My Blog List

My Blog List

link Facebook "Doel Mahessa Jeenar"

Wednesday, October 2, 2013

Kata kata untaian Hati,Tentang Cinta & CLBK By"Abdoel Munawar"

Ketika Tunas itu tumbuh serupa tubuh yg mengakar..satu nafas terhembus adalah kata...Angan,Debur dan Emosi menyatu,menyatu dalam jubah terpautan...tangan kita Terikat..Lidah kita menyatu,Maka setiap apa yg terucap adalah SABDA PANDITA RATU..Diluar itu pasir..Diluar itu Debu..Hanya angin meniup saja lalu hilang..tak berbekas..tapi..kita tetap MENARI..tarian cuma kita yg tau..jiwa ini adalah Tandu,duduk saja..Maka akan kita bawa semua..KARNA KITA ADALAH SATU
Rasa RINDU di hati,tak bisa ku tahan lagi...seharus nya semua cukup sampai di sini..tetapi masih saja aku menanti..menanti harapan yg tak Pasti
Disaat kupandang luas Cakrawala,yg berhiaskan bintang bintang angkasa..indah..betapa indahnya,kembali bayangmu mengusik ku,dan teringatlah aku pada dirimu..pada cintaku yg tlah Berlalu..oh,sungguh Rindu..sungguh aku rindu..entah dimana kini kau berada..dan aku Masih di sini tuk SELALU CINTA
Tak pernah terpikirkan,lama sudah ku tertahan didalam indahnya sebuah KENANGAN,dan kini baru ku sadari,ku terlalu memaksa diri,MENGEJAR ANGAN YANG TAK PASTI
Disini,didalam hatiku,masih ada Rasa cinta yg seperti dulu yg pernah ku berikan hanya kepadamu dengan sepenuh jiwaku...tapi kini tlah tiba saatnya tuk ku Ucapkan sebuah kata.. SELAMAT JALAN WAHAI CINTA..SEKARANG DAN JUGA SELAMANYA..karna kini ku tlah lelah,semua Harapan hilang sudah
Bila malam gelap tiba.ingin ku menatapnya,sinar penuh makna,makna sebuah CINTA,tak ingin ku lelap,tak ingin ku terlelap oleh angin malam yg mengajakku ke dunia Impian..ku ingin terus terjaga,ku ingin terus menatapnya..menatap indahnya sang Rembulan malam..oh dewi Rembulan,sinarmu menembus relung hatiku,hati yg sedang berbunga karna terbuai oleh Ucapan Cintanya
Wahai lilin kecil ku,kau sangat cantik hari ini,kau tunjukan padaku keGembiraan diduniaku..hari hariku dan jiwaku menjadi sungguh sangat terhibur..kau tlah hangatkan pikiranku,kau tlah memberi jalan padaku tuk menuju cinta..aku kan berusaha menjaga nyalamu,seperti Mentari,kau menyinari seluruh duniaku,seperti udara,aku takan dapat bernafas tanpamu,seperti Mutiara,kau begitu Murni..kau adalah sesuatu yg terbaik yg pernah aku Miliki,dan kau adalah semangat,yg menuntunku menjalani disebuah perjalanan panjang ini
Aku akan BERUSAHA menjadi yg terbaik dan memberikan yg terbaik untuk cinta kita..semoga cinta kita utuh..tak terbagi slamanya..takan bosan ku mengatakan " I LOVE U WILL ALL MY HEART "
Saat ku tulis puisi ini,anganku jauh menghampirimu..disini ku sadari,betapa berartinya dirimu.sebab kaulah SEMANGAT hidupku,walau ku tau,kau pernah melukai perasaanku,kau pernah menduakan Cintaku..sejujurnya ku katakan,tanpa dirimu disisiku,hidup ini takan ada artinya,kau sudah menjadi nafas hidupku,dan belahan jiwaku..senyum mu,santun prilakumu,suaramu,kasih sayangmu,,selalu ku RINDUKAN,stiap detik,menit maupun hari...semoga Cinta ini Abadi,walaupun kau tak pernah ada disisiku lagi
Walau dirimu takan lagi menjadi bagian dari HIDUP yg akan ku jelang nanti..namun satu yg pasti,bayang dirimulah yg slalu temaniku didalam angan angan ini,dan takan berhenti Hadirkan kekuatan dalam hati,tuk Menggapai semua Mimpi Mimpi
Dikala pagi tiba,ku masih terjaga,surya merekah sungguh indahnya,sinarnya perlahan sinari jagad raya,ku dengar bisikan bunga bunga dan burung pun bernyanyi,menghibur hati yg sunyi ini..sejenak ku terbuai lupakan semua nya,semua Rasa CINTA yg dulu pernah ada
Ku tau..tak ada Cinta yg ABADI,.semua hanya datang dan pergi,ku tau dia takbisa Mencintaiku lagi,dan tak seorang pun yg bisa di Salahkan,karna cinta bukan lah siksaan,karna cinta tak bisa di PAKSAKAN
Dikala pagi tiba,ku masih saja terjaga,ku coba pahami semua yg tlah terjadi..dan disini sepi ku SENDIRI menanti hadirmu kekasih hati,yg tlah lama pergi,tinggal kan ku dlm kerinduan yg takbertepi ini
Tak terasa Malam tlah habis perlahan,diriku belum juga dapat Tertidur,karna sulit ku pejamkan mata ini..Disaat Bayang wajahmu tak mampu KUHILANGKAN
Disini SEPI ku sendiri,Rindukan hadirmu Kekasih hati,yg tlah lama pergi dan tinggalkan sejuta LUKA di hati
Tak pernah diri ini BERMIMPI tuk mendapatkan mu kembali,tapi entah dimana didalam Hati ini yg tak ingin KEHILANGAN mu,ada sesuatu yg Memaksaku tuk Terus MENCINTAImu
Biarlah semua BERLALU tak ingin lagi ku Mengingatmu..Biarlah ku Sendiri dg DERITAku,biarlah ku coba hilangkan smua luka di Hatiku tanpamu
Wahai angin sampaikan padanya,Betapa ku MENCINTAInya..katakan padanya bahwa aku RINDU..bujuk kah ia wahai angin tuk Membuka Hatinya kembali untuk ku..katakan padanya..ku Mohon katakan padanya,bahwa aku disini MASIH SAYANG padanya
