Inilah bentangan hidup...
Gelombang laut luas,
yang senantiasa mengapungkan maut....
Deru Perahu
Dan genangan rindu yang menunggu
Apa yang aku bisa dari yang terbaca
Langit hanya mendongengkan harapan
Bahwa daratan adalah tempat pasir pasir
Yang menguruk sepasang kakiku
Ketika dulu
Kehangatanya menggetarkan Senyum ombak di dalam dadaku
Telah di hanyutkan ke sepi puisi
Sebuah pulau cinta tak bertepi
Percayalah.....
Jaraknya tak sejauh mimpi
Dan hujan melagukan mimpi malam
Memetik angin yang menari
Di bawah debur ombak,memecah sunyi..
Seperti buih buih menepi
Aku semakin Jauh di seret waktu
Semakin tahu makna deru....
Percayalah....
Tak ada yang lebih merdu
Selain degup jantungku
Tapi yang aku baca dari yang tak terduga
Serupa orang buta
Aku menerka nerka warna
Pada sebuah lukisan langit
Yang di hapus cuaca
Meski hatiku bermata
Tapi tak mampu memberi nama...
Alangkah.....
Di atas bentangan laut
Gelombang senantiasa Menggenangkan rindu...
Pada daratan maut Yang menunggu....
Percayalah....
Sejauh Mimpi itulah
Duniaku...
My Blog List
My Blog List
link Facebook "Doel Mahessa Jeenar"
Tuesday, June 18, 2013
Thursday, June 13, 2013
KATA KATA MUTIARA MALAM
Tidur adalah mencintai libur dengan cara yang sederhana.
------------------
Malam ini saya mau mengajak puisi kencan ke taman kota.
Mumpung dompet sedang cuti dari sakit jiwa.
------------------
Kamu pernah kulepaskan,
lalu ruang kosong itu dihuni kedamaian,
------------------
setelah berlalu kesedihan,
sebelum datang kebosanan.
------------------
di bawah tidurmu, aku bukanlah sebuah kehilangan;
di bawah tidurmu, aku cinta paling kau kenang.
------------------
Aku mengingatmu, aku mengingat secangkir kopi itu.
Rasa pahit, dan juga rasa sakit;
memiliki takdirnya sendiri-sendiri.
------------------
nanti, bila kau pulang. bawakan aku sebuah musim,
dimana ciuman selalu menjadi kehangatan kata-kata, selain puisi.
------------------
Di bawah cahaya bulan, yang abadi hanya bayangan.
Bahkan setelah kau menghilang ke kegelapan.
------------------
Alangkah kesepiannya Maut.
Ia pasti si tua renta,
yang bahkah tak boleh sedih,
dengan kematiannya sendiri.
------------------
Jika rindu benar-benar sebuah kematian,
aku ialah seseorang yang tak pernah dibangkitkan.
------------------
12 jam kita berperan, dalam kamar.
Aku memerankan ranjang tua kesepian,
kau memerankan sebuah mata lampu yg hampir padam.
------------------
Sajakku kebingungan mencari alamat rumahmu.
Sampai seorang lelaki tua yg termangu, memberitahu: "Rumahnya di dalam sakitmu." ~
------------------
Sebelum hatiku dipenuhi kebaikanmu,
aku tak pernah tahu, ada cinta selembut bumi.
------------------
Cinta ialah bahuku-bahumu yang bahu membahu,
menopang kehidupan.
------------------
Biarkan cinta mengurat dalam kata-kata,
dan kita menguat di kedalaman makna
------------------
Tersebutlah, pada suatu senyum,
Tuhan membuka jendela dan pagi pun tercipta.
------------------
pagi yang cantik, mekarkanlah kehangatan dan bunga-bunga.
juga kehampaan dalam dada
------------------
tidurlah sayang, tetaplah cantik sehangat cahaya esok hari,
dan dukaku akan makin mencintaimu.
------------------
Hujan adalah kerinduan,
hujan adalah kepergian,
hujan adalah basah airmata yang tak ingin diteteskan
------------------
Biarkan tangan ini merawat kesedihanmu;
tentang kebahagiaan biarlah hatimu yg mencari tahu
------------------
"Aku bebaskan kau dari makna," kata Tardji.
Tapi, aku tolak: "Aku kata. Untuk apa hidup tak bermakna."
------------------
Sajakku adalah gelas,
di mana aku meneguk airmataku sendiri. ~
------------------
Lampu sudah padam. Malam sudah tidur.
Sepi menjadi detak jam dinding dan cericit tikus di atap rumah.
------------------
"Hati adalah rumah," katamu.
Tetapi kamu lupa, cinta kadang lebih suka jalan-jalan dan menyewa penginapan.
------------------
Kehilangan, seperti tamu yang hanya sekali datang,
tetapi tak kunjung pulang.
------------------
Aku ingin hidup di hatimu,
sebagai cinta yg paling bahagia.
Dan aku ingin mati di matamu,
sebagai sinar yg paling cahaya.
------------------
Kau yang dipeluk lembut bumi tidurlah tenang,
dengan usiamu yang singkat kau tulis panjang riwayat
------------------
Kata hanya meminjam tangan penyair.
Luka yang mengajarinya berpelesir.
------------------
Waktu sudah berganti baju.
Kini sedang menunggu puisimu datang,
untuk kencan di kedai kopi.
------------------
Matamu saudara kembar senja,
yg tak pernah kehilangan cara menenggelamkanku dalam bayang-bayang kehilangan.
------------------
Aku dan senja duduk bersila di bangku belakang jendela,
menyaksikan hujan menulis puisi di halaman rumah.
------------------
Aku menyimpan senja dan bola matamu di dalam sajakku.
Nanti di suatu malam sajak itu akan menjadi bulan.
SELAPAS RINDU II
Ku duga ....
Siapapun akan menghiba
mengenyam cemburu..
Di remuk hati penuh kerinduan....
Tapi bersepakat lah bahwa tikar kebencian
Yang di tumpuk di bawah ranjang selalu minta di bentang...
Ketika rindu datang di hati..
Selepas rindu...
Takkan ada lagi berita,
selain buih buih kata
Yang menari nari di atas banjir air mata...
Dan kita untuk kesekian kalinya menjadi penyaksi...
Dengan sorot matamu yang menyala...
dan tanpa ada kata kata selamanya....
Hanya hati bergumam
Selepas rindu ini
Akupun tak tahu....
Oleh : Abdoel Munawar
Siapapun akan menghiba
mengenyam cemburu..
Di remuk hati penuh kerinduan....
Tapi bersepakat lah bahwa tikar kebencian
Yang di tumpuk di bawah ranjang selalu minta di bentang...
Ketika rindu datang di hati..
Selepas rindu...
Takkan ada lagi berita,
selain buih buih kata
Yang menari nari di atas banjir air mata...
Dan kita untuk kesekian kalinya menjadi penyaksi...
Dengan sorot matamu yang menyala...
dan tanpa ada kata kata selamanya....
Hanya hati bergumam
Selepas rindu ini
Akupun tak tahu....
Oleh : Abdoel Munawar
SELEPAS RINDU 1
Selepas rindu
dahaga kata menegukku..
pelabuhan cinta,memaksaku melapisi luka
Dengan debu matahari
memasung mataku
menikam jatungku...
Serupa cinta,ku dekap harapan
sebagai aliran air mata
Dan melipat potongan nasib
sebagai suratan panjang
Yang di sembunyikan dalam siulan musim
Akan ku kirim ke selat dan tajung tajung rindu,...
yang bersimpuh di kaki kecemasan
Menunggu langit jauh
Menjatuhkan sisa awan lepuh...
sebagai ucapan keluh di hati...
Tempat peluh mencari waktu teduh
Oleh :Abdoel Munawar
dahaga kata menegukku..
pelabuhan cinta,memaksaku melapisi luka
Dengan debu matahari
memasung mataku
menikam jatungku...
Serupa cinta,ku dekap harapan
sebagai aliran air mata
Dan melipat potongan nasib
sebagai suratan panjang
Yang di sembunyikan dalam siulan musim
Akan ku kirim ke selat dan tajung tajung rindu,...
yang bersimpuh di kaki kecemasan
Menunggu langit jauh
Menjatuhkan sisa awan lepuh...
sebagai ucapan keluh di hati...
