My Blog List

My Blog List

link Facebook "Doel Mahessa Jeenar"

Tuesday, January 21, 2014

Kisah Cinta Qais Yang Tergila-Gila Karena Cinta ,,Dan Laila Yang Menyembunyikan Segenap Cintanya Dalam Hatinya

Sahabatku,,selama ini mungkin kita sering sekali mendengar kisah kisah tentang cinta abadi,Seperti Syirin & farhat,Romeo & juliet,,bahkan Sering sekali kita mendengar kisah Cinta abadi Seorang Qais { majnun ) & Laila...Tapi mungkin sahabat belum pernah Membaca bagaimana kisah selengkapnya tentang perjalanan cinta Mereka.Berikut Doel mencoba mengambil kisah Perjalanan Cinta "Qais & Laila"Selamat membaca...................
http://tausyah.wordpress.com/Majnun-Laila
Majnun (Qais) dan Laila

Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiliki segala macam yang diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tak punya seorang anakpun. Tabib-tabib di desa itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil.
Ketika semua usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka berdua. “Mengapa tidak?” jawab sang kepala suku. “Kita telah mencoba berbagai macam cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya.”
Mereka pun bersujud kepada ALLAH, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang terluka. “Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami.”
Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan ALLAH menganugerahi mereka seorang anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian dan kekaguman.
Sejak awal, Qais telah memperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan musik, menggubah syair dan melukis.
Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.
Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam; karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-”Sang Malam”. Meski ia baru berusia dua belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni sembilan tahun.
Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudah saling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi tempat belajar.
Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.
Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka, mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu pada masyarakat sekitar.
Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan.
http://tausyah.wordpress.com/laila-majnun
Kisah Cinta
Ia hanya berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, ” Lihatlah Qais , ia sekarang telah menjadi seorang majnun, gila!”
Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia pasti akan menjumpai Majnun.
Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun duduk-duduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju desa itu.
Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.
Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.
Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.
Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad membantunya untuk berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.
Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar suara Qais didalamnya.
Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang cintanya.
Pada hari ketika Majnun masuk ke rumah Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh.
Bibirnya diberi yang seperti lipstick merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu. Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi.
Majnun berdiri di pintu selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajah Laila. Akhirnya, mereka bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecuali detak jantung kedua orang yang dimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan lupa waktu.
Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun di luar kamar tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salah seorang pengawal. Namun, ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dan kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah orang-tuanya bertanya kepada Laila, maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Kebisuan dan kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala sesuatunya.
Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiap pintu di rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumah Laila, bahkan dari kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan bertindak hati-hati ini ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu sama lain, sungguh ia salah besar.
Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untuk mengakhiri drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuah kafilah penuh dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pun disambut dengan sangat baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang tentang kebahagiaan anak-anak mereka.
Ayah Majnun lebih dulu berkata, “Engkau tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu “Cinta dan Kekayaan”.
Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia dan menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, “Bukannya aku menolak Qais.
Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan terhormat,” jawab ayah Laila. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis.
Ia pasti sudah lama tidak mandi dan iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. “Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”
Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu anaknya adalah teladan utama bagi awan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anak yang paling cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya.
Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya. Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Majnun. “Aku tidak akan diam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,” pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”
Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta makan malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu, gadis-gadis tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa mengalihkan perhatian Majnun dari Laila, pikir ayahnya.
Di pesta itu, Majnun diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk mencari pada diri mereka berbagai kesamaan dengan yang dimiliki Laila. Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnya punya rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum mirip Laila.
Namun, tak ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya, Malahan, tak ada seorang pun yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta itu hanya menambah kepedihan perasaan Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berang dan marah serta menyalahkan setiap orang di pesta itu lantaran berusaha mengelabuinya.
Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnya sebagai berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hingga akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini, ayahnya memutuskan agar Qais dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah dengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang menghancurkan ini.
Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah, tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.” Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk anaknya.
Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orang banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia tidak kembali ke gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggal direruntuhan sebuah bangunan tua yang terasing dari masyarakat dan tinggal didalamnya.
Sesudah itu, tak ada seorang pun yang mendengar kabar tentang Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan keluarganya untuk mencarinya. Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak orang berkesimpulan bahwa Majnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai hilang ditelan bumi.
Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada sesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan rambut panjang hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya compang-camping dan kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak beroleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di kakinya.
“Hus” katanya, ‘Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah kejauhan. Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa yang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu bahwa ini adalah Majnun yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya dibicarakan orang di seluruh jazirah Arab.
Tampaknya, Majnun tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari kehidupan liar dan buas itu.
Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui bahwa Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas seperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sang musafir itu mendengarkan Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya pada Laila.
Mereka berbagi sepotong roti yang diberikan olehnya. Kemudian, sang musafir itu pergi dan melanjutkan petjalanannya. Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya, sang kepala suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir ke rumahnya dan meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira dan bahagia bahwa Majnun masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk menjemputnya.
Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah Majnun dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknya terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini. “Ya Tuhanku, aku mohon agar Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sang ayah menyayat hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya.
Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan beban kesedihan ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk mencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis. Inilah pertemuan terakhir mereka.
Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menangani situasi putrinya. Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruh keluarga. Karenanya, orangtua Laila memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabat Laila diizinkan untuk mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia berpaling kedalam hatinya, memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya.
http://tausyah.wordpress.com/Sedih
kesedihan
Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang terdalam, ia menulis dan menggubah syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan kertas kecil. Kemudian, ketika ia diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan potongan-potongan kertas kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan syair-syair dalam potongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan cara demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.
Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang mengunjunginya. Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu bahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannya melantunkan syair-syair indah dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau.
Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahu tentang kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dan kasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalah seorang ksatria gagah berani bernama ‘Amar, yang berjumpa dengan Majnun dalam perjalanannya menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat terkenal itu di kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.
Drama kisah tragis itu membuatnya sedemikian pilu dan sedih sehingga ia bersumpah dan bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan dua kekasih itu, meskipun ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya! Kaetika Amr kembali ke kota kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukan ini berangkat menuju desa Laila dan menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyak orang yang terbunuh atau terluka.
Ketika pasukan ‘Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkan pesan kepada ‘Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkan putriku, aku akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau ingin membunuhnya, aku tidak keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kuterima, jangan minta aku untuk memberikan putriku pada orang gila itu”.
Majnun mendengar pertempuran itu hingga ia bergegas kesana. Di medan pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di antara para prajurit dan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat mereka dengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.
Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapa ia membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, “Orang-orang ini berasal dari desa kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?” Karena sedemikian bersimpati kepada Majnun, ‘Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini.
Apa yang dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia pun memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.
Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ia nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannya menuju taman, Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila dan serta-merta jatuh cinta kepadanya.
Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencari ayah Laila. Merasa lelah dan sedih hati karena pertempuran yang baru saja menimbulkan banyak orang terluka di pihaknya, ayah Laila pun menyetujui perkawinan itu. Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebih senang mati ketimbang kawin dengan orang itu.”
Akan tetapi, tangisan dan permohonannya tidak digubris. Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama saja keadaannya. Perkawinan pun berlangsung dalam waktu singkat. Orangtua Laila merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga.
Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisa mencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karena itu, jangan membuang-buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin, masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia.”
Sekalipun mendengar kata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapa waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan menerimanya. Ia tidak mau memaksa Laila, melainkan menunggunya untuk datang kepadanya.
Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis dan meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayat hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikut menangis. Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yang berkumpul di sekelilinginya pun turut bersedih.
Namun, kesedihannya ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian dan ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, ia pun terus tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan malah menjadi semakin lebih dalam lagi.
Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atas perkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya meminta satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku, sekalipun engkau telah memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah lupa bahwa ada seseorang yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya akan memanggil-manggil namamu, Laila”.
Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda pengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalam hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau membakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu” .
“Kini, aku harus menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk cinta, engkau ataukah aku?.
Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetap tinggal di reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbang sebelumnya. Di siang hari, ia mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat binatangnya. Di malam hari, ia memainkan serulingnya dan melantunkan syair-syairnya kepada berbagai binatang buas yang kini menjadi satu-satunya pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan ranting di atas tanah.
Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia mencapai kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yang sanggup mengusik dan mengganggunya. Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasil mendekatinya.
Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berlian dan hadiah-hadiah mahal tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salam sudah tidak sanggup lagi merebut kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasa pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian di rumahnya. Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan mereka tak pernah merasakan hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar tentang dunia luar dengan Laila.
Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila ia ditanya. Pertanyaan ini pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangat singkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebab hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya, pada suatu pagi di musim panas, ia pun meninggal dunia.
Kematian suaminya tampaknya makin mengaduk-ngaduk perasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas kematian Ibn Salam, padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang dan sudah lama dirindukannya.  Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanya sekali saja ia menangis.
http://tausyah.wordpress.com/
Laila
Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannya dengan kekasih satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumah ayahnya. Meskipun masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana, yang jarang dijumpai pada diri wanita seusianya. Sementara api cintanya makin membara, kesehatan Laila justru memudar karena ia tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur dengan baik selama bermalam-malam.
Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya hanyalah Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup bertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa bulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, ia masih memikirkan Majnun.
Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi untuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintu kalau-kalau kekasihnya datang. Namun, ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Majnun. Pada suatu malam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggal dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun. .Majnun.
Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama kemudian, berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu, ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri selama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju desa Laila.
Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia menyeret tubuhnya di atas tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di kuburan Laila di luar kota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.
Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya, per1ahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggal dunia dengan tenang. Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selama setahun. Belum sampai setahun peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dan kerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas kuburan Laila.
Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu adalah jasad Majnun yang masih segar seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di samping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kini bersatu kembali.
Diambil dari Negeri Sufi ( Tales from The Land of Sufis )
Tentang Penulis Laila Majnun, Syaikh Sufi Mawlana Hakim Nizhami qs :
Syaikh Hakim Nizhami qs merupakan penulis sufi terkemuka diabad pertengahan karena dua roman cinta yang menyayat hati, yaitu Laila & Majnun serta Khusrau & Syirin. Kisah sedih Laila & Majnun , dimana Majnun yang berarti “Tergila-gila akan Cinta”, karena cintanya yang tak sampai pada Laila, akhirnya membuatnya gila.