Aku dengar detak jantungmu,bicara seribu detik,suara halusmu dan mendayu dayu dikelopak mata hatiku yg tlah Retak..kini kita tlah terpisah oleh laut yg dalam,dan aku bicara dg Air Mata kesabaran..mungkin penantian tlah ditentukan,Betapa pun sulitnya..mungkin kita takan dapat ,dan tak pernah dapat LAGI tuk BERSAMA..
Ajari aku tuk Membenci mu,ku ingin mencoba tuk melupakan dirimu,dari semua yg tlah ku lewati bersamamu..entah terkadang kala,kau menyelubuhi hatiku dan mengajak Hatiku,tuk slalu saja MEMIKIRkan mu..ku akui,kau begitu indah yg dulu pernah hadir didalam Hidupku dan stia menemani distiap kesepian kesepian ku..walaupun kini kita tlah terpisah antara Jarak dan Waktu,namun cinta dan sayangku takan pernah pudar..slalu Untuk mu
TUHAN,.kau laksana badai yang mengamuk,dan aku adalah debu yg diterbangkan,kau ciptakan ku mempunyai kaki,tapi tak kau berikan tempat tuk ku berpijak lagi..kau sebarkan benih cinta di hatiku,tapi mengapa,kau tumbuhkan pula rumput berduri di sekitarnya..hingga lelah rasaku dalam harapan..kini sia sia penantian panjang itu,sampai gersangku menunggu..namun semuanya hanyalah Semu
Seperti apa khayalmu..seperti apa mimpimu..seperti apa asamu..seperti apa inginmu..mungkin aku bukan lah pilihan terbaik mu.aku bukan lah orang yg patut mendampingimu..dan aku bukanlah orang yg ada di dalam khyalmu,dan aku bukan lah orang yg ada didalam mimpi mimpimu...ku takut kau kecewa,ku takut kau terluka,karna ku sadari,ku taksesuai khayalmu,ku tak sesuai mimpimu..dan seperti inilah diriku,seperti inilah wajahku,dan seperti inilah aku...yang tak sebanding dengan dirimu,yang tak pantas tuk memilikimu.
Kala rasa rindu merayap,slalu ku teringat Wajah mu..kala malam tlah beranjak gelap,slalu ku teringat sinar penyejuk ku yg memancar dari sorot matamu..saat bintang terlihat jatuh,,kembali ku teringat indahnya senyum manismu..mungkin kini cintaku dan jiwaku tlah terbang bersama kegundahan dan penantian ku..karna dg dirimu,ku mampu mengisi sgala kehampaan hati ini.
Tlah ku mencoba merangkai kata,tuk ciptakan sebuah makna..tapi entah mengapa sulit tuk ku ucapkan lewat bibir ini..karna dihati ini masih tersimpan sejuta kata untuk mu,namun hanya bisa ku tuangkan diatas secarik puisi penantian ini...ingin ku coba beranikan diri tuk berkata jujur..bahwa Sebenarnya...sampai saat ini dan detik ini..AKU MASIH SANGAT SAYANG PADA mu.
Mentari mampu sinari seluruh alam,rembulan mampu menjaga setiap hati yg tenggelam dalam kerinduan,tapi adakah yg Sanggup sepertiku,menjadi yg SEJATI di hidup mu
Kembali teringat sebuah cerita cinta,dimana dua insan dalam nuansa birunya cinta,indah terasa begitu SEMPURNA..dimana mentari hangatkan kita,rembulanpun tak mampu berkata,seakan mereka pun ikut Menylsikan nya...kini semua hanya tinggal kenangan,dan berakhir dalam perihnya Kerinduaan
Biarkan ku Hapus RESAH mu,biarkan ku Miliki semua Kerinduan kerinduan mu..aku ada untuk mu..dan SEJATI dalam hidupmu..kan ku lukis Cinta kita pada mentari pagi..kan ku ukhr kisah kita hingga Malam malam yg akan datang nanti
Saatku Terbakar rindu,kau Dimana..ketika hati terkoyak oleh KANGEN..kau Dimana...jiwaku tlah Terpasung dalam cintamu..kini yg tertinggal,hanya asaku yg hampa,dalam ke Sia sia an.
Kenyataan tlah membuat Hatiku TERLUKA..waktu tlah ikrarkan KEPALSUAN rasa..mimi tlah Hanyutkan ku ke dalam Kerinduan..dan kau tlah Larungkan segala Asa yg ku DAMBA
Ku tau tak ada cinta yg abadi..smua hanya Datang dan Pergi..ku tau,kau tak bisa Mencintaiku lagi,aku pun tersadar bahwa tak ada seseorangpun yg disalahkan..karna cinta tak bisa Dipaksakan..karna cinta bukanlah SIKSAAN.
Adakah kau tau,ku selalu menanti hadirmu disampingmu..kasih,ku berharap,kita bersama lagi ttk menjalani hari hari yg akan kita lalui nanti...Sayang,ku doakan kau Bahagia dengan dirinya,dan tlah ku MAAFkan smua kesalahan yg ada..ku ingin kau tau...Semua yg tlah kau lakukan padaku,tak mengubah sedikitpun Rasa Cinta Dan SAYANGku..kini,esok,dan sampai nanti,cintaku padamu kan tetap ABADI..
Apakah kau tau,betapa Dalam kau ku RINDU..apakah kau mengerti,betapa ke sungguhan rasaku,bahwa kau yg paling ku kagumi,dan begitu ku hargai..tapi aku hanyalah seorang pemimpi,dengan berjuta ilusi..yg hanya bisa MENCINTAI lewat kata kata dan Sebaris puisi...aku tak tau apakah Arti cinta..aku tak tau apakah arti Sayang..tapi yg ku tau hanyalah,ku ingin slalu bisa berada disampingnya,dan berbagi KEBAHAGIAAN dengan nya
Seindah pelangi senja,Secanti rembulan diangkasa..kau harumkan bunga cinta di jelaga hati yg sunyi..kau terangi semangat nalarku yg dulu mati karna cinta yg telah disia siakan.