Tempat peluh mencari waktu teduh
Oleh :Abdoel Munawar
Wednesday, June 12, 2013
ANAK INDIGO
APAKAH ANAK ANDA TERMASUK INDIGO.????
Posted by Abdoel Munawar
Posted by Abdoel Munawar
Apa yang dimaksud dengan “anak indigo?”
Indigo
adalah istilah yang diberikan kepada anak yang menunjukkan perilaku
lebih dewasa dibandingkan usianya dan memiliki kemampuan intuisi yang
sangat tinggi. Biasanya mereka tidak mau diperlakukan sebagai anak-anak.
Secara harfiah, indigo adalah nama warna antara biru dan ungu, yang
kerap pula disebut nila.
Wendy Chapman,
dalam tulisan Rossini, menjelaskan bahwa anak indigo adalah anak-anak
yang umumnya tidak mudah diatur oleh kekuasaan, tidak mudah berkompromi,
emosional dan beberapa diantaranya memiliki tubuh rentan, sangat
berbakat atau berkemampuan akademis baik, dan mempunyai kemampuan
metafisis. Sering dianggap anak ADD, walaupun mudah bersikap empati dan
iba terhadap orang lain, atau terlihat sangat dingin dan tak
berperasaan, dan memiliki kebijakan melebihi usianya. Apakah hal-hal
tersebut seperti anda sendiri atau anak anda?
Kapan istilah “anak indigo” ditemukan?
Istilah anak indigo diketemukan oleh Nancy Ann Torp,
seorang konselor, pada tahun 1970 an. Dia meneliti warna aura manusia
dan menghubungkannya dengan kepribadian. Mereka yang memiliki aura nila
atau indigo ini ternyata anak-anak yang dianugerahi kelebihan, khususnya
kemampuan indera keenam.
Menurut Ustaz KH Abid Marzuki Lc., yang dikutip Pikiran Rakyat, dalam diskusi di The 6th Ramadhan Informal Study on Education Psychology, yang diadakan di Islamic Center,
Bekasi, menyatakan bahwa “anak-anak indigo memiliki kesadaran lebih
tinggi daripada kebanyakan orang mengenai siapa diri mereka dan tujuan
hidup mereka sehingga memerlukan perlakuan khusus. Tapi sayang, banyak
masyarakat belum tahu bagaimana mengelola dan memperlakukan kelebihan
anak indigo. Akibatnya kemampuan indera keenam anak indigo sering
disalah gunakan dengan menggiring anak menjadi paranormal. Padahal
kelebihan yang diberikan Allah kepada anak indigo, adalah karomah dan maunah, ” ujar alumnus Universitas Malaysia ini.
Apakah anak anda indigo?
Untuk mengetahui apakah anak anda atau anda sendiri indigo, jawablah pertanyaan berikut:
1) Apakah anak anda sering bersikap seperti bangsawan? ,
2) Apakah anak anda memiliki perasaan pantas diterima?,
3) Apakah anak anda mempunyai perasaan bahwa dirinya dapat dimengerti? ,
4) Apakah anak anda sulit menghadapi disiplin dan kekuasaan? ,
5) Apakah anak anda menolak untuk mengerjakan hal-hal pasti yang diminta untuk dikerjakan? ,
6) Apakah kegiatan antri tak disukai anak anda?,
7) Apakah anak anda tidak menyukai sistem yang berorientasi ritual/mekanikal dan sedikit memerlukan kreatifitas? ,
8)
Apakah anak anda sering dapat mengetahui cara-cara yang lebih baik
dalam mengerjakan sesuatu, baik di rumah atau di sekolah? ,
9) Apakah anak anda tidak mudah kompromi? ,
10) Apakah anak anda tidak merespon/takut pada ancaman? ,
11) Apakah anak anda mudah bosan terhadap pekerjaan yang ditugaskan ,
12) Apakah anak anda terlihat mempunyai gejala ADD? ,
13) Apakah anak anda kreatif? ,
14) Apakah anak anda terlihat mempunyai intuisi yang tajam? ,
15) Apakah anak anda mempunyai sikap empati yang menonjol terhadap orang lain? , 16)Apakah anak anda mempunyai pemikiran yang abstract? ,
17) Apakah anak anda cerdas? ,
18)Apakah anak anda sangat berbakat (yang diidentifikasi sebagai karunia)? ,
19)Apakah anak anda terlihat sebagai pengkhayal? ,
20)
Apakah mata anak anda terlihat memancarkan mata orang dewasa, bijak dan
dalam? . 21) Apakah anak anda mempunyai kecerdasan spiritual?
Jika
anda mempunyai 10 jawaban “Ya”, maka anak anda kemungkinan adalah
indigo. Jika jawaban “Ya” lebih dari 15, maka anak anda dipastikan
sebagai anak indigo.
Indigo memang berbeda, tapi bukan “tidak normal”
Menurut
psikiater Tubagus Erwin Kusuma, dalam lipuatn6.com, fisik anak-anak
indigo tak jauh berbeda dengan anak lainnya. Hanya batinnya saja yang
condong lebih dewasa. Anak-anak indigo sering memperlihatkan sifat orang
dewasa, sangat cerdas, dan memiliki indera keenam yang sangat tajam.
Anak indigo pada umumnya tidak menginginkan diperlakukan sebagai
anak-anak. Tidak jarang mereka sering memberi nasehat pada orangtua
masing-masing.
Tubagus
menambahkan, indigo bukanlah penyakit atau kelainan jiwa. Kendati
demikian, ada yang menganggap fenomena indigo sebagai kelainan jiwa.
Akibatnya penanganannya seringkali salah, yang akan berdampak pada
penderitaan sang anak. “Kalau bisa, konsultasi untuk menghadapi
anak-anak indigo,” Tubagus menambahkan.
Pernyataan
Tubagus diamini Rossini, indigo dewasa yang sekaligus pembimbing
anak-anak indigo. “Ketika di masa anak-anak pemahaman spiritual sudah
matang tapi belum diikuti penalaran”, kata Rossini. Menurut Rossini,
tugas orangtua dewasa untuk membimbing anak-anak itu agar penalaran dan
spiritualnya seimbang.
Tips untuk mendidik anak indigo
Wendy Chapman, memberikan 10 tips untuk mendidik anak-anak indigo, sebagai berikut:
Perlakukan
mereka dengan penuh penghargaan. Jika anda tidak menunjukkan
penghargaan kepada mereka, mereka juga akan demikian, walaupun anda
mempunyai otoritas atau kekuasaan.
Dengarkan pendapat mereka. Mereka perlu tahu bahwa anda peduli dan mengenali sistem nilai mereka.
Kembangkan
kemampuan mereka.. Beri mereka pilihan, seperti misalnya tipe produk
yang akan dipelajari, apa perintah untuk pekerjaan yang harus dilakukan,
pilihan antara dua kegiatan. Memiliki suara yang didengar membuat rasa
yang berbeda atas penghargaan diri, biasanya akan mendorong mereka untuk
berpartisipasi dalam pilihan yang sudah mereka buat dan konsekuensinya
akan memperbaiki sikap mereka terhadap anda dan terhadap pendidikan.
Bangunlah
sikap koperatif dan hindari memberi perintah. Anak indigo tidak akan
peduli terhadap hal-hal yang dimaksudkan untuk mengontrol mereka. Merka
akan peduli terhadap perlakuan yang bersifat adil dan baik.
Bantu
mereka melakukan hal yang berbeda. Jika mereka frustasi, misalnya
pekerjaan sekolah, sehingga mereka merasa sendiri di dunia, bantulah
mendorong mereka untuk berbuat sesuatu yang positif untuk merubahnya.
Seperti menulis surat, karya tulis, puisi, membuat poster, T shirt,
mengorganisasi kelompok diskusi.
Bantu
mereka membangun bakat dan kemampuannya. Dorong mereka untuk kreatif
dan berani mengekspresikan kepribadian merka yang unik.
Bersikap
toleran terhadap emosinya yang ekstrim. Bantu mereka membuat
keseimbangan menggunakan aromaterapi, ijinkan mereka minum air putih di
kelas, bersikap tenang, atau latihan visualisasi.