Monday, January 20, 2014

HUJAN MALAM INI

Oleh : Abdoel Munawar


Bersama Rintik hujan, Bayangmu kembali hadir malam ini,,,

Menghadirkan sejuta kisah Bersama Tiap rintik air yang jatuh

Menghadirkan luka tak berkesudahan bersamaku

Tak ada lagi tangis haru dan bahagia darimu,

Melenyapkan  canda tawamu,

Semuanya pergi, bersama bayangmu 

Kini yang tertinggal hanyalah sepi dan semua kisah tentang Cinta kita


Teringat saat kita melaju diatas dua roda

Menembus derasnya hujan sore itu,

Merasakan hembusan angin yang perlahan terasa dingin,

Menghadirkan Sejuta gelora,Berdua Menembus kabut duka.

Dingin yang menyerang tak lagi kita rasa 

Karena hangatnya canda tawa 
dan kasih sayang kita bisa mengalahkan segalanya.



Itu hanyalah sebagian kisah tentangmu dan tentang kita,

Semuanya tercatat dan tersimpan rapi dalam memoriku,

Aku yang begitu menyayangimu,

Kini hanya bisa mengenangmu bersama derasnya hujan malam ini...

Tuesday, January 14, 2014

Kandasnya Cinta Sang pengamen



Cerita ini berawal dari pertemuan tanpa sengaja,,Di sebuah kereta api dengan seorang gadis yang amat manis,”Lina Cristina”mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta pusat.Memang Sejak Lulus dari bangku salah satu SMK swasta di Jakarta,aku hanya bisa menikmati sebentar saja pekerjaan tetap di salah satu yayasan di Jakarta,Setelah itu Aku menjadi kuli serabutan  kerja proyek,jdi tukang parkir,bahkan mengamen di kereta listrik JABODETABEK,,dan sering juga di ajak teman pasang instalasi listrik di proyek” besar di ibukota,Dari pekerjaan serabutan itulah Aku lebih mendalami instalasi listrik yang kebetulan memang menjadi keahlianku sejak duduk di bangku sekolah.
Awalnya keakraban ku dengan  “Lina ,Gadis kelahiran Cirebon, yang sementara menetap  Di bekasi bersama keluarga dan berkuliah di Jakarta itu hanya sekedar teman, tumbuh menjadi hubungan persahabatan dan akhirnya terjerat pada lingkaran cinta. Tapi memang dunia sudah terbalik, dia yang menyatakan cinta lebih dulu padahal aku juga punya perasaan itu. Dan aku menerimanya dan demikian pun dia menerima aku apa adanya.
Tak lama setelah gelar SE di sandangnya,dia mulai bekerja Di salah satu bank di wilayah kemayoran Jakarta pusat,Sementara aku masih tetap menjadi menjadi pekerja serabutan yang terus bermain dengan debu dan panasnya terik matahari,,Tapi Kami layaknya pasangan lain yang sedang dilanda mabuk asmara. Semua berjalan normal, hingga pada akhirnya, aku diminta menemui orang tuanya di Per.harapan Baru bekasi…
Suatu hari aku berkunjung kerumah Lina  di HARAPAN BARU bekasi,,Sambil terdiam aku menatap Rumah yang lumayan mewah dengan pelataran sedikit luas dan di belakang garasi ada taman kecil tempat bersantai,,Lina sangat senang menyambut kedatangan ku,,,Aku pun merasa senang lina tidak berubah dengan sikapnya di luaran rumah saat bersamaku,,Lina masuk sebentar dan kembali duduk di sampingku sambil berkata,”maaf mas ,Ayah minta Identitas Ktp mas ,,Ada kan,?? Owh kebetulan aku punya photo copynya,,langsung aku ambil di dompetku,dan lina kembali menemui ayahnya di dalam..Tak lama kedua Orang tua Lina kelur Dari Ruang tengah,Tapi Tatapan lain terpancar dari wajah kedua orang tua Lina,mereka menunjukan wajah yang sangat tidak senang dengan kedatanganku,kami duduk bersama sama di ruang tamu ,Sambil membaca Photo Copy Identitas penduduk miliku