Tuesday, October 1, 2013

CERITA PAGI TENTANG AKU DAN HATIMU

Kenangan indah takan pernah bisa ku hapus di memory hati dan fikiranku. Bagaimana aku bisa menganti namamu di hatiku sedangkan di hatiku masih ada namamu? Apa ini yang terbaik untuk kita? atau hanya untuk dirimu? Aku di sini terluka, sedangkan kau telah bahagia. Ku tahan semua tetesan air mataku, hanya ku tak ingin kau melihatku menangis. Tapi hati dan mataku gak bisa berbohong, Setiap bertemu rasa air mata ini mau menetes. Kenapa ? ku mengenlamu hanya selintas saja ? Aku rindu sangat rindu padamu. Ingin ku ulang saat-saat bersamamu, tapi apa semua mungkin terjadi? Kini kau tlah menjadi miliknya, yang bisa bahagiakanmu, yang bisa mengerti dirimu, dan slalu ada untukmu? Harus kah ku salahkan keadaaan? Haruskah ku salahkan waktu? Apa aku yang paling salah disini? kenapa ku hanya bisa ungkapan semua lewat kata-kata? Ku ingin katakan semua padamu. Tapi apa aku mampu? Bisa kah hatimu mendengar jerita hatiku? yang setiap waktu, jam, menit dan detik menyebut namamu? Takkan pernah bisa ku membencimu, karena di hatiku masih ada namamu.
Ku ingin kau ada di sini bersamaku, ku ingin kau mampu menghapus air mataku. Ku ingin katakan padamu 'aku, hanya butiran debu tanpamu.' ku harap kau tahu semua isi hatiku. Jika kau masih sayang padaku, kau akan mampu datang menghampiriku dan mengatakan 'gak ada hal indah yang mampu ku miliki selain dirimu, gak ada saat-saat indah di hidupku kecuali denganmu n gak ada yang mampu menganti namamu dihatiku.'
Ku ingin memandang wajahmu, ku ingin melihat senyumanmu, mendengar suaramu, n menatap indahnya matamu. Ku tak ingin miliki ragamu, ku hanya ingin miliki hatimu. Kenang aku, slalu ingat aku dan saat-saat indah besamaku dulu. Hanya itu yang ku minta. Andai ku tahu suatu saat nanti ku akan terluka, aku takkan pernah sia-siakan waktuku bersamamu.Waktu tlah berputar, bukan jarak yang memisahkan kita, tapi waktu dan keadaan. dan aku n kamu takkan pernah bisa menjadi KITA......


Ini hanya cerita harapan,,tidak ada unsur untuk menyudutkan Atau memaksakan kehendak seseorang ,,
karena cerita hanya cerita....

Friday, September 27, 2013

TENTANG KISAH KITA

mengingatmu adalah kesunyian yang jatuh
terlewat jarak sejauh waktu yang jatuh
melepas sejuta kenangan serapuh gaduh
ranting pun gemertak patah ketika mengingatmu
mengguncang separuh jiwa yang kosong karena ngilu
ketika jejak langkah menyatukan separuh jiwa itu
lalu membumikan yang tak pernah dimengerti bersamamu

“maka perpisahan yang tercampur dalam irama katakata
semakin jauh kita lepaskan dari tubuh kesendirian”

dan detikdetik jam mengeluh lelah
setiap berputar melawan arah
melepas penat karena payah
menyatukan jarak yang tak pernah sudah
maka pergilah segala sumpah segala seranah

lihatlah, malam ini angin malas berhembus
udara yang turun begitu dingin menembus rusuk
merasuk lewat sebaris kata yang pernah kita susun bersama
saat malam gelapgulita

(kau dan aku membangun cinta lewat suara
dari makna dari gemuruh dalam dada
dan resah setiap senja
yang pernah kita pandang bersama)

di teras belakang kerik jangkrik terdengar sirik
memanggil bintang memanggil rembulan yang terusik
mungkin bisa disatukan dalam sebuah ikatan
tempat berlabuhnya sebatang malam setengah diam
dan berbaris menatap semua kerinduan yang demam
karena dendam paling dalam pada kesunyian

setiap hari, bahkan waktu yang terlewati
kau titipkan sebuah keterpurukan rasa sayang ini
yang pernah memberi warnawarni
pada awan silut senja dan dawai mimpi
yang tercipta lewat sebatang ingatan sepi

(mungkin hanya cukup sebuah ketaksengajaan,
tapi memang harus diakui
semua yang terjadi hanya mampir
untuk sekedar memberi salam lalu pulang)

Sunday, September 22, 2013

KU NIKMATI AKHIR CERITA INI

terlerai sudah semua harap...
Menyerah pada setiap kesakitan...
Penuh duka dan kehampaan...

perih yang terasa...
Adalah jawaban dari bimbang..
Paksa asa kembali terpuruk..
Bersama cinta yang tak tergapai..

Tak mampu lagi bertahan...
Dalam bimbang cinta tak bertuan...
Jiwa terkoyak batin mengerang..

Beribu sesal merejam...
Harus terlepas belahan jiwa..
Yang setia dalam sukma...
Meski tak sanggup hadapi luka..

Karena cinta tak nyata...
Karena asa tak teraih..
Terdampar di lautan kedukaan...
Bersama pilu yang terbungkam...

Lepaslah engkau kini cahaya
tebarkan pesona di angkasa
biarkan aku merintih...
Lirih menahan perih...

DENGARLAH PEDIHKU TUHAN

tuhan ku.....
seandainya aku mampu menolak rasa,
pasti kan ku tolak perasaan cinta
yang hadir membawa sayatan luka,,,
Seandainya kau tak berkehendak atas dia ,,
yang harus hadir dalam kehidupanku,
maka aku tak pernah berharap dia ada mengisi hari hariku.....
Tuhan,,,,
Aku hina di matanya,,,,
aku yang dia anggap hanya onggokan sampah,
dari isi yang pernah ada,,
sekarang tak lgi dapat membaca
,semua gelap ya tuhaaan,......
aku tak pernah bermaksud melukainya,,,
semua hanya karena perasaan yang kau hadirkan padaku,
'semua atas kehendak mu yang mempertemukan ku denganya tuhan,,
Aku tak menyesali ini,
,hanya saja Aku bertanya
mengapa....
Seandainya aku mampu mengakhiri semua ini..
tuhan....

Wednesday, September 18, 2013

Sepenggal perjalanan menuju kotamu….