Dorong
mereka untuk menjadi sumber kedamaian bagi orang lain. Indigo
dilahirkan untuk menjadi sumber kedamaian. Dorong mereka untuk
melatihnya. Hal ini akan membangun komunikasi dan welas asih. Jadilah
pembimbingnya dalam hal ini.
Jelaskan
MENGAPA untuk semua hal. Mengapa ada aturan, mengapa mereka perlu untuk
mengerjakan pekerjaan rumah/sekolah. Mengapa dunia seperti ini? Jika
anda tidak mempunyai jawabannya, pahami rasa frustasi mereka dan
tunjukkan sikap empati.
Kurangi
obat-obatan untuk ADD. Indigo bukan ADD, tapi indigo secara alamiah
memberikan perhatian pada sesuatu secara selektif. Jika mereka dapat
fokus pada sesuatu yang mereka pilih untuk jangka waktu yang
lama,kemungkinan anak ini indigo, bukan ADD. Walaupun nampaknya ada
masalah pada perhatian, carilah alternatif terapi, bukan dengan Ritalin,
jangan menekan kreatifitas alamiah dan kepemimpinan indigo, tetapi
bantulah untuk mengorganisir.
Sebagai
orangtua, anda juga harus membuat anak indigo disiplin, dan membuat
mereka belajar tentang perilaku yang bisa diterima atau tidak. Dan
belajar untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak bisa diterima.
Bersikaplah adil, dan berikan batas toleransi yang pantas. Katakan yang
sesungguhnya sesuai dengan umurnya, dan jangan bohong karena mereka akan
tahu. Katakan bahwa dia dicintai dan peluk sebanyak mungkin.
Indigo
juga eksploratif dan banyak energi. Akan sangat menolong jika orangtua
membantu menyalurkan energi pada sesuatu yang menyenangkan, produktif
dan tidak berbahaya.
Apakah
anak-anak indigo bisa menjadi orang yang sukses? Pengalaman
membuktikan, bahwa banyak anak indigo yang jika penanganannya benar,
menjadi orang yang sukses, bisa lulus dari universitas, ada yang menjadi
psikolog, psikiater, bahkan pemusik andal. Jadi, coba teliti apakah di
keluarga ada yang indigo? Jangan kawatir, jika anda memahami mereka
serta dapat mengelola dengan baik, maka anak indigo adalah anak yang
menyenangkan, dan tingkat kesuksesan nya di masyarakat tinggi.
Dikutip dari kamisetembang@yahoogroups.com mdiposting oleh Budi Susilo
RENUNGAN KEHIDUPAN
Kisah-kisah agung dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah peneguhan nyata akan tauhid. Ketaatan dan keimanan yang luar biasa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mewujud pada tindakan yang niscaya akan teramat berat ditunaikan manusia pada umumnya. Sebuah keteladanan yang mesti kita tangkap dan nyalakan dalam kehidupan kita.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah seorang teladan yang baik. Perjalanan hidupnya selalu berpijak di atas kebenaran dan tak pernah meninggalkannya. Posisinya dalam agama amat tinggi (seorang imam) yang selalu patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mempersembahkan segala ibadahnya hanya untuk-Nya semata. Beliau pun tak pernah lupa mensyukuri segala nikmat dan karunia ilahi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan selalu berpegang kepada kebenaran serta tak pernah meninggalkannya (hanif). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia pun selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah.” (An-Nahl: 120-121)
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan sosok pembawa panji-panji tauhid. Perjalanan hidupnya yang panjang sarat dengan dakwah kepada tauhid dan segala liku-likunya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan beliau sebagai teladan dalam hal ini, sebagaimana dalam firman-Nya:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ إِلاَّ قَوْلَ إِبْرَاهِيْمَ لِأَبِيْهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ. رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian serta telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya; ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah’. (Ibrahim berkata): ‘Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir, dan ampunilah kami ya Rabb kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Mumtahanah: 4-5)
Demikian pula, beliau selalu mengajak umatnya kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mencegah mereka dari sikap taqlid buta terhadap ajaran sesat nenek moyang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِذْ قَالَ لِأَبِيْهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيْلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُوْنَ. قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِيْنَ. قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ. قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللاَّعِبِيْنَ. قَالَ بَل رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ. وَتَاللهِ لَأَكِيْدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِيْنَ. فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلاَّ كَبِيْرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ
“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadah kepadanya?’ Mereka menjawab: ‘Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang nyata.’ Mereka menjawab: ‘Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?’ Ibrahim berkata: ‘Sebenarnya Rabb kalian adalah Rabb langit dan bumi, Yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang bisa memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya.’ Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berkeping-keping kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (Al-Anbiya`: 52-58)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya, menunjukinya kepada jalan yang lurus, serta mengaruniakan kepadanya segala kebaikan dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي اْلآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِيْنَ
“Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami karuniakan kepadanya kebaikan di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat termasuk orang-orang yang shalih.” (An-Nahl: 121-122)
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkatnya sebagai khalil (kekasih). Sebagaimana dalam firman-Nya:
وَاتَّخَذَ اللهُ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً
“Dan Allah mengangkat Ibrahim sebagai kekasih.” (An-Nisa`: 125)
Dengan sekian keutamaan itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala wahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti agama beliau ‘alaihissalam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.’ Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (An-Nahl: 123)
Demikianlah sekelumit tentang perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan segala keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepadanya. Barangsiapa mempelajarinya dengan seksama (mentadabburinya) niscaya akan mendulang mutiara hikmah dan pelajaran berharga darinya. Terkhusus pada sejumlah momen di bulan Dzulhijjah yang hakikatnya tak bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Beberapa Amalan Mulia di Bulan Dzulhijjah
Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam. Karena di dalamnya terdapat amalan-amalan mulia; shaum Arafah, haji ke Baitullah, ibadah qurban, dan lain sebagainya, yang sebagiannya tidak bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Di antara amalan mulia tersebut adalah:
a) Haji ke Baitullah
Haji ke Baitullah merupakan ibadah yang sangat mulia dalam agama Islam. Kemuliaannya nan tinggi memosisikannya sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ
“Agama Islam dibangun di atas lima perkara; bersyahadat bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beliau Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, shaum di bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no.16, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma)
Ibadah haji yang mulia ini tidaklah bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Terlebih tatkala kita menyaksikan jutaan umat manusia yang datang berbondong-bondong dari segenap penjuru yang jauh menuju Baitullah, menyambut panggilan ilahi dengan lantunan talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
“Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”
Hal ini mengingatkan kita akan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ. لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
“Dan berserulah (wahai Ibrahim) kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.” (Al-Hajj: 27-28)
Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata: “Ibadah haji mempunyai hikmah yang besar, mengandung rahasia yang tinggi serta tujuan yang mulia, dari kebaikan duniawi dan ukhrawi. Sebagaimana yang dikandung firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لِِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
“Untuk menyaksikan segala yang bermanfaat bagi mereka.” (Al-Hajj: 28)
Haji merupakan momen pertemuan akbar bagi umat Islam seluruh dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala pertemukan mereka semua di waktu dan tempat yang sama. Sehingga terjalinlah suatu perkenalan, kedekatan, dan saling merasakan satu dengan sesamanya, yang dapat membuahkan kuatnya tali persatuan umat Islam, serta terwujudnya kemanfaatan bagi urusan agama dan dunia mereka.” (Taudhihul Ahkam, juz 4 hal. 4)
Lebih dari itu, ibadah haji mempunyai banyak hikmah dan pelajaran penting yang apabila digali rahasianya maka sangat terkait dengan agama dan sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, baik dalam hal keimanan, ibadah, muamalah, dan akhlak yang mulia. Di antara hikmah dan pelajaran penting tersebut adalah:
1. Perwujudan tauhid yang murni dari noda-noda kesyirikan dalam hati sanubari, manakala para jamaah haji bertalbiyah.
2. Pendidikan hati untuk senantiasa khusyu’, tawadhu’, dan penghambaan diri kepada Rabbul ‘Alamin, ketika melakukan thawaf, wukuf di Arafah, serta amalan haji lainnya.
3. Pembersihan jiwa untuk senantiasa ikhlas dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika menyembelih hewan qurban di hari-hari haji.
4. Kepatuhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tanpa diiringi rasa berat hati, ketika mencium Hajar Aswad dan mengusap Rukun Yamani.
