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.’ Ibrahim
berkata: ‘Sesungguhnya kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam
kesesatan yang nyata.’ Mereka menjawab: ‘Apakah kamu datang kepada kami
dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang
bermain-main?’ Ibrahim berkata: ‘Sebenarnya Rabb kalian adalah Rabb
langit dan bumi, Yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang
yang bisa memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah,
sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala
kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya.’ Maka Ibrahim membuat
berhala-berhala itu hancur berkeping-keping kecuali yang terbesar
(induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk
bertanya) kepadanya.” (Al-Anbiya`: 52-58)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya, menunjukinya kepada jalan yang
lurus, serta mengaruniakan kepadanya segala kebaikan dunia dan akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ.
وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي اْلآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِيْنَ
“Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan
Kami karuniakan kepadanya kebaikan di dunia dan sesungguhnya dia di
akhirat termasuk orang-orang yang shalih.” (An-Nahl: 121-122)
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkatnya sebagai khalil (kekasih). Sebagaimana dalam firman-Nya:
وَاتَّخَذَ اللهُ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً
“Dan Allah mengangkat Ibrahim sebagai kekasih.” (An-Nisa`: 125)
Dengan sekian keutamaan itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala wahyukan
kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti agama
beliau ‘alaihissalam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim
seorang yang hanif.’ Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Allah.” (An-Nahl: 123)
Demikianlah sekelumit tentang perjalanan hidup Nabi Ibrahim
‘alaihissalam dan segala keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala
karuniakan kepadanya. Barangsiapa mempelajarinya dengan seksama
(mentadabburinya) niscaya akan mendulang mutiara hikmah dan pelajaran
berharga darinya. Terkhusus pada sejumlah momen di bulan Dzulhijjah yang
hakikatnya tak bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Beberapa Amalan Mulia di Bulan Dzulhijjah
Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam. Karena di
dalamnya terdapat amalan-amalan mulia; shaum Arafah, haji ke Baitullah,
ibadah qurban, dan lain sebagainya, yang sebagiannya tidak bisa
dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Di antara amalan mulia
tersebut adalah:
a) Haji ke Baitullah
Haji ke Baitullah merupakan ibadah yang sangat mulia dalam agama Islam.
Kemuliaannya nan tinggi memosisikannya sebagai salah satu dari lima
rukun Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ:
شَهَادَةِ
أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ،
وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ،
وَحَجِّ الْبَيْتِ
“Agama Islam dibangun di atas lima perkara; bersyahadat bahwasanya tidak
ada yang berhak diibadahi kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beliau
Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, shaum di
bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan
Muslim no.16, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma)
Ibadah haji yang mulia ini tidaklah bisa dipisahkan dari sosok Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam. Terlebih tatkala kita menyaksikan jutaan umat
manusia yang datang berbondong-bondong dari segenap penjuru yang jauh
menuju Baitullah, menyambut panggilan ilahi dengan lantunan talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ
لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ
وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
“Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu
bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan
kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”
Hal ini mengingatkan kita akan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ.
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
“Dan berserulah (wahai Ibrahim) kepada manusia untuk mengerjakan haji,
niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai
unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya
mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.” (Al-Hajj: 27-28)
Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata: “Ibadah haji mempunyai hikmah
yang besar, mengandung rahasia yang tinggi serta tujuan yang mulia, dari
kebaikan duniawi dan ukhrawi. Sebagaimana yang dikandung firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala:
لِِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
“Untuk menyaksikan segala yang bermanfaat bagi mereka.” (Al-Hajj: 28)
Haji merupakan momen pertemuan akbar bagi umat Islam seluruh dunia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala pertemukan mereka semua di waktu dan tempat
yang sama. Sehingga terjalinlah suatu perkenalan, kedekatan, dan saling
merasakan satu dengan sesamanya, yang dapat membuahkan kuatnya tali
persatuan umat Islam, serta terwujudnya kemanfaatan bagi urusan agama
dan dunia mereka.” (Taudhihul Ahkam, juz 4 hal. 4)
Lebih dari itu, ibadah haji mempunyai banyak hikmah dan pelajaran
penting yang apabila digali rahasianya maka sangat terkait dengan agama
dan sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, baik dalam hal keimanan, ibadah,
muamalah, dan akhlak yang mulia. Di antara hikmah dan pelajaran penting
tersebut adalah:
1. Perwujudan tauhid yang murni dari noda-noda kesyirikan dalam hati sanubari, manakala para jamaah haji bertalbiyah.
2. Pendidikan hati untuk senantiasa khusyu’, tawadhu’, dan penghambaan
diri kepada Rabbul ‘Alamin, ketika melakukan thawaf, wukuf di Arafah,
serta amalan haji lainnya.
3. Pembersihan jiwa untuk senantiasa ikhlas dan bersyukur kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, ketika menyembelih hewan qurban di hari-hari haji.
4. Kepatuhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan Rasul-Nya tanpa diiringi rasa berat hati, ketika mencium Hajar
Aswad dan mengusap Rukun Yamani.
5. Tumbuhnya kebersamaan hati dan jiwa ketika berada di tengah-tengah
saudara-saudara seiman dari seluruh penjuru dunia, dengan pakaian yang
sama, berada di tempat yang sama, serta menunaikan amalan yang sama pula
(haji). (Lihat Durus ‘Aqadiyyah Mustafadah Min Al-hajj)
b) Menyembelih Hewan Qurban
Menyembelih hewan qurban pada hari raya Idul Adha (tanggal 10
Dzulhijjah) dan hari-hari tasyriq (tanggal 11,12, 13 Dzulhijjah)
merupakan amalan mulia dalam agama Islam. Di antara bukti kemuliaannya
adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa
melakukannya semenjak berada di kota Madinah hingga wafatnya.
Sebagaimana yang diberitakan sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu
’anhuma:
أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِيْنَةِ عَشْرَ سِنِيْنَ يُضَحِّي
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun tinggal di kota
Madinah senantiasa menyembelih hewan qurban.” (HR. Ahmad dan
At-Tirmidzi, dia -At-Tirmidzi- berkata: ‘Hadits ini hasan’)
Penyembelihan hewan qurban, bila dirunut sejarahnya, juga tidak lepas
dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putra beliau Nabi Ismail
‘alaihissalam. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beritakan
dalam kitab suci Al-Qur`an:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا
بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا
تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ
مِنَ الصَّابِرِيْنَ.
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ.
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيْمُ.
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ.
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاَءُ الْمُبِيْنُ.
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ.
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي اْلآخِرِيْنَ.
سَلاَمٌ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
“Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai (pada umur sanggup) untuk
berusaha bersama-sama Ibrahim, berkatalah Ibrahim: ‘Hai anakku,
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka
pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, lakukanlah apa
yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan
Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah
kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya
kamu telah membenarkan mimpi itu,’ sesungguhnya demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini
benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan
seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian
yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)
‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (Ash-Shaffat: 102-109)
Demikianlah sosok Ibrahim, yang senantiasa patuh terhadap segala sesuatu
yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepadanya walaupun berkaitan
dengan diri sang anak yang amat dicintainya. Tak ada keraguan sedikit
pun dalam hatinya untuk menjalankan perintah tersebut. Ini tentunya
menjadi teladan mulia bagi kita semua, dalam hal ketaatan kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Da’i (Pegiat Dakwah)
Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengandung banyak pelajaran
berharga bagi para da’i. Di antara pelajaran berharga tersebut adalah:
a) Para da’i hendaknya membangun dakwah yang diembannya di atas ilmu
syar’i. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
ketika mendakwahi ayahnya (dan juga kaumnya):
يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا
“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian dari ilmu
yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan
menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (Maryam: 43)
Dan demikianlah sesungguhnya jalan dakwah yang ditempuh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang uswatun hasanah. Sebagaimana firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ
عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا
مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Inilah jalanku, aku berdakwah di jalan
Allah di atas ilmu, demikian pula orang-orang yang mengikuti jejakku.