Langit bermuram seolah penuh Tanya,,Ada apa dengan rembulan malam ini???Dan anginpun membisikan sesuatu kepadaku tentang lingkaran pertanyaan yang sampai saat ini belum mampu ku pecahkan….HIngga di ujung senja laju kereta membelah sunyi malam ,bersama hembusan angin di pekat malam,Namun tumpukan harap membeku di atas gerbong,membatu keras dalam bisunya ribuan pertanyaan..Sementara kereta melaju semakin dekat menuju kotamu,,,,,
Aku berharap Angin membawa  kabar,.tentang rembulan yang mulai tertutup kabut malam,,,namun hingga pagi menjelang Angin hanya terdiam,,membisu dalam lingkaran penuh harap  yang semakin membuyar di bias pagi temaram……
Deru dan laju terhenti ,Langkah kaki teriring hiruk riuhnya pagi di kota legenda,,kota yang sempat membesarkanku….lelahku belum terbayar sebab kotamu masih ada di ujung tatapanku…Di atas lunglai harapan yang tak kunjung terang,ku pasrah di sudut kebimbangan,termangu dalam kesedihan,sebab Tak kunjung angin memberi  kabar,,dan senja pun berulang,,memetik tiap baris dari sekedar harapan….
Malam yang sangat menyakitkan,perjalanan ku tak berujung keindahan,,hingga rembulan benar2 menghilang di telan kerinduan,,,tak seharusnya aku menangis dan menyesali kegagalan,tapi perih tak bisa sembunyi dan di sembunyikan,,,hingga tiap tarikan nafas adalah sayatan yang susah untuk ter elakan….Ku coba  berlari melewati kotamu , tuk menutup kepahitan,di bawah hijau dedaunan berharap tenang mengisi kepekatan,,hingga hujan menggugurkan daun2 di talaga batinku,,namun harapan tinggal harapan….
Jalan ku tak berujung,tak ku temukan dirimu di kota itu,,karena perjalanan seolah2 lenyap dalam kebencian,,Aku masih saja terkurung dalam sejuta pertanyaan…dimana rembulan beberapa malam ini???? Hingga jalanku kembali menuju gerbong kesedihan berakhir penuh kepahitan……..

PUISI PUISI PENANTIAN

TERLALU BESAR UNTUK MU

Ditengah malam syahdu nan pekat
Ku teringat pada mu, bayangmu
Selalu melintas di kelopak mataku
Ku coba untuk melupakanmu
Namun bayang mu, trus menghampiriku
Sunyiku kau tabur bunga rindu
Kau bagai angin yang sejukkan
Jiwa ragaku…
Namun kini, sia-sia sudah mahligai cintaku
Mimpi indah tiada lagi, sirna terbakar
Kayu arang abu…
Ku coba bertanya pada malam
Dia membisu
Angin berlalupun, tak memberikan
Jawaban,,
Hanya satu yang terucap
Mengapa aku mencintaimu
Mengapaaku menyukaimu..

MUTIARA YANG HILANG


Bulan ini menjadi bukti
Goresan tinta berbayang sudah
enggan liukkan cairan hitam
dikertas suci putih indah merona

Perempatan jalan penuh cahaya
diam terpaku harapan hampa
Menoleh kebelakang gelapnya malam
tak terlihat indahnya kilauan

Mutiara pun kini hilang
dibawa angin tiupan senja
Ingin menjemput kembali pulang
jauh sudah langkah berjalan.

Pancaran sinar kembali datang
Tergugah hati terasa riang
Harapan membawa harta yang hilang
Milik jiwa penuh rasa,cinta,kasih,sepancar mutiara dipuncak gunung
silau kilauan tlah hilang dari pandangan…..

Wednesday, September 11, 2013

DENGARKANLAH………




Oleh: Abdoel Munawar

Ketika ku tenggelam dalam asmara cintamu
Dan tanpa tersentuh secuil pun rasa itu Olehmu
Hatiku pun, Terluka ...

Ku rangkai untaian Doa dalam syair tanpa makna

Dalam lantunan penuh  Cinta ...
Membeku di ruang  hatimu..
Yang  tak pernah tahu arti menunggu
Dalam dingin ku berkhayal tentang Hadirmu
Tuk sedikit menghapus Duka laraku
Wahai harap….dengarlah jerit hatiku
Mengingatmu

DI MANA RASA MU

geliat asa membungkus raga
akan rasa yang kian sirna
aku lelah, aku gelisah dalam diammu
seakan kau hujam aku dengan ribuan mata pisau
hingga sesak dada oleh sembilu
aku terpuruk, oleh tatapmu
terkulai, terkapar tak bermaya
namun taukah kasih, aku pernah menjuntai asa
terbang oleh rasa yang kau balut cinta
hingga tak sadar ku dendangkan syair
syair rinduku yang kian menggebu

Namun, saat tajam matamu diam membisu
semua seakan sirna, semua seakan tak lagi ada untukku
oh kasih, carilah kedalam hatiku
hingga aku tak lagi mencarimu
masuklah, semua rasa dihati adalah untukmu
datanglah kasih, ku disini tak ada tanpamu
kemarilah, cobalah lepaskan gelisah ini

kau bunuh harapan ini dengan diammu
sedikit saja tak maukah mengerti?
akan siapa dan bagaimana diri ini untukmu
mungkin aku gila, mungkin aku tak lagi waras
hingga senyummu pun tak kulihat lagi
namun saat kau diam tanpa sebab
seakan aku semakin hilang
aku bukan siapa-siapa saat kau tak hiraukan cinta ini
hati yang diam, kata yang tak lagi ada untukku
membuatku semakin ada dalam jenuhku..

Tuesday, September 10, 2013

Jalan Makrifat dan ManunggalingKawulo Gusti (Dialog Syech Siti Jenardengan Kebo Kenongo)



Category: CERITA SEJARAH



“Syekh, saya telah mencoba untuk
menuju ‘manunggaling kawula gusti’.”
Kebo Kenongo menghampar serban
di depannya. Lalu berdiri.
“Andika sekarang akan shalat?” Syekh
Siti Jenar duduk bersila di sampingnya. “Bukankah andika telah mencoba
menuju maunggaling kawula gusti?”
“Benar, namun saya belum sampai.
Sekarang saya akan shalat.” terang
Kebo Kenongo.
“Tujuan andika shalat?” Syekh Siti Jenar tersenyum.
“Bukankah shalat jalan kita untuk
menuju manunggaling kawula gusti,Syekh?”
Kebo Kenongo mengerutkan
dahinya.
“Bukan.” ujarnya pendek. Syekh Siti Jenar memutar tasbih seraya
mulutnya komat-kamit berdzikir.