5. Tumbuhnya kebersamaan hati dan jiwa ketika berada di tengah-tengah saudara-saudara seiman dari seluruh penjuru dunia, dengan pakaian yang sama, berada di tempat yang sama, serta menunaikan amalan yang sama pula (haji). (Lihat Durus ‘Aqadiyyah Mustafadah Min Al-hajj)
b) Menyembelih Hewan Qurban
Menyembelih hewan qurban pada hari raya Idul Adha (tanggal 10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyriq (tanggal 11,12, 13 Dzulhijjah) merupakan amalan mulia dalam agama Islam. Di antara bukti kemuliaannya adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukannya semenjak berada di kota Madinah hingga wafatnya. Sebagaimana yang diberitakan sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma:
أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِيْنَةِ عَشْرَ سِنِيْنَ يُضَحِّي
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun tinggal di kota Madinah senantiasa menyembelih hewan qurban.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, dia -At-Tirmidzi- berkata: ‘Hadits ini hasan’)
Penyembelihan hewan qurban, bila dirunut sejarahnya, juga tidak lepas dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putra beliau Nabi Ismail ‘alaihissalam. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beritakan dalam kitab suci Al-Qur`an:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ. فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيْمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ. إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاَءُ الْمُبِيْنُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي اْلآخِرِيْنَ. سَلاَمٌ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
“Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai (pada umur sanggup) untuk berusaha bersama-sama Ibrahim, berkatalah Ibrahim: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (Ash-Shaffat: 102-109)
Demikianlah sosok Ibrahim, yang senantiasa patuh terhadap segala sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepadanya walaupun berkaitan dengan diri sang anak yang amat dicintainya. Tak ada keraguan sedikit pun dalam hatinya untuk menjalankan perintah tersebut. Ini tentunya menjadi teladan mulia bagi kita semua, dalam hal ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Da’i (Pegiat Dakwah)
Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengandung banyak pelajaran berharga bagi para da’i. Di antara pelajaran berharga tersebut adalah:
a) Para da’i hendaknya membangun dakwah yang diembannya di atas ilmu syar’i. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika mendakwahi ayahnya (dan juga kaumnya):
يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا
“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian dari ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (Maryam: 43)
Dan demikianlah sesungguhnya jalan dakwah yang ditempuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang uswatun hasanah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Inilah jalanku, aku berdakwah di jalan Allah di atas ilmu, demikian pula orang-orang yang mengikuti jejakku. Maha Suci Allah dan aku tidaklah termasuk orang-orang musyrik’.” (Yusuf: 108)
b) Para da’i hendaknya berupaya menyampaikan kebenaran yang diketahuinya secara utuh kepada umat, serta memperingatkan mereka dari segala bentuk kebatilan dan para pengusungnya. Kemudian bersabar dengan segala konsekuensi yang dihadapinya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
وَإِبْرَاهِيْمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوْهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. إِنَّمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُوْنَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِيْنَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ لاَ يَمْلِكُوْنَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ. وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِيْنُ
“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Beribadahlah kalian kepada Allah semata dan bertaqwalah kalian kepada-Nya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mau mengetahui. Sesungguhnya apa yang kalian ibadahi selain Allah itu adalah berhala, dan kalian telah membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain Allah itu tidak mampu memberi rizki kepada kalian, maka mintalah rizki itu dari sisi Allah dan beribadahlah hanya kepada-Nya serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan. Dan jika kalian mendustakan, maka umat sebelum kalian juga telah mendustakan dan kewajiban Rasul itu hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.” (Al-‘Ankabut: 16-18)
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun tetap bersabar dan istiqamah di atas jalan dakwah manakala umatnya melancarkan segala bentuk penentangan dan permusuhan terhadapnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ قَالُوا اقْتُلُوْهُ أَوْ حَرِّقُوْهُ فَأَنْجَاهُ اللهُ مِنَ النَّارِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ
“Maka tidak ada lagi jawaban kaum Ibrahim selain mengatakan: ‘Bunuhlah atau bakarlah dia!’, lalu Allah menyelamatkannya dari api (yang membakarnya). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” (Al-‘Ankabut: 24)
Demikian pula Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, perjalanan dakwah beliau merupakan simbol kesabaran di alam semesta ini.
Sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan teladan bagi para da’i secara khusus dan masing-masing individu secara umum dalam hal kepedulian terhadap kondisi umat dan negeri. Hal ini sebagaimana yang tergambar pada kandungan doa Nabi Ibrahim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan dalam Al-Qur`an:
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ أَمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ
“Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-Baqarah: 126)
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Orangtua
Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, merupakan cermin bagi para orangtua dalam perkara pendidikan dan agama anak cucu mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيْمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُ يِا بَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan kalimat itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilihkan agama ini bagi kalian, maka janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam’.” (Al-Baqarah: 132)
Bahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tak segan-segan berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk keshalihan anak cucunya, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan dalam Al-Qur`an:
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ اْلأَصْنَامَ
“Wahai Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari perbuatan menyembah berhala.” (Ibrahim: 35)
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Wahai Rabbku, jadikanlah aku beserta anak cucuku orang-orang yang selalu mendirikan shalat. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doaku.” (Ibrahim: 40)
Setiap orangtua mengemban amanat besar untuk menjaga anak cucu dan keluarganya dari adzab api neraka. Sehingga dia harus memerhatikan pendidikan, agama dan ibadah mereka. Sungguh keliru, ketika orangtua acuh tak acuh terhadap kondisi anak-anaknya. Yang selalu diperhatikan justru kondisi fisik dan kesehatannya, sementara perkara agama dan ibadahnya diabaikan. Ingatlah akan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari adzab api neraka.” (At-Tahrim: 6)
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Anak
Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mengandung pelajaran berharga bagi para anak, karena beliau adalah seorang anak yang amat berbakti kepada kedua orangtuanya serta selalu menyampaikan kebenaran kepada mereka dengan cara yang terbaik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِذْ قَالَ لِأَبِيْهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لاَ يَسْمَعُ وَلاَ يُبْصِرُ وَلاَ يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا. يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا. يَا أَبَتِ لاَ تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا. يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا
“Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya: ‘Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tiada dapat mendengar, tiada pula dapat melihat dan menolongmu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian dari ilmu yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah menyembah setan, sesungguhnya setan itu durhaka kepada Allah Dzat Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa adzab dari Allah Dzat Yang Maha Pemurah, maka engkau akan menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 42-45)
Ketika sang bapak menyikapinya dengan keras, seraya mengatakan (sebagaimana dalam ayat):
أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيْمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti (dari menasihatiku) niscaya kamu akan kurajam! Dan tinggalkanlah aku dalam waktu yang lama.” (Maryam: 46)
Maka dengan tabahnya Ibrahim ‘alaihissalam menjawab:
سَلاَمٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا
“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Rabbku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (Maryam: 47)
Demikianlah seyogianya seorang anak kepada orangtuanya, selalu berupaya memberikan yang terbaik di masa hidupnya serta selalu mendoakannya di masa hidup dan juga sepeninggalnya.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Suami-Istri
Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mengandung pelajaran berharga bagi para suami-istri, agar selalu membina kehidupan rumah tangganya di atas ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini tercermin dari dialog antara Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan istrinya yang bernama Hajar, ketika Nabi Ibrahim membawanya beserta anaknya ke kota Makkah (yang masih tandus dan belum berpenghuni) atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata: “Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan sang putra Ismail –dalam usia susuan– menuju Makkah dan ditempatkan di dekat pohon besar, di atas (bakal/calon) sumur Zamzam di lokasi (bakal) Masjidil Haram. Ketika itu Makkah belum berpenghuni dan tidak memiliki sumber air. Maka Ibrahim menyiapkan satu bungkus kurma dan satu qirbah/kantong air, kemudian ditinggallah keduanya oleh Ibrahim di tempat tersebut. Hajar, ibu Ismail pun mengikutinya seraya mengatakan: ‘Wahai Ibrahim, hendak pergi kemana engkau, apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni ini?’ Dia ulang kata-kata tersebut, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Hingga berkatalah Hajar: ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu berbuat seperti ini?’ Ibrahim menjawab: ‘Ya.’ Maka (dengan serta-merta) Hajar mengatakan: ‘Kalau begitu Dia (Allah) tidak akan menyengsarakan kami.’ Kemudian Hajar kembali ke tempatnya semula.” (Lihat Shahih Al-Bukhari, no. 3364)
Atas dasar itulah, seorang suami harus berupaya membina istrinya dan menjaganya dari adzab api neraka. Demikian pula sang istri, hendaknya mendukung segala amal shalih yang dilakukan suaminya, serta mengingatkannya bila terjatuh dalam kemungkaran.