yang ber status buruh”Oh,Jadi kamu temannya Lina yang Jadi Pengamen di kereta Itu,,Sapa Ayah Lina membuka pembicaraan waktu itu,,”Iya Om,Tapi itu dulu waktu lina masih Kuliah,Sekarang Aku kerja Di proyek Instalasi listrik Om,Jawabku Jujur….”Apa bedanya,pengamen ,Pengemis Dengan kuli” proyek ,Mereka sama pekerja dengan penghasilan yang rendah”,,Dengan Nada tinggi ,Ayah lina Menimpaliku,,”Cukup Ayah,Dia Kesini BUkan untuk mendengar Hinaan dari ayah,Aku yang minta dia untuk kesini,,Teriak Lina pada Ayahnya Sambil menangis,….”Sudahlah Lin,Benar memang Apa yang di Katakan Ayahmu,,Aku memang nggak pantas berada di sini,,Sela ku Menenangkan Lina,,..Dan Aku berterima kasih Om sudah mau mempersilahkan Aku masuk,,Aku mohon diri om….Sambil bangkit Dan berlalu keluar dari rumah tersebut,Aku tertunduk sambil menengok kea rah Lina yang masih tetap menangis di bangku Dan menelungkupkan mukanya di atas meja…
Dengan perasaan yang sangat malu aku meninggalkan rumah Lina,Dan tak langung pulang ke rumah,aku memilih pergi ke Stasiun berkumpul bersama teman teman ,Dengan iringan empat gitar dan Drum mini teman temanku Dari FORKA “Forum Komunitas Kereta” St.bekasi.,Aku bernyanyi sekeras deru kereta ,Agar tak terasa betapa perasaan malu yang teramat  sangat atas ucapan yang aku dengar dari ayah lina,,
Sejak kejadian hari itu,Aku sengaja berangkat agak siang dari bekasi Agar sementara tak bertemu dengan lina di kereta pukul 05.40 pagi,Seperti yang biasa Aku lalui berangkat bareng dengan lina dari stasiun bekasi ke Jakarta,,,Tapi itu hanya beberapa hari saja karena di suatu pagi Saat Aku Duduk di bangku peron  stasiun ,Entah Dari mana datangnya,dengan mata sembab, tiba tiba Lina duduk Di sampingku sambil menangis.Aku menatap dalam “ wajah lina yang bersandar di bahuku,”Maafkan aku mas,Mas masih marah yah Sama Lina,,??? Sambil sesekali lina mengusap air matanya,,,Tak langsung menjawab pertanyaan dari lina, Justru Aku Balik bertanya sama gadis yang masih terisak di sampingku,,”kenapa kamu tidak berangkat Dengan kereta tadi pagi,Bukankah kamu harus masuk kerja jam  07.30,,bagamana dengan pekerjaanmu nanti??? “Jawab dulu pertanyaanku mas,kenapa sejak itu mas nggak mau menemui aku,kenapa mas seolah olah menghindar dari aku,,???Mas nggak tau beberapa hari ini aku merindukan mas,,,Tangis lina semakin menjadi,Lina tak perduli dengan orang orang di sekelilingnya yang  memperhatikan Dirinya..”Lin,Apa yang di katakan  ayahmu itu benar,Aku hanya seorang pengamen,pekerja serabutan,yang nggak jelas dengan penghasilan,Sementara kamu sudah Bekerja menjadi karyawan Bank,yang sudah jelas jelas dapat gaji,Aku sadar ayah kamu nggak mau melihat anaknya hidup susah dengan aku..,jawabku sambil memegang pundak lina.”Cukup mas,Aku nggak perduli dengan Alasan ayahku,Aku mencintai mas tulus,,.Aku nggak perduli bahkan aku rela berhenti dari pekerjaanku,bila perlu aku ikut mas kemanapun mas pergi,,,Potong lina sambil terisak..”ya Sudah,Tpi Hentikan dulu tangismu,Percayalah Aku juga mencintai kamu Lin,kalo memang tuhan memberikan jodoh pada hubungan kita ,pasti kita akan bersatu..jawabku menenangkan lina..”lina memeluku Seolah tak ingin berpisah denganku,Aku merasa lega setelah melihat senyum mengembang dari bibir manis kekasihku, ,………Tak terasa  Sudah pukul  08.30 Siang,Suasana Di stasiun bekasi Sedikit sepi ,karena hampir semua  Penumpang telah berangkat ke Jakarta dengan jadwal kereta pagi yang mengantar mereka bekerja..Hari itu Aku dan lina tak jadi berangkat bekerja, Lina Mengajakku ke Metropolitan Mall Di bekasi barat,untuk sekedar melepas rasa kangen,karena  Sejak aku menghindar darinya, lina merasa benar benar kehilangan aku,,