“Apakah harus berdzikir menuju
maunggaling kawula gusti, Syekh?”
tanyanya kemudian.
“Tidak juga.” jawab Syekh Siti Jenar
pendek.
“Lantas, untuk apa shalat dan berdzikir?” kerutnya. “Bukankah Syekh pernah mengatakan kalau semua itu upaya untuk mendekatkan diri
dengan Allah?”
“Jika itu jawaban Ki Ageng Pengging benar adanya.” Syekh Siti Jenar sejenak memejamkan mata, kemudian membukanya lagi dan menatap Kebo Kenongo yang masih berdiri hendak shalat.
“Bukankah mendekatkan diri kepada Allah sama saja dengan menuju manunggaling kawula gusti?” tanya
Kebo Kenongo selanjutnya.
“Tidak juga, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar.
“Lantas?”

“Manunggaling kawula gusti sangat berbeda dengan mendekatkan diri kepada Allah.” terang Syekh Siti Jenar.
“Perbedaannya?” keningnya semakin berkerut .

“Karena yang namanya dekat berbeda dengan manunggal. Manunggal bukanlah dekat. Dekat bukanlah manunggal.” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak. “Namun sekarang sebaiknya Ki Ageng Pengging shalatlah dulu, berceritalah setelah selesai mendirikan nya.” tambahnya.
“Baiklah, Syekh.”

Keadaan di padepokan Syekh Siti Jenar sore itu terasa segar. Panas matahari tidak menyengat seiring dengan bayang-bayang manusia yang kian meninggi.
Udara pegunungan terasa sejuk, pepohonan dan tumbuhan berdaun lebat menambah suasana asri.
Padepokan yang ditata sedemikian
rupa menambah khusuk para pencari ilmu.
“Syekh…” Kebo Kenongo mendekat, “Shalat saya sudah selesai.”
“Baiklah,” Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya, “Apa yang andika rasakan saat shalat?”
“Tidak ada.”
“Tidakah merasakan sejuknya udara pegunungan? Tidakah andika melihat kain serban yang terhampar di tempat sujud?” lanjut Syekh Siti Jenar.
“Tidak,” jawab Kebo Kenongo.
“Tidakah andika mendekati Allah?”
tanyanya kemudian. “Saya tidak merasakannya. Tidak pula
menjumpainya.” ujar Kebo Kenongo.
“Mungkin shalat saya terlalu khusuk.”

Syekh Siti Jenar menengadah ke langit,lalu duduk bersila di atas rumput hijau yang dihampari tikar pandan. Gerak-geriknya tidak luput dari pandangan Kebo Kenongo.
“Lihatlah!” kedua tanganya ditumpuk di bawah dada. Tiba-tiba tubuhnya mengangkan dari tikar yang didudukinya dengan jarak satu jengkal, dua jengkal, satu hasta, dua depa.
“Apa yang terjadi, Syekh?” Kebo Kenongo garuk-garuk kepala,
keningnya berkerut-kerut.
“Ini hanyalah bagian terkecil akibat
dari pendekatan dengan Allah…”
dalam keadaan melayang, matanya
menatap tajam ke arah Kebo Kenongo.
“Hasil pendekatan? Jadi bukan
manunggaling kawula gusti?” dengan menahan kedip Kebo Kenongo bertanya.

“Saya belum menerangkan tentang
manunggaling kawula gusti. Namun kita tadi berbicara tentang upaya pendekatan…” terang Syekh Siti Jenar,perlahan menurukan kaki satu persatu hingga akhirnya kembali menyentuh tanah.
“Dengan jalan shalatkah?” tanya Kebo Kenongo. “Bukankah saya tadi waktu shalat tidak menemukan apa pun,bahkan tidak bisa melakukan seperti yang Syekh perlihatkan.” “Jangan salah ini bukan shalat! Namun shalat adalah salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Shalat tadi merupakan syari’at bagi pemeluk Islam, juga ibadah bagi hamba atau abdi Allah. Maka hukumnya wajib.” urai Syekh Siti Jenar, “Namun ketika
orang belum lagi menemukan hakikat dari shalat, itulah seperti yang Ki Ageng Pengging rasakan.”
“Hampa.” desis Kebo Kenongo, seraya menatap Syekh Siti Jenar dengan penuh kekaguman.
“Kebanyakan orang adalah seperti itu,Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar melangkah pelan .