Para pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikianlah mutiara hikmah dan pelajaran berharga dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang menyentuh beberapa elemen penting dari masyarakat kita. Semoga kilauan mutiara hikmah tersebut dapat menyinari perjalanan hidup kita semua, sehingga tampak jelas segala jalan yang mengantarkan kepada Jannah-Nya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
RENUNGAN KEHIDUPAN
Hikmah Dalam Perjalanan Hidup
Posted by Abdoel Munawar
Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini
adalah proses. Mengapa? Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah
proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu ALLOH yang menetapkan, tapi bagi kita
punya kewajiban untuk menikmati dua perkara yang dalam aktivitas sehari-hari
harus kita jaga, yaitu selalu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan
dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, selebihnya terserah
ALLOH SWT.
Seperti para mujahidin yang berjuang membela bangsa dan agamanya, sebetulnya bukan kemenangan yang terpenting bagi mereka, karena menang-kalah itu akan selalu dipergilirkan kepada siapapun. Tapi yang paling penting baginya adalah bagaimana selama berjuang itu niatnya benar karena ALLOH dan selama berjuang itu akhlaknya juga tetap terjaga. Tidak akan rugi orang yang mampu seperti ini, sebab ketika dapat mengalahkan lawan berarti dapat pahala, kalaupun terbunuh berarti bisa jadi syuhada.
Ketika jualan dalam rangka mencari nafkah untuk keluarga, maka masalah yang terpenting bagi kita bukanlah uang dari jualan itu, karena uang itu ada jalurnya, ada rizkinya dari ALLOH dan semua pasti mendapatkannya. Karena kalau kita mengukur kesuksesan itu dari untung yang didapat, maka akan gampang sekali bagi ALLOH untuk memusnahkan untung yang didapat hanya dalam waktu sekejap. Dibuat musibah menimpanya, dikenai bencana, hingga akhirnya semua untung yang dicari berpuluh-puluh tahun bisa sirna seketika.
Walhasil yang terpenting dari bisnis dan ikhtiar yang dilakukan adalah prosesnya. Misal, bagaimana selama berjualan itu kita selalu menjaga niat agar tidak pernah ada satu miligram pun hak orang lain yang terambil oleh kita, bagaimana ketika berjualan itu kita tampil penuh keramahan dan penuh kemuliaan akhlak, bagaimana ketika sedang bisnis benar-benar dijaga kejujuran kita, tepat waktu, janji-janji kita penuhi.
Dan keuntungan bagi kita ketika sedang berproses mencari nafkah adalah dengan sangat menjaga nilai-nilai perilaku kita. Perkara uang sebenarya tidak usah terlalu dipikirkan, karena ALLOH Mahatahu kebutuhan kita lebih tahu dari kita sendiri. Kita sama sekali tidak akan terangkat oleh keuntungan yang kita dapatkan, tapi kita akan terangkat oleh proses mulia yang kita jalani.
Ini perlu dicamkan baik-baik bagi siap pun yang sedang bisnis bahwa yang termahal dari kita adalah nilai-nilai yang selalu kita jaga dalam proses. Termasuk ketika kuliah bagi para pelajar, kalau kuliah hanya menikmati hasil ataupun hanya ingin gelar, bagaimana kalau meninggal sebelum diwisuda? Apalagi kita tidak tahu kapan akan meninggal. Karenanya yang paling penting dari perkuliahan, tanya dulu pada diri, mau apa dengan kuliah ini? Kalau hanya untuk mencari isi perut, kata Imam Ali, "Orang yang pikirannya hanya pada isi perut, maka derajat dia tidak akan jauh beda dengan yang keluar dari perutnya". Kalau hanya ingin cari uang, hanya tok uang, maka asal tahu saja penjahat juga pikirannya hanya uang.
Bagi kita kuliah adalah suatu ikhtiar agar nilai kemanfaatan hidup kita meningkat. Kita menuntut ilmu supaya tambah luas ilmu hingga akhirnya hidup kita bisa lebih meningkat manfaatnya. Kita tingkatkan kemampuan salah satu tujuannya adalah agar dapat meningkatkan kemampuan orang lain. Kita cari nafkah sebanyak mungkin supaya bisa mensejahterakan orang lain.
Dalam mencari rizki ada dua perkara yang perlu selalu kita jaga, ketika sedang mencari kita sangat jaga nilai-nilainya, dan ketika dapat kita distribusikan sekuat-kuatnya. Inilah yang sangat penting. Dalam perkuliahan, niat kita mau apa nih? Kalau mau sekolah, mau kuliah, mau kursus, selalu tanyakan mau apa nih? Karena belum tentu kita masih hidup ketika diwisuda, karena belum tentu kita masih hidup ketika kursus selesai.
Ah, Sahabat. Kalau kita selama kuliah, selama sekolah, selama kursus kita jaga sekuat-kuatnya mutu kehormatan, nilai kejujuran, etika, dan tidak mau nyontek lalu kita meninggal sebelum diwisuda? Tidak ada masalah, karena apa yang kita lakukan sudah jadi amal kebaikan. Karenanya jangan terlalu terpukau dengan hasil.
Saat melamar seseorang, kita harus siap menerima kenyataan bahwa yang dilamar itu belum tentu jodoh kita. Persoalan kita sudah datang ke calon mertua, sudah bicara baik-baik, sudah menentukan tanggal, tiba-tiba menjelang pernikahan ternyata ia mengundurkan diri atau akan menikah dengan yang lain. Sakit hati sih wajar dan manusiawi, tapi ingat bahwa kita tidak pernah rugi kalau niatnya sudah baik, caranya sudah benar, kalaupun tidak jadi nikah dengan dia. Siapa tahu ALLOH telah menyiapkan kandidat lain yang lebih cocok.
Atau sudah daftar mau pergi haji, sudah dipotret, sudah manasik, dan sudah siap untuk berangkat, tiba-tiba kita menderita sakit sehingga batal untuk berangkat. Apakah ini suatu kerugian? Belum tentu! Siapa tahu ini merupakan nikmat dan pertolongan dari ALLOH, karena kalau berangkat haji belum tentu mabrur, mungkin ALLOH tahu kapasitas keimanan dan kapasitas keilmuan kita.
Oleh sebab itu, sekali lagi jangan terpukau oleh hasil, karena hasil yang bagus menurut kita belum tentu bagus menurut perhitungan ALLOH. Kalau misalnya kualifikasi mental kita hanya uang 50 juta yang mampu kita kelola. Suatu saat ALLOH memberikan untung satu milyar, nah untung ini justru bisa jadi musibah buat kita. Karena setiap datangnya rizki akan efektif kalau iman kitanya bagus dan kalau ilmu kitanya bagus. Kalau tidak, datangnya uang, datangnya gelar, datangnya pangkat, datangnya kedudukan, yang tidak dibarengi kualitas pribadi kita yang bermutu sama dengan datangnya musibah. Ada orang yang hina gara-gara dia punya kedudukan, karena kedudukannya tidak dibarengi dengan kemampuan mental yang bagus, jadi petantang-petenteng, jadi sombong, jadi sok tahu, maka dia jadi nista dan hina karena kedudukannya.
Ada orang yang terjerumus, bergelimang maksiat gara-gara dapat untung. Hal ini karena ketika belum dapat untung akan susah ke tempat maksiat karena uangnya juga tidak ada, tapi ketika punya untung sehingga uang melimpah-ruah tiba-tiba dia begitu mudahnya mengakses tempat-tempat maksiat.