Maha Suci Allah dan aku tidaklah termasuk orang-orang musyrik’.” (Yusuf:
108)
b) Para da’i hendaknya berupaya menyampaikan kebenaran yang diketahuinya
secara utuh kepada umat, serta memperingatkan mereka dari segala bentuk
kebatilan dan para pengusungnya. Kemudian bersabar dengan segala
konsekuensi yang dihadapinya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah
Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
وَإِبْرَاهِيْمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوْهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ.
إِنَّمَا
تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُوْنَ إِفْكًا إِنَّ
الَّذِيْنَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ لاَ يَمْلِكُوْنَ لَكُمْ
رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوا
لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ.
وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِيْنُ
“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Beribadahlah
kalian kepada Allah semata dan bertaqwalah kalian kepada-Nya. Yang
demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mau mengetahui.
Sesungguhnya apa yang kalian ibadahi selain Allah itu adalah berhala,
dan kalian telah membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain
Allah itu tidak mampu memberi rizki kepada kalian, maka mintalah rizki
itu dari sisi Allah dan beribadahlah hanya kepada-Nya serta bersyukurlah
kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan. Dan jika
kalian mendustakan, maka umat sebelum kalian juga telah mendustakan dan
kewajiban Rasul itu hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan
seterang-terangnya.” (Al-‘Ankabut: 16-18)
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun tetap bersabar dan istiqamah di atas
jalan dakwah manakala umatnya melancarkan segala bentuk penentangan dan
permusuhan terhadapnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ
قَالُوا اقْتُلُوْهُ أَوْ حَرِّقُوْهُ فَأَنْجَاهُ اللهُ مِنَ النَّارِ
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ
“Maka tidak ada lagi jawaban kaum Ibrahim selain mengatakan: ‘Bunuhlah
atau bakarlah dia!’, lalu Allah menyelamatkannya dari api (yang
membakarnya). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” (Al-‘Ankabut: 24)
Demikian pula Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
perjalanan dakwah beliau merupakan simbol kesabaran di alam semesta ini.
Sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan teladan bagi para da’i secara
khusus dan masing-masing individu secara umum dalam hal kepedulian
terhadap kondisi umat dan negeri. Hal ini sebagaimana yang tergambar
pada kandungan doa Nabi Ibrahim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan
dalam Al-Qur`an:
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ أَمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ
“Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan
berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di
antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-Baqarah: 126)
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Orangtua
Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, merupakan cermin bagi para
orangtua dalam perkara pendidikan dan agama anak cucu mereka. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيْمُ بَنِيْهِ
وَيَعْقُوْبُ يِا بَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan kalimat itu kepada anak-anaknya, demikian
pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah
telah memilihkan agama ini bagi kalian, maka janganlah sekali-kali
kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam’.” (Al-Baqarah:
132)
Bahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tak segan-segan berdoa dan memohon
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk keshalihan anak cucunya,
sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan dalam Al-Qur`an:
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ اْلأَصْنَامَ
“Wahai Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan
jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari perbuatan menyembah berhala.”
(Ibrahim: 35)
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Wahai Rabbku, jadikanlah aku beserta anak cucuku orang-orang yang
selalu mendirikan shalat. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doaku.” (Ibrahim:
40)
Setiap orangtua mengemban amanat besar untuk menjaga anak cucu dan
keluarganya dari adzab api neraka. Sehingga dia harus memerhatikan
pendidikan, agama dan ibadah mereka. Sungguh keliru, ketika orangtua
acuh tak acuh terhadap kondisi anak-anaknya. Yang selalu diperhatikan
justru kondisi fisik dan kesehatannya, sementara perkara agama dan
ibadahnya diabaikan. Ingatlah akan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari adzab api neraka.” (At-Tahrim: 6)
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Anak
Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mengandung pelajaran
berharga bagi para anak, karena beliau adalah seorang anak yang amat
berbakti kepada kedua orangtuanya serta selalu menyampaikan kebenaran
kepada mereka dengan cara yang terbaik. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
إِذْ قَالَ لِأَبِيْهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لاَ يَسْمَعُ وَلاَ يُبْصِرُ وَلاَ يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا.
يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا.
يَا أَبَتِ لاَ تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا.
يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا
“Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya: ‘Wahai bapakku,
mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada dapat mendengar, tiada pula
dapat melihat dan menolongmu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya
telah datang kepadaku sebagian dari ilmu yang tidak datang kepadamu.
Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang
lurus. Wahai bapakku, janganlah menyembah setan, sesungguhnya setan itu
durhaka kepada Allah Dzat Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya
aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa adzab dari Allah Dzat Yang Maha
Pemurah, maka engkau akan menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 42-45)
Ketika sang bapak menyikapinya dengan keras, seraya mengatakan (sebagaimana dalam ayat):
أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيْمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak
berhenti (dari menasihatiku) niscaya kamu akan kurajam! Dan
tinggalkanlah aku dalam waktu yang lama.” (Maryam: 46)
Maka dengan tabahnya Ibrahim ‘alaihissalam menjawab:
سَلاَمٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا
“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun
bagimu kepada Rabbku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (Maryam:
47)
Demikianlah seyogianya seorang anak kepada orangtuanya, selalu berupaya
memberikan yang terbaik di masa hidupnya serta selalu mendoakannya di
masa hidup dan juga sepeninggalnya.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Suami-Istri
Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mengandung pelajaran
berharga bagi para suami-istri, agar selalu membina kehidupan rumah
tangganya di atas ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini tercermin
dari dialog antara Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan istrinya yang
bernama Hajar, ketika Nabi Ibrahim membawanya beserta anaknya ke kota
Makkah (yang masih tandus dan belum berpenghuni) atas perintah Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau
berkata: “Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan sang putra Ismail –dalam
usia susuan– menuju Makkah dan ditempatkan di dekat pohon besar, di atas
(bakal/calon) sumur Zamzam di lokasi (bakal) Masjidil Haram. Ketika itu
Makkah belum berpenghuni dan tidak memiliki sumber air. Maka Ibrahim
menyiapkan satu bungkus kurma dan satu qirbah/kantong air, kemudian
ditinggallah keduanya oleh Ibrahim di tempat tersebut. Hajar, ibu Ismail
pun mengikutinya seraya mengatakan: ‘Wahai Ibrahim, hendak pergi kemana
engkau, apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tak
berpenghuni ini?’ Dia ulang kata-kata tersebut, namun Ibrahim tidak
menoleh kepadanya. Hingga berkatalah Hajar: ‘Apakah Allah yang
memerintahkanmu berbuat seperti ini?’ Ibrahim menjawab: ‘Ya.’ Maka
(dengan serta-merta) Hajar mengatakan: ‘Kalau begitu Dia (Allah) tidak
akan menyengsarakan kami.’ Kemudian Hajar kembali ke tempatnya semula.”
(Lihat Shahih Al-Bukhari, no. 3364)
Atas dasar itulah, seorang suami harus berupaya membina istrinya dan
menjaganya dari adzab api neraka. Demikian pula sang istri, hendaknya
mendukung segala amal shalih yang dilakukan suaminya, serta
mengingatkannya bila terjatuh dalam kemungkaran.
Para pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
demikianlah mutiara hikmah dan pelajaran berharga dari perjalanan hidup
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang menyentuh beberapa elemen penting dari
masyarakat kita. Semoga kilauan mutiara hikmah tersebut dapat menyinari
perjalanan hidup kita semua, sehingga tampak jelas segala jalan yang
mengantarkan kepada Jannah-Nya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.