Jika demikian saya baru berada pada
tahapan syari’at. Bisakah saya
menemukan hakikat yang dimaksud
oleh Syekh Siti Jenar?” Kebo Kenongo
seakan-akan kehilangan gairah.
“Hakikat menuju pada pendekatan sebelum manunggaling kawula gusti,
maka seperti yang pernah saya
jelaskan pada Ki Ageng. Kita meski
berbeda agama namun bukanlah
andika harus memaksakan syari’at
ajaran yang saya miliki untuk Ki Ageng kerjakan. Karena kebiasaan andika
adalah bersemadi. Bukankah dengan
cara itu andika merasakan hal yang
berbeda, terutama dalam upaya
pendekatan.” Syekh Siti Jenar kembali
mengurainya. Benar, Syekh.” sejenak Kebo Kenongo
merenung. “Syekh, ternyata saya lebih bisa
merasakan mendekati Sang Pencipta
dengan cara bersemadi.” Kebo
Kenongo melangkah pelan di samping
Syekh Siti Jenar.
“Karena Ki Ageng Pengging sudah terbiasa dengan cara itu.” ujar Syekh
Siti Jenar pandangannya tertunduk ke
ujung kaki.
“Benar, seperti Syekh sampaikan. Cara
pendekatan dan kebiasaan ternyata
tidak mudah untuk dirubah. Namun ketika kita menggunakan jalan yang
berbeda ternyata memiliki tujuan
sama.” Kebo Kenongo menghela
napas dalam-dalam.
“Kenapa? Ya, karena itulah yang
disebut manunggal. Satu.” terang Syekh Siti Jenar, menghentikan
langkahnya seraya matanya menatap
puncak gunung yang berkabut.
“Benar, Syekh. Orang melakukan tata
cara dan ritual dalam wujud pisik yang
berbeda namun tujuannya tetap satu. Sang Pencipta.” tambah Kebo
Kenongo.
“Satu harapan untuk mendapatka
nnya. Mendekatkannya, meraihnya,
dan manunggal.” terang Syekh Siti
Jenar. “Namun belum manunggaling kawula gusti, yang akhirnya wahdatul
wujud.”
“Lantas?”
“Mereka mendekatkan diri kepadanya
bukan untuk tujuan manunggal,
tetapi untuk mengajukan berbagaima cam permohonan dan keinginan.
Karena mereka lebih mencintai urusan
lahiryah yang cenderung duniawi
ketimbang urusan alam kembali,
akhirat.” Syekh Siti Jenar melirik ke
arah Kebo Kenongo. “Bukankah ada juga orang yang tidak
terlalu tertarik pada urusan lahiryah
saja? Namun mereka menginginkan
kesempurnaan hidup dan masuk
dalam tahap akrab dengan Sang
Pencipta?” kerut Kebo Kenongo, tatapannya mendarat pada wajah
Syekh Siti Jenar yang bercahaya.
“Itulah yang jumlahnya sangat sedikit,
Ki Ageng Pengging.” lalu Syekh Siti
Jenar memberi isyarat dengan jari
jemari tangannya. “Kecenderungan orang melakukan pendekatan pada
Allah karena mengharapkan sesuatu,
atau orang tadi dalam keadaan susah.
Ketika mereka merasa senang dan
bahagia, lupalah kepadanya.”
“Mengapa, Syekh?”
“Karena tujuan pendekatan mereka
untuk meraih dan memohon kebaikan
lahiryah saja.” terang Syekh Siti Jenar.
“Ketika merasa sudah terkabul
keinginannya, kemudian melupakan Allah.” Bukankah tidak semua orang seperti
itu, Syekh?” tanya Kebo Kenongo.
“Tidak, hanya hitungannya lebih
banyak.” Syekh Siti Jenar melipat jari
jemarinya. “Sangat sedikit orang yang
punya kecenderungan untuk mengikat keakraban dengan Sang
Pencipta. Padahal tahap terkabulnya
permohonan mereka bukan karena
akrab, tapi dalam Supaya mendekat
dan kemahamurahannya saja. Jika
seandainya mereka sudah merasa akrab dan berada dalam keakraban
tidak mungkin melepas ikatannya
semudah itu.” urainya. “Jika sudah akrab saya kira tidak
mungkin orang untuk menjauh.
Karena untuk mengakrabi perlu upaya
mendekatan yang memerlukan waktu
tidak sebentar.” Kebo Kenongo
mengangguk-anggukan kepala. “Ya, maka tahap akrab dengan Allah
itulah ketika orang dalam keadaan
ma’rifat. Ketika kita tidak memiliki lagi
garis pemisah untuk saling bertemu.
Kapan pun, dimanapun, tidak ada lagi
sekat-sekat dan ruang kosong sebagai jeda untuk mengakrabinya.” Syekh Siti
Jenar menghela napas dalam-dalam. “Ya, ya, benar, Syekh.” Kebo Kenongo
berkali-kali mengangguk-anggukan
kepalanya.
“Nah, pada tahap akrab itulah kita
meminta apa pun tidak mungkin
tertolak. Mana ada keakraban tanpa adanya keterikatan kasih sayang?”
Syekh Siti Jenar perlahan melangkah
lagi.
“Tentu, Syekh. Saya sangat paham.”
Kebo Kenongo terkagum-kagum
dengan uraian Syekh Siti Jenar. “Keakraban dengan Allah tidak
mudah. Namun ketika kita sudah
berada dalam lingkarnya tidak mudah
pula untuk melepas.” Syekh Siti Jenar
berdiri mematung di bawah pohon
kenanga. “Benar, meski saya pun dengan susah
payah mendekat untuk meangkrabi
nya belum juga sampai. Karena upaya
saya bukan hanya untuk mendekat
dan mengajukan berbagai
permohonan. Namun ingin mengakrabinya.” ujar Kebo Kenongo.
“Jika dalam keadaan sangat akrab
bukankah tidak memohon pun akan
diberinya?”
“Ya,” ujar Syekh Siti Jenar. “Berjuangl
ah dan bergeraklah ke arah sana. Jika sudah tercapai, keinginan lahiryah pun
secara perlahan tidak lagi menjadi
persoalan yang sangat istimewa. Itu
semua dirasakan hanyalah sebagai
pelengkap lahiryah saja. Sebagai syarat
hidup.” “Benar, Syekh.” Kebo Kenongo kembali
mengiringi langkah Syekh Siti Jenar.
“Padahal tidak hanya Raden Patah
yang memiliki darah biru dan sekarang
menjadi Penguasa Demak Bintoro.
Saya pun masih keturunan Majapahit. Namun saya tidak punya hasrat sedikit
pun untuk menjadi penguasa. Tujuan
saya bukan itu, tetapi seperti Syekh
terangkan tadi.” “Keinginan lahiryah itulah yang
memenjarakan kita menuju ma’rifat.
Ruang kosong, antara, jarak, jeda,