Hari Sudah mulai Sore,,Sebenarnya Lina masih ingin berlama lama di Taman Depan Mall bersamaku,”lin,Hari sudah Sore kita Pulang yah,??Pintaku sama Lina,”Baiklah mas,Tapi mas Janji yah ngantar Aku sampai di rumah,Sebenarnya Aku nggak ingin mengantar lina, sengaja aku menstop Taksi biar lina aman pulang sendiri,tapi Lina memaksa,dan aku pun tak tega akhirnya Aku mengantarnya Sampai ke rumah..Sesampainya di  Rumah Lina di Harapan Baru ,Aku sengaja tak turun dari dalam taksi dan melihat kekasihku masuk rumah hingga tak Nampak lagi di balik pintu,,Dan sejak itu hubunganku dengan Lina kembali terjalin dengan indah,hari hari aku lalui bersama lina tanpa sepengetahuan kedua orang tua lina..
Sabtu  pukul 04 sore sepulang bekerja,Lina menemuiku di Stasiun,Aku sedang Asyik berkumpul dengan Kawan Kawan Dari FORKA,”Mas besok Kita Jalan,Aku tunggu di rumah besok pagi,…kata Lina Sambil tersenyum ke arahku,”Insya Allah,Besok aku jemput kamu,Jawabku..,,Setelah Makan Bakso Di kantin Stasiun Aku memanggil taksi dan membiarkan lina pulang sendiri sore itu,lalu Aku kembali menemui teman”ku di peron Stasiun Membahas Acara pertemuan tahuan yang sudah berjalan di  Forum Komunitas yang Aku ikuti.
Minggu Pagi,Aku Meluncur Ke Harapan Baru,Untuk  menjemput lina.Sesampainya Di sana  Rumah megah itu Nampak sepi Aku tak melihat Lina,Dengan perasaan Ragu aku memberanikan diri mengucap Salam,,,Ayah lina Keluar dari balik pintu dan  berdiri Di depan Gerbang ,Aku tertunduk dan TerDiam karena Ayah Lina tak mempersilahkan Aku Masuk,,Dengan wajah tak secuilpun senyum  orang tua  berkata, Kalau Lina sedang keluar bersama teman kerjanya, seorang  Pengusaha yang  gagah. Kemudian sikap tak senang  Ayah Lina Kembali terdengar melalui kata-kata Tak jauh beda dengan kalimat Yang Aku dengar beberapa tahun lalu. Masih segar dalam ingatanku apa yang mereka katakan. "Kamu tidak pantas untuk anakku, lihat dirimu, pengangguran dan berpendidikan rendah, tidak seperti anakku yang seorang Sarjana Ekonomi dan juga telah berpenghasilan. Saya yakin, penghasilanmu setahun tidak akan sama banyak dengan penghasilan anakku dalam satu bulan".Kata-kata itu seperti sebuah sambaran Kereta yang melindas kepala korbanya hingga meremuk otak dan tubuhnya,,,Aku pergi meninggalkan rumah itu, dan tak pernah lagi menoleh kebelakang, dan sejak saat itu, aku tak pernah lagi mendengar khabar tentang kekasih ku tercinta.
Aku berusaha mengubur kenangan Bersama Lina  Cristina,Menghilangkan jejak dari semua kenangan kenangan bersamanya,melupakan Semua kejadian yang pernah Aku Alami bersama Dia..Sampai akhirnya Aku menetap Di tegal,berbekal keahlianku sebagai seorang instalatir Aku bekerja menjadi Pelaksana Di PLN persero di tegal,,empat tahun Aku menjalani profesiku menjadi  pelaksana,Dan aku Berhasil membangun rumah Tangga kecil ,tinggal di rumah Hasil keringat ku sendiri bersama Istriku…