Nah, Sahabat. Selalulah kita nikmati proses. Seperti saat seorang ibu membuat kue lebaran, ternyata kue lebaran yang hasilnya begitu enak itu telah melewati proses yang begitu panjang dan lama. Mulai dari mencari bahan-bahannya, memilah-milahnya, menyediakan peralatan yang pas, hingga memadukannya dengan takaran yang tepat, dan sampai menungguinya di open. Dan lihatlah ketika sudah jadi kue, baru dihidangkan beberapa menit saja, sudah habis. Apalagi biasanya tidak dimakan sendirian oleh yang membuatnya. Bayangkan kalau orang membuat kue tadi tidak menikmati proses membuatnya, dia akan rugi karena dapat capeknya saja, karena hasil proses membuat kuenya pun habis dengan seketika oleh orang lain. Artinya, ternyata yang kita nikmati itu bukan sekedar hasil, tapi proses.
Begitu pula ketika ibu-ibu punya anak, lihatlah prosesnya. Hamilnya sembilan bulan, sungguh begitu berat, tidur susah, berbaring sulit, berdiri berat, jalan juga limbung, masya ALLOH. Kemudian saat melahirkannya pun berat dan sakitnya juga setengah mati. Padahal setelah si anak lahir belum tentu balas budi. Sudah perjuangan sekuat tenaga melahirkan, sewaktu kecil ngencingin, ngeberakin, sekolah ditungguin, cengengnya luar biasa, di SD tidak mau belajar (bahkan yang belajar, yang mengerjakan PR justru malah ibunya) dan si anak malah jajan saja, saat masuk SMP mulai kumincir, masuk SMU mulai coba-coba jatuh cinta. Bayangkanlah kalau semua proses mendidik dan mengurus anak itu tidak pakai keikhlasan, maka akan sangat tidak sebanding antara balas budi anak dengan pengorbanan ibu bapaknya. Bayangkan pula kalau menunggu anaknya berhasil, sedangkan prosesnya sudah capek setengah mati seperti itu, tiba-tiba anak meninggal, naudzhubillah, apa yang kita dapatkan?
Oleh sebab itu, bagi para ibu, nikmatilah proses hamil sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mengurus anak, pusingnya, ngadat-nya, dan rewelnya anak sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mendidik anak, menyekolahkan anak, dengan penuh jerih payah dan tetesan keringat sebagai ladang amal. Jangan pikirkan apakah anak mau balas budi atau tidak, sebab kalau kita ikhlas menjalani proses ini, insya ALLOH tidak akan pernah rugi. Karena memang rizki kita bukan apa yang kita dapatkan, tapi apa yang dengan ikhlas dapat kita lakukan. ***
1. Tidak ada yang namanya Kepahitan Hidup
Pernahkah kita mendengar dan mungkin membenarkan
pernyataan seseorang yang menceritakan tentang ‘pahitnya hidup’?. Di sisi lain
umumnya orang mengatakan itu hal yang lumrah. Sebagai manusia tentulah kita
akan mengalami manis-pahitnya kehidupan bukan?. Meskipun begitu, kita tidak
boleh memaknainya sebagai kewajaran yang bersifat absolut. Karena bila dilihat
dari sudut pandang ayat di atas -al kautsar-, yang mengatakan tentang melimpah
ruahnya nikmat yang diberikan Alloh, tentulah akan bertabrakan dengan kejadian
yang kita rasakan dalam hidup ini. Terutama yang berfaham kewajaran. Karena
tiap kajadian baik itu manis maupun pahit selalu ada hikmah yang mengiringinya.
Bila dilihat dari kaca mata batiniah, kita disuruh
mengambil i’tibar atau hikmah di balik setiap kejadian dalam hidup ini.
Disitulah kita akan menemukan nikmat hidup. Bagaimana cara memahaminya? dengan
cara bersinggungan lewat pahit manisnya hidup ini. Sebagaimana kita ingin tahu
seperti apa sabar itu, otomatis kita akan mengalami kejadian yang memaksa kita
untuk dapat menahan amarah kita. Tanpa mekanisme itu, kita hanya tahu kalimat
sabar tapi tidak memahami esensinya. Sebagaimana nasehat orang tua dulu,
’meskipun pahit jangan tergesa-gesa memuntahkan, siapa tahu itu obat. Dan
meskipun itu manis jangan tergesa-gesa memakannya, siapa tahu itu racun’.
Sebegitu pentingnya hal ini, dijelaskan juga di ayat
lain yaitu surat Ibrahim ayat 34, ” -dan- Dia telah memberikan kepadamu
-keperluanmu- dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya dan jika kamu
menghitung nikmat Alloh, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya
manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari -nikmat Alloh-”. Menghitung
nikmat Alloh ibaratnya menghitung bintang di langit.
Maka, andaikata kita berani memerdekakan alam fikir
kita, tidak terbelenggu dengan fenomena hidup ini. Selalu fokus pandangan kita
pada Sang Pencipta Segala Kejadian, sesungguhnya tidak ada istilah ’kepahitan’
dalam hidup ini atau apapun istilah yang kita gunakan. Yang ada hanya
kenikmatan hidup. Ketidak fahaman kita akan hidup secara tidak kita sadari alam
fikir kita telah terkontaminasi oleh polusi hidup yang kita ciptakan sendiri.
Kita telah mengotori kehidupan kita sendiri. Dampaknya, banyak yang ketakutan
dalam membeli sebuah harga untuk memilih.
Bagaimana kita bisa merasakan manisnya hidup bila kita
tidak pernah merasakan pahitnya hidup? bagaimana kita bisa mengatakan air itu
manis bila -barang setetespun- belum pernah mencicipi rasa air yang pahit?.
Hidup adalah pilihan. Semua orang di belahan bumi manapun akan memilih
‘kemanisan’ dalam hidupnya bukan?. Karena itu adalah fitroh manusia. Namun
sayang, manusia banyak yang mengkebiri potensinya sendiri hanya gara-gara
sebuah keadaan -putus asa-. Manusia banyak mengakhiri perjalanan hidupnya
-impiannya- yang sebenarnya belum berakhir.
Jika kita berpandangan bijak, tentulah kita akan
menemukan kefahaman baru kalau sesungguhnya kepahitan hidup hanyalah proses
atau perjalanan awal untuk sampai pada manisnya hidup itu sendiri. Bila kita
berjalan terus tentu kita akan sampai. Berhubung kita berhenti di tengah jalan
maka dalam hidup akan selalu menemukan kepahitan. Kondisi ini jika kita
rumuskan, ‘Bila kita ingin sampai ke ‘angka 9’, maka konsekuensinya kita harus
melalui ‘angka 0,1,2,3, 4,5,…....8’.
Bila kita runut dari uraian di atas, pada hakikatnya
yang ada dalam hidup ini adalah kenikmatan atau kemanisan hidup. Dan yang perlu
kita tekankan di sini adalah ‘melewati kepahitan hidup’ dengan ‘pahitnya hidup’
tidaklah sama pengertiannya. Ternyata kita hanya ‘melewati’. Sekali lagi! hanya
lewat alias numpang lewat.
Proses ’numpang lewat’ untuk sampainya pada manisnya
hidup tidak lain karena Alloh sedang membimbing kita untuk merasakan
hidangan-Nya secara utuh -lengkap-. Kita sebenarnya telah di bimbing sekaligus
di ajari merasakan karunia-Nya beserta rute untuk sampai ke nikmat tersebut.
Dengan begitu rasa syukur kita menjadi lebih sreg dan juga point plusnya
sebagai sarana informasi bagi yang ingin menanyakan tentang nikmat-Nya. Bila
dipertegas, tentulah ’proses numpang lewat’ tersebut sebenarnya juga bagian
dari nikmat itu sendiri. Terangkum dalam bahasa penuh makna. Surat Al Kautsar.
2. Letak Nikmat
Setelah kita menjadi jelas kalau ternyata kepahitan
hidup bukanlah kalimat terakhir tapi hanyalah sebatas proses transformasi untuk
sampainya kepada kesadaran baru tentang tidak adanya kepahitan dalam hidup ini,
tentunya titik final perjalanannya adalah menemukan letak nikmat itu sendiri.
Pada umumnya kenikmatan hidup selalu diukur dengan
berbagai macam keberhasilan. Padahal ukuran keberhasilan tidak lebih dari
penilaian orang sekitar dan banyak yang melupakan rasa kepuasan daripada
keberhasilan itu sendiri. Justru yang di tuju harusnya ’rasa puas’ tersebut.