pemisah, yang merintangi keakraban
kita dengan Sang Pencipta.” terang
Syekh Siti Jenar. “Perintang tadi berupa semua keinginan lahiryah yang
distimewakan oleh nafsu keduniawian,
karena ingin berkuasa, ingin kekayaan,
dan banyak keinginan. Itu semua yang
dinomor satukan. Lahirnya keserakaha
n.” “Jika itu yang masuk ke dalam jiwa dan
pikiran, hati ini akan terasa gelap.” ujar
Kebo Kenongo. “Mana mungkin
menuju akrab untuk mendekat pun
kita harus mencari cahaya jika tidak
tentu membabi buta.” “Nah, itulah penggoda manusia untuk
meraih keakraban dengan Allah.
Jernihkan hati, tenangkan jiwa,
damaikan gejolak nafsu, merupakan
upaya untuk membuka jalan
keakraban.” tambah Syekh Siti Jenar. “Manusia terkadang sangat sulit
menyusuri jalan yang penuh dengan
godaan tadi. Karena dalam dirinya
memiliki nafsu yang sangat sulit untuk
dikendalikan. Itulah upaya perjuangan
menuju keridloannya. Menuju akrab pada Allah. Terkadang manusia hanya
sebatas berucap dibibir, bahwa dirinya
telah akrab tetapi dalam kenyataannya
tidak. Lalu mengakui bahwa saya telah
ma’rifat. Sebenarnya ma’rifat bukan
sebuah pengakuan, tetapi realitas dalam tahapan akrab. Terbelengulah
dengan ikatan kata-kata.” “Ya.” Kebo Kenongo menghentikan
langkahnya seiring dengan Syekh Siti
Jenar. “Adakah perbedaan antara
ma’rifat dengan akrab? Atau memang
sama ma’rifat adalah akrab, sedangkan
akrab adalah ma’rifat?” tanyanya kemudian.
“Orang yang sudah ma’rifat tentu
akrab. Orang yang sudah akrab tentu
sudah ma’rifat.” terang Syekh Siti
Jenar, jubahnya yang berwarna hitam
berlapis kain merah tersibak angin pegunungan. “Ma’rifat itu sendiri?” kerut Kebo
Kenongo. “Tahu, Mengetahui.” berhenti sejenak.
“Namun tidak cukup itu, tentu saja
harus diurai dengan maksud dan
makna yang terarah. Mengetahui
tentang apa? Tahu tentang apa?
Tentu saja tentang dirinya dan Tuhannya. Bukankah terkait dengan
makna akrab. Sehingga ada istilah
kalau ingin mengenal Gustimu,
Allahmu, maka harus mengenal dirimu
sendiri.” Lanjut Syekh Siti Jenar. “Saya pernah mendengar, Syekh.”
Kebo Kenongo merenung. “Bukankah
Tuhan itu lebih dekat dari pada urat
leher dan lehernya, bola mata putih
dengan hitamnya?” “Tentu,” Syekh Siti Jenar melirik ke
samping. “Namun itu sifatnya umum.
Tidak masuk ke dalam makna akrab.
Bahkan ma’rifat juga mungkin tidak.”
“Bukankah untuk menuju ma’rifat
pun tidak mudah, Syekh? Tetapi ada tahapannya, yaitu Syariat, hakikat,
tharikat, dan akhirnya ma’rifat.” ujar
Kebo Kenongo.
“Harusnya demikian.” Syekh Siti Jenar
memutar lehernya seiring dengan
tatapan matanya, tertuju ke puncak pegunungan. “Bukan berarti orang
harus memahami tahapan tadi. Karena
tanpa memahami tahapan tadi pun
orang bisa berada dalam tingkat
ma’rifat, disadari atau diluar
kesadarannya. Sebab tidak semua orang wajib tahu tetang sebuah
istilah, yang penting adalah sebuah
pencapaian, lantas bisa merasakann
ya.” “Bukankah istilah tadi hanya ada dalam
agama Islam yang dianut Syekh
sendiri.” tambah Kebo Kenongo.
“Sedangkan dalam agama yang saya
pahami tentu saja punya nama yang
berbeda.” “Benar,” timpal Syekh Siti Jenar.
“Namun tetap maksudnya sama.
Hanya sebutannya saja yang berbeda.
Sehingga saya tadi mengurai seperti
itu.”
“Ya.” Kebo Kenongo menganggukan kepala. “Lantas ketika Syekh melayang apa
yang terjadi?” tanya Kebo Kenongo.
“Saya bisa melayang karena bisa
mengatur berat tubuh.” Syekh Siti
Jenar menatap langit, “Lihatlah di sana,
Ki Ageng! Mengapa burung itu bisa beterbangan, lalu saling kejar di
ketinggian yang tidak bisa kita jangkau
karena keterbatasan.”
“Tapi kenapa syekh sendiri bisa
meloncati keterbatasan tadi?”
“Sebenarnya bukan saya bisa meloncati keterbatasan, namun kita
bisa mengatur batas, menjauh dan
mendekatkan.” terang Syekh Siti Jenar.
“Maksud Syekh?” kerut Kebo
Kenongo. “Samakah dengan yang saya
dengar tentang Isra Mi’rajnya Nabi Muhammad?”
“Ya, namun berbeda.” “Maksudnya?”
“Jika Rasulallah Isra Mi’raj dengan
kehendak dan kekuasaan Allah.
Sedangkan saya tidak.” ujar Syekh Siti
Jenar.
“Saya kurang paham, Syekh?” Kebo Kenongo memijit keningnya.
“Ya, saya tidak bisa seperti Rasulallah.
Sebab saya bukan beliau…” terang
Syekh Siti Jenar. “Namun saya bisa
menyatu dengan kekuatannya dan
dzatnya. Hingga ketika saya menghendaki berada di pusat Negeri
Demak dengan sekejap itu bukan
persoalan yang mustahil.” tambahnya.
“Benarkah itu, Syekh?” Kebo Kenongo
semakin mengkerutkan dahinya. “Jika Ki Ageng Pengging ingin bukti,
maka tataplah saya! Jangan pula Ki
Ageng berkedip! Karena kepergian
saya ke pusat kota Demak Bintoro
bagaikan kedip, kembali pun
dihadapan Ki Ageng seperti itu pula. Saya dari pusat Kota Demak Bintoro
akan membawa makanan segar.” usai
berkata-kata, samarlah wujud Syekh
Siti Jenar, hingga akhirnya lenyap dari
pandangan Kebo Kenongo.
“Lha,” Kebo Kenongo menggosok- gosok kedua matanya. “Benarkah
yang sedang terjadi dan kuperhatikan
ini?”
“Inilah makan segar dari pusat kota
Demak Bintoro, Ki Ageng.”
“Lha, aih..aih..!” Kebo Kenongo terperanjat, ketika dihadapannya
Syekh Siti Jenar sudah berdiri kembali
seraya menyodorkan makanan hangat
dengan bungkus daun pisang.
“Itulah yang bisa saya lakukan, Ki
Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar, seraya duduk bersila di atas hamparan tikar