Waktu  berlalu,Aku merasa Kangen Suasana Jakarta,Rindu Aroma cerobong Asap kereta,,Hingga pada Suatu hari Aku sengaja menghadiri acara Hari Ulang Tahun FORKA yang biasa di Adakan di stasiun Bekasi,,,,Agenda tahunan ini Biasa Di isi Oleh Band Band Terkenal dari Jakarta,karena yang berkumpul di komunitas ini kebanyakan dari Musisi mantan pengamen KRL jabodetabek…Setelah Acara Selesai aku Masuk ke ruang Tunggu Tiket Dan duduk di antara Penumpang  yang sedang menunggu keberangkatan Kereta,,
Mataku tertuju pada sepasang orang tua sedang duduk di Antara Calon penumpang,.Aku mengenalinya dan sepertinya mereka  juga  mengenali  Aku.
Dan benar saja, Saat aku beranjak meninggalkan tempat itu, kedua orang tua itu mengikuti saya dari belakang. Tiba tiba mereka memanggil saya, "Nak tunggu sebentar". Saya berhenti, tapi tidak berbalik, karena luka hati saya sepertinya masih menganga lebar. "Ada apa bapak mengikuti dan memanggil saya, Tanyaku  tanpa berbalik.
"Aku mengenalmu, bukankah kamu dulu yang mencintai Lina anakku". Tanya orang tua itu "Bukan, mungkin bapak salah orang" jawabku "Berbaliklah, biarkan aku melihat wajah mu" kata orang tua itu Aku berbalik, "Bukan, itu bukan aku" jawabku "Tidak mungkin, aku mengenalmu dan yakin itu kamu" katanya lagi "Mungkin bapak salah Orang.Jawabku.
Mendengar perkataan ku, kedua orang tua itu menangis dan berpelukan. "Kami bukan memohon untuk kamu kembali pada anakku, tetapi saya cuman ingin menyampaikan khabar bahwa, sejak kepergianmu, anak kami sakit, sudah kami obati keberbagai tempat ,tetapi tetap saja tidak bisa mengobatinya. Kurang makan, banyak diam dan melamun, dan hanya terus memandangi fotomu, cuman itu yang ingin kami sampaikan".
Kami telah lama mencarimu, kami yakin yang bisa mengobati anak kami hanya kamu. Itu kami lihat dari cara ia menatap foto mu, sorot mata kerinduan yang teramat besar terhadapmu. Kami merasa bersalah telah memisahkan kalian, selama  4 tahun kami mencarimu, tetapi tidak menemukan keberadaan kamu.
Mendengar perkataan itu saya tertunduk, kemudian saya berbalik dan meninggalkan kedua orang tua itu.
Setiap hari saya terbayang tentang kondisi mantan kekasih ku kini, yang kutinggalkan tanpa mengucapkan kata selamat tinggal. hingga mulai muncul rasa bersalah dalam diriku. Kemudian kuputuskan untuk menemuinya dengan harapan ia bisa sembuh. Tetapi di sisi lain, aku memikirkan Keluarga kecil yang aku tinggalkan di kampung halamanku,.. Lama aku pertimbangkan akhirnya aku menuju rumah kekasih ku dulu, ku tekan bel rumahnya, tampak pembantunya membukakan pintu, kemudian mempersilahkan aku masuk. Tidak lama datanglah kedua orang tua mantan pacarku. tak lagi nampak di mata mereka sebuah sikap seperti dulu, tetapi kejadiannya berbanding terbalik, kini terlihat senyum bahagia di wajah mereka.
"Terima kasih telah datang" kata mereka. "Aku datang hanya untuk berpamitan pada anak bapak" jawabku Mendengar perkataanku, kini senyum itu hilang dari wajah mereka. "Temuilah ia di taman belakang" sambung orang tua itu. Aku lalu berdiri dan menuju taman belakang rumah. Sampai di pintu belakang orang tua itu berhenti dan begitupun denganku. Terlihat seorang gadis duduk dan menatapi sebuah foto tanpa henti, sesekali kulihat ia menghapus air mata.