Karena kepuasan bisa dikatakan ’rasa internal’ manusia yang bersifat original
yang tidak dapat dibandingkan dengan rasa puas sebab penilaian di luar dirinya.
Tentunya rasa puas yang dapat memunculkan karakter syukur sebab konsepsi
memandang ’sudah sejauh mana saya melangkah’ dan bukan ’seberapa jauh saya
harus melangkah’. Sebagaimana Sabda Rosululloh -dalam bahasa ringkasnya- ”Hari
ini harus lebih baik dari hari kemarin”.
Konsepsi tersebut setidaknya akan mengikis hasrat
pribadi sebuah kepalsuan syukur, ”...Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan
sangat mengingkari -nikmat Allah” -Ibrahim 34- sebab faktor ketidaktahuan akan
letak nikmat yang kian hari kian meninggalkan pusat orbitnya. Dengan kita
memahami ini, maka apapun realita hidup yang kita hadapi tidak akan pernah
lepas dari pusat sentral kenikmatan. Kehidupan ini akan selalu dikelilingi oleh
nikmat itu sendiri. Pujian orang sekitar tidak masuk dalam daftar pemikiran
kita.
Ketidaktahuan akan letak nikmat hidup menyebabkan
manusia secara tidak sadar malah menjauhkan diri dari kehidupannya yang hakiki.
Walaupun ada juga yang mengatakan bahwasannya nikmat awal yang wajib kita
syukuri dalam hidup ini adalah nikmat hidup itu sendiri, setidaknya manusia
juga harus mengetahui letak nikmat yang ada dalam hidupnya agar dalam memandang
sebuah kenikmatan tidak salah letak keliru pasang. Sekarang, ”bagaimana caranya
agar dalam hidup ini manusia selalu berada dalam nikmat hidup?” tentu kita
harus mengetahui dimana kira-kira letaknya nikmat.
Membicarakan masalah ‘letak nikmat’ sama halnya
membicarakan masalah ‘sumber nikmat’ itu sendiri. Dan sumber nikmat itu tidak
lain terletak dalam diri kita pribadi. Kenapa kita tidak mengatakan sumber
nikmat adalah Alloh? karena Alloh bukan sumber nikmat, tapi lebih tepatnya
Sumber dari segala Sumber nikmat. ‘Sumber’ dengan ‘Segala Sumber’ tentulah
mempunyai perbedaan makna dan pengertian.
Benarkah sumber nikmat itu ada di dalam diri kita?
coba kita renungkan, kenapa kita bisa menikmati indahnya pemandangan alam,
sejuknya angin di pagi hari, segarnya air pegunungan, dan seterusnya. Dan tidak
kalah pentingnya adalah dapat mengenal Sang Pencipta jagat raya ini.
Subhanalloh, semua itu bisa ternikmati karena kita tercipta dalam wujud
manusia. Ciptaan yang paling sempurna diantara segala ciptaan-Nya. Bayangkan
bila kita diciptakan Alloh tidak sebagai manusia, bisakah kita nikmati kesemua
itu?. Lebih-lebih hidangan yang bersifat batiniah
-spiritual-, tentu tidak bukan?.
Jelas sudah! manusia adalah letak atau sumber nikmat
itu sendiri. Itulah nikmat awal yang kita wajib untuk mensyukurinya. Syukuri apa
yang ada dalam diri ini, insyaAlloh apa yang ada di langit dan di bumi akan
mensyukuri keberadaan kita -nikmat hidup-.
3. Dibalik kalimat Basmalah
Setelah kita memahami bahwasannya dalam mengarungi
hidup ini ternyata tidak ada yang namanya kepahitan hidup dan juga kenyataan
sebenarnya bahwa manusia adalah letak nikmat itu sendiri. Tentulah penyebab itu
semua dikarenakan sebegitu besarnya Kasih Sayang Alloh pada manusia. Dan untuk
mempertegas kembali bahwa wujud Cinta adalah An Nas, maka kita harus mengetahui
juga dimanakah kira-kira Alloh meletakkan Kasih Sayang-Nya. Dengan begitu kita
akan semakin lebih tahu apa hubungannya dengan diri kita yang notabene sebagai
‘yang terpilih’ -ciptaan paling sempurna-.
Sesungguhnya letak Kasih Sayang Alloh bersembunyi di
balik kalimat Basmalah -hikmah-. Kalimat yang tidak asing buat kita. Kalimat
yang selalu mengiringi segala aktifitas yang akan kita lakukan. Dan hubungannya
dengan diri kita sebagai ‘yang terpilih’ adalah sebagai tali pengingat supaya
di setiap segala aktifitas hidup kita tidak lupa akan Kasih Sayang Alloh yang
dengan-Nya kita tercipta dalam wujud manusia. Dengan begitu segala aktifitas
yang kita lakukan di kehidupan ini akan selalu memancarkan Cahaya Kasih
Sayang-Nya. Hidup damai diantara sesama. Kesemuanya terangkum dalam kalimat
suci. Basmalah. Sebagaimana sabda Rosululloh, ”Tiap-tiap perbuatan yang
dianggap baik tetapi tidak dibacakan Basmalah ketika akan memulainya maka
perbuatan itu akan menjadi puntung -terputus dari rahmat Alloh-”. Sabdanya yang
lain, ”Tatkala turun ‘Basmalah’ Alloh bersumpah dengan kemuliaan-Nya dan
keagungan-Nya bahwa tidaklah ia di baca atas sesuatu melainkan Alloh akan
memberkahinya”.
Dalam redaksi lain, panutan dan sekaligus junjungan
kita Nabi Muhammad saw bersabda, ”Sesungguhnya Basmalah itu adalah merupakan
pembuka dari semua kitab-kitab. Sungguh!, Basmalah itu sangat mulia dan banyak
rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya”. Dengan kalimat itulah langit dan
bumi beserta segala isinya tercipta yang merupakan wujud dari keindahan
wajah-Nya. Semua kebaikan yang bertebaran di alam ini adalah wujud dari Sifat
dan Asma-Nya. Semua yang maujud di alam ini hakikatnya adalah manifestasi
Diri-Nya dan puncaknya adalah Manusia.
Achmad Chodjim -penulis bukunya Syekh Siti Jenar ’makna
kematian’- mengatakan dalam bukunya, walaupun semuanya berasal dari realitas
yang tunggal. Berasal dari Iradat yang Maha Tunggal, tetapi yang paling unggul
diantara semua realitas adalah Manusia. Tempat yang sempurna untuk menampakkan
eksistensi-Nya. Bukan karena sosok jasmaniahnya tetapi potensi yang ada di
balik jasmani itu sendiri. Terpercaya sebagai khalifah-Nya. Sebagai pemakmur
bumi.
Bisa dipastikan ‘Kata Kunci’ untuk memperjelas wujud
Cinta adalah Basmalah. Karena semua bermuara dari Kasih Sayang-Nya. Langit dan
bumi ada karena Kasih Sayang Alloh, Tumbuh-tumbuhan beraneka warna dan jenis
tercipta karena Kasih Sayang Alloh. Air mengalir dan gunung-gunung menjulang
tinggi karena Kasih Sayang Alloh. Dan puncak kesempurnaan gambaran Kasih
Sayang-Nya adalah Manusia. Manusia adalah kasih sayang itu sendiri, berwujud
dalam bentuk yang paling indah. Sosok Manusia. Dimana keberadaannya sudah ada
sebelum diadakan. Bagaikan Buah Hati yang terlahir dari seorang Ibu.
Maka, sepantasnyalah manusia selalu menebarkan kasih
sayang dalam hidupnya, lebih-lebih pada sesamanya. Kanjeng Nabi Muhammad
bersabda, ”Demi Zat yang jiwaku di bawah kekuasaan-Nya, tidaklah beriman
seorang hamba sampai ia menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagai mana ia
menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri”.
Setelah kita memahami bahwasannya Wujud Cinta tidak
lain adalah Diri Kita Pribadi, tentulah yang tepat untuk mewakili lambang Cinta
adalah sosok manusia itu sendiri. Lambang cinta adalah manusia.