pandan, dihadapannya terhidang dua
bungkus makanan hangat yang
beralaskan daun pisang. “Sekarang
marilah kita makan alakadarnya.”
“Ya,” Kebo Kenongo hanya menjawab dengan anggukan. “Saya tidak
sanggup untuk memikirkannya,
Syekh? Kenapa andika hanya dalam
kedip pergi ke pusat kota Demak
Bintroro untuk mendapatkan
hidangan makan pagi. Padahal jika kita bejalan dari padepokan ini ke pusat
kota Demak memakan waktu satu hari
satu malam?”
“Benar, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti
Jenar mengangguk. “Namun
bukankah kita tidak sedang berbicara tentang perjalanan jasad?”
“Maksud, Syekh?”
“Ingatkah Ki Ageng Pengging ketika
saya pernah bercerita tentang
Kanjeng Nabi Sulaiman AS.?” ujar
Syekh Siti Jenar. “Yang pernah Syekh baca dari ayat
suci alquran itu? Saya agak lupa.” Kebo
Kenongo menempelkan telunjuk
didahinya.
“Ketika Kanjeng Nabi Sulaiman
meminta kepada para pengagung negaranya untuk memindahkan kursi
Ratu Balqis ke istananya. Siapakah
yang bisa memindahkan singgasana
Ratu Balqis dalam waktu yang sangat
cepat, hingga jin Iprit menyanggupi.”
“Ya, saya ingat, Syekh.” Kebo Kenongo tersenyum. “Namun bukankah Jin Iprit
itu terlalu lama menurut Kanjeng Nabi
Sulaiman, karena dia meminta waktu
saat Baginda Nabi bangkit dari tempat
duduk maka singgasana akan
pindah…” “Benar, waktu seperti itu lama
menurut Kanjeng Nabi Sulaiman.
Karena bangkit dari duduk
memerlukan waktu beberapa saat.
Hingga berkatalah seorang ulama
serta mengungkapkan kesanggupa nnya, yaitu hanya sekejap. Kanjeng
Nabi Sulaiman berkedip maka
Singgasana Ratu Balqis pun akan
berhasil dia bawa. Hanya satu
kedipan.” terang Syekh Siti Jenar. “…
dan terbuktilah kehebatan ulama tadi.”
“Ya, benar, Syekh.” ujar Kebo
Kenongo, “Itulah ilmu Allah. Mana
mungkin bisa dicerna dan dipahami
dengan keterbatasan berpikir
manusia.” “Tidak semua manusia seperti itu, Ki
Ageng.” terang Syekh Siti Jenar.
“Itulah manusia kebanyakan,
terkadang perkataannya dan
pendalamannya dibidang ilmu
dangkal. Namun meski pun memiliki kedangkalan berpikir terkadang dalam
dirinya mencuat pula rasa angkuh dan
sombongnya. Jika hal itu terjadi maka
akan gelap untuk meraba dan meraih
yang saya maksud.”
Benar, Syekh. Hanya kejernihan berpikir dan menerima yang bisa
membukakan kebodohan dan
kekurangan diri kita…” timpal Kebo
Kenongo. “Namun dalam uraian tadi
apa yang membedakan kehebatan
ilmu yang dimiliki oleh Jin Iprit dan Ulama?”
“Tentu saja sangat berbeda.” Syekh Siti
Jenar bangkit dari duduknya, seraya
menatap langit. “Jin itu makhluk gaib,
tidak aneh bagi bangsa mereka
terbang, melayang-layang di angkasa, melesat secepat angin, menembus
lubang sekecil lubang jarum, bahkan
merubah wujud berbentuk apa pun
yang dikehendakinya.”
“Bisa pula tidak terlihat oleh manusia?”
“Sangat bisa. Ya, karena memiliki sifat ghaib itulah. Hanya orang-orang
tertentu saja yang bisa menembus
alam jin. Sebaliknya hanya jin
tertentulah yang bisa menampakan
diri pada manusia.” terang Syekh Siti
Jenar. “Sehebat apa pun bangsa jin tentunya tidak bisa melebihi manusia.”
“Bukankah pada zaman ini banyak
pula orang-orang yang memiliki ilmu
jin bahkan mengabdikan diri, karena
ingin mendapat kesaktiannya.” timpal
Kebo Kenongo. “Para dukun sakti saya rasa tidak terlepas dari kekuatan dan
kesaktian atas bantuan bangsa jin
yang dijadikan tuannya.”
“Itulah kedangkalan berpikir manusia,
Ki Ageng. Mereka tidak melihat asal
usul, jika manusia itu makhluk yang paling mulia di banding yang lainnya.
Termasuk jin.”
“Jika demikian, Syekh. Berarti kita
harus menaklukan jin agar bisa
memerintah mereka dan memanpaatk
an kekuatannya. Namun apa mungkin kita bisa menaklukan jin?”
“Kenapa tidak mungkin. Bukankah
Kanjeng Nabi Sulaiman sendiri
prajuritnya terdiri dari bangsa jin,
selain binatang dan manusia?” “Tapi untuk menaklukan bangsa jin
tentu saja ilmu kita harus di atas
mereka, Syekh?” “Tentu saja, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti
Jenar. “Namun jika kita sudah memiliki
ilmu dan kesaktian sebetulnya menjadi
tidak perlu memiliki dan menaklukan
jin. Karena kita bukan raja seperti
Kanjeng Nabi Sulaiman, yang memerlukan prajurit dan abdi setia.
Untuk dijadikan balatentara dan
membangun negara, dengan arsitek-
arsitek yang kokoh. Jin dijaman nabi
sulaiman di suruh menyelami laut
untuk mengambil mutiara, di suruh membangun keraton berlantaikan
kaca yang membatasi kolam
dibawahnya.”
“Meski bukan raja kita juga butuh
prajurit pengawal, Syekh?” “Saya rasa tidak perlu bangsa jin yang
dijadikan prajurit pengawal. Bukankah
Kanjeng Nabi Muhammad juga tidak
dikawal oleh bangsa jin, namun selalu
disertai oleh Malaikat Jibril kemana
pun beliau pergi.” “Lalu haruskah Kanjeng Nabi
menundukan Malaikat agar
mengawalnya? Sakti mana dengan
jinnya Kanjeng Nabi Sulaiman?”
“Tentu saja Malaikat itu lebih sakti dari
bangsa jin. Karena yang mencabut nyawa jin juga Malaikat seperti halnya
nyawa manusia. Kanjeng Nabi
Muhammad pun tidak perlu
menundukan Malaikat, karena dengan
sendirinya Malaikat akan di utus oleh
Allah untuk menyertai orang-orang shalih. Apalagi Malaikat Jibril sebagai
pembawa wahyu Allah yang
disampaikan kepada Kanjeng Nabi
Muhammad.