Orang tua itu lalu memintaku menghapiri anaknya, dan Aku dengan langkah sedikit mulai mendekat kearah gadis itu. Setelah berada di belakang gadis itu aku melihat dan memperhatikan apa yang sedang Lina pandangi. Ternyata foto kami berdua. "Hai Lina..." sapa ku dengan suara ku agak lrih. Lina berbalik, dan terkejut saat melihatku. Dan tanpa berkedip, ia telah memelukku, keras sekali, sangat keras pelukan itu hingga membuat ku sesak. Kemudian Di susul dengan tangisan yang luar biasa. Seperti sebuah tangisan yang telah tertahan selama ribuan tahun.
Dari pelukan itu aku merasakan sebuah kerinduan yang begitu besar. Lalu aku menatap ke arah kedua orang tua yang berdiri di pintu belakang yang terus memandangi kami juga menangis. Sebuah tangisan kegembiraan melihat anaknya bisa melepaskan kerinduan.
Lama Lina memelukku dan mulai terasa pelukan itu sedikit ringan, tidak lagi sekeras tadi. Kemudian terdengar suaranya sangat kecil dan di barengi isapan tangisan, "Mas dari mana ?, mengapa Mas pergi tanpa kabar, mengapa Mas sepertinya tidak mau lagi peduli dengan Lina, mengapa Mas meninggalkan Lina sendirian". Pertanyaan itu begitu menyakitkan, sepertinya Lina  tidak tau masalah yang terjadi. Aku hanya diam, dan mencoba melepaskan pelukannya, namun sepertinya kerinduan itu belum juga habis. Lama dia memelukku hingga kini aku mulai merasakan bahwa kerinduan itu benar-benar telah ditumpahkan. Dan kini ia mulai bisa mengendalikan emosi. Lina melambai pada orang tuanya, dan meminta mereka untuk menghampiri kami. Kemudian mengajak kami duduk di kursi taman itu. Lina duduk dekat sekali padaku, mungkin karena sisa-sisa kerinduannya masih ada.
"Sebenarnya, maksud kedatanganku kemari hanya untuk berpamitan" kataku, memulai pembicaraan. "Apa ?, kenapa Setelah lama pergi meninggalkan ku,kini mas datang, kemudian pergi lagi!" Kata Lina terlihat kaget. "Sebenarnya kedatangan ku hanya untuk meminta kamu bisa melupakan aku dan hidup normal" Jawabku dengan ragu. "Nak, kami merestui kalian, dan kami bisa menikahkan kalian dengan segera" kata bapak Ayah lina"Aku tidak bisa menikahi putri bapak" jawabku dengan wajah tertunduk "Kenapa Mas tidak bisa menikahi aku, apa kakak sudah punya gadis lain" tanya Lina mendesak "Jujur saja, aku telah menikah " jawabku Sontak Lina kaget dan menangis histeris kemudian memelukku dengan keras "Aku tidak rela, mas menikah dengan orang lain, kenapa Mas tidak menikahi aku" sambung Lina sambil menangis "Jodoh itu di tangan tuhan, dan kita hanya bisa berupaya" kataku mencoba menenangkan. Saya tak ingin menceritakan kejadian 4 tahun silam tentang perlakuan orang tuanya, agar mereka tidak salah paham. Dan dalam hatiku berkata, seandainya kejadian ini terjadi 4 tahun yang lalu mungkin ceritanya akan lain dan akan berakhir bahagia. Mendengar perkataan ku, kulihat wajah penyesalan dari raut wajah kedua orang tua itu, dan terlihat kesedihan mendalam melihat kondisi putri tunggal nya yang patah hati. "Aku ingin engkau hidup normal, dan aku yakin ada cinta buat kamu di dunia ini yang lebih baik dari aku" kataku mencoba menghibur. Lama kami terdiam, lalu Aku berdiri, "jika engkau mencintai aku, carilah cinta sejati mu, karena aku akan bahagia, melihat mu bahagia". Kemudian aku permisi. Mereka bertiga mengantarku sampai ke gerbang pagar rumah megah itu. Ku salami mereka bertiga, terlihat ketidak relaan terutama pada kekasih dulu, kekasih Sarjana Ekonomi, seorang pengamen ,pekerja serabutan. Aku berjalan menjauh dan sama seperti dulu, saat aku di usir, aku tak pernah berbalik dan berkata dalam diri "Yang kutinggalkan adalah masa laluku yang terlupakan.