’Lha terus..., bagaimana dengan gambar daun waru
dengan warna merah yang selama ini diyakini kebenarannya sebagai lambang
Cinta?’. Semua berpulang pada pribadi masing-masing dan yang terpenting semua
mengerti, memahami dan tidak melupakan substansi wujud hakikinya. Manusia itu
sendiri. Dengan begitu manusia akan selalu terarah dalam mengimplementasikan
Cinta di setiap perjalanan hidupnya. Cinta yang selalu membawa keselamatan
sekaligus kemaslahatan buat diri pribadi dan lingkungan sekitar. Sebagaimana
diisyaratkan Rosululloh bahwa ciri manusia paling baik diantara manusia adalah
yang paling dapat memberikan kemanfaatan bagi sesama.
Saturday, June 8, 2013
Rahasia Laki-laki Penghuni Surga
Rahasia Laki-laki Penghuni Surga
posted oleh :Abdoel munawar
Salah
satu amalan yang harus diamalkan umat Islam adalah menjauhi sifat iri
hati, dengki dan hasad. Menjauhi sifat-sifat yang bagaikan virus
itu, merupakan bagian dari sikap yang harus dilakukan umat Islam. Sebab
hal itu bukan saja merugikan bagi yang menjadi sasaran dengki dan
hasad, tetapi juga merugikan diri orang itu sendiri.
Ada kisah tentang tingkah laku seorang sahabat sahabat yang oleh Nabi Muhammad saw dijamin bakal menjadi penghuni surga yang kekal. Kisahnya demikian.
Rasulullah
pada suatu ketika duduk bersama sahabat. Saat itu lewatlah sahabat
lain. Sahabat itu tidak menonjol, biasa saja,. Tetapi kepada para
sahabat yang lain, Nabi berkata tentang sahabat yang satu ini. “Dia
adalah seorang lelaki calon penghuni surga,” kata beliau sambil menunjuk
lelaki itu.
Mendengar
itu, Abdullah bin Umar menjadi penasaran. Ia berupaya mengetahui
rahasia kehidupan orang yang dipastikan oleh Nabi sebagai penghuni surga
itu. “Apa amalan lelaki Anshar ini, dan apa pula kelebihannhya,” kata
Abdulah dalam hati.
Untuk
menyelidiki orang tersebut, Abdullah bin Umar pun meminta diperbolehkan
tinggal selama beberapa hari di rumah sahabat yang dikatakan Nabi calon
penghuni surga itu. “Jika tidak keberatan, aku ingin tinggal bersamamu
untuk beberapa hari saja,” katanya. “Ada apa dengan kamu?”
“Aku
baru saja bertengkar dengan ayahku. Dan aku bersumpah tidak ingin
bertemu dengannya selam tiga hari ini,” kata Abdullah berbohong. “Boleh,
silahkan kapan saja dan berapa lama pun bisa,” kata sahabat itu dengan
ramah.
Selama
tiga hari itu, diamatinya tingkah laku dan tindak tanduk sahabat itu
dalam kehidupan sehari-harinya. Namun, setelah beberapa hari tinggal
beberapa hari di rumah sahabat itu, Abdullah tidak menyaksikan kelebihan
amalan atas sahabat itu. Ia menyaksikan kehidupan bakal penghuni surga
itu biasa-biasa saja, amalan shalatnya pun biasa-biasa saja.
Saat
hendak pamit, Abdullah terpaksa “membuka kartu” dan bertanya kepada tuan
rumah bakal penghuni surga itu. “Saudaraku, sebenarnya aku tidak
apa-apa dengan ayahku,” kata Abdullah. “Lalu ada apa kau tidur di
rumahku?” tanya lelaki Anshar itu. “Beberapa hari yang lalu, ketika kami
sedang berkumpul dengan Nabi di masjid, beliau mengatakan bahwa
sebentar lagi akan ada orang Anshar calon penghuni surga masuk ke masjid
itu. Dan laki-laki Anshar yang disebut-sebut Rasulullah itu adalah
kamu.”
“Ah,
benarkah begitu?” kata lelaki Anshar itu merendahkan diri. “Benar, Nabi
berkata begitu. Cuma kini kami ingin tahu, apa sebenarnya amalan tuan
sehingga Rasulullah memastikan tuan akan masuk surga?” tanya Abdullah.
“Oh, jadi selama ini kamu menyelidiki aku ya?”
“Ya,” katanya terus terang.
“Tak
ada amalan khusus yang aku amalkan. Beginililah kehidupan saya
sehari-hari sebagaimana yang anda saksikan sendiri beberapa hari di
sini.” Kata sahabat Anshar itu. Mendengar jawaban itu, Abdullah semakin
penasaran. “Tetapi masih ada sesuatu yang anda rahasiakan kepadaku.”
Pada
akhirnya orang bakal penghuni surga itu juga ikut ”membuka kartu” dan
mengungkapkan apa adanya. “Sesungguhnya yang aku amalkan dari ajaran
Nabi adalah biasa saja. Aku berusaha sekuat tenaga tidak akan melakukan
perbuatan yang merugikan sesama kaum Muslimin. Aku berusaha selalu
berusaha membersihkan hatiku dengan tidak pernah memiliki sifat iri hati
serta menaruh rasa dengki dan hasad kepada orang lain sepanjang
hidupku. Apalagi hasad terhadap kenikmatan yang diterima orang lain.
“Hanya itu?” tanya Abdullah. “Ya,” jawabnya.
Mendengar
pengakuan jujur lelaki itu, Abdullah bin Umar semakin takjub
mendengarnya. Secara lahiriah, amalan lelaki Anshar itu tak terlalu
istimewa. Tetai secara rohaniah, amalan itu sungguh luar biasa. Bukankah
memang banyak orang yang mampu menunaikan shalat tetapi tak mampu
menjaga hatinya dari rasairi, dengki, hasad dan prasangka buruk kepada
orang lain.
“Subhanallah,
rupanya inilah amalan utama yang telah menjadikan dirimu mendapat
kemuliaan di surga,” kata Abdullah di dalam hati sambil berpamitan
meninggalkan rumah lelaki itu.
Begitulah
rahasia yang ditemukan Abdullah bin Umar pada sahabat itu, sehingga ia
mendapat jaminan Rasulullah akan menjadi penghuni surga. Kuncinya tidak
iri hati, hasad, dan dengki kepada orang lain.
Amalan
shalat sebanyak apapun tidak akan berguna jika di dalam hati orang itu
masih terdapat sifat dengki dan iri hati. Orang yang terpuji di sisi
Allah adalah orang yang menjalankan shalat dengan ikhlas dan menjauhi
sifat dengki dan hasad seperti sahabat itu.#####
Friday, June 7, 2013
MELINTASI PANTAI UTARA
Melintasi pantai utara,Limas belas tahun silam,….
tanganku terasa masih bergayut di laut kegelisahan…
Perjalanan masih ku anggap suci seperti masa kanak kanaku ,
Yang menyisakan kesedihan,
Ku cium harum Jakarta dengan kerinduan
Yang membusakan mimpi mimpiku
Ku gandeng tali tasku dengan menirukan
Deru kapal kapal di pelabuhan
Tiba tiba kudengar sayup doa ibuku di negeri seberang
Pelan dan perlahan lahan….
Seperti segenggam
cinta yang rebah dalam cuaca
Ibu kota yang
meradang….
Sampai di kota legenda,lima belas tahun silam,
Hatiku mestinya di isi puisi yang bersinar keemasan…
Air mata yang mengalir,menyuburkan daun daun jiwaku….
Ku kenang ibuku menembangkan do’a
Sambil mengupas helai demi helai daun jagung dan nyiutr
padi,,,,
Aku menyungsungkan pikiran dalam ombak pantai utara yang
mengucap
Selamat datang………
Meski masih ku dengar kawan sepermainanku membamgkitkan
kesunyian,
Menjadi sesuatu yang paling ungu dan paling mengharukan…
Sampai di kota legenda,lima belas tahun silam,
Aku membidik cahaya ibuku dari telaga paling sunyi
Tapi hatiku masih saja ter mangu dengan pertanyaan yang
sesak….
Jakarta …..
Aku harus membangun seribu piramida
Dari seribu harapan yang menggunung di pundak ku
Seperti kelak tuaku,terbang melintasi anak anaku…
Yang lebih sejuk dari air di telaga batinku…..
Abdoel munawar
Subscribe to:
Posts (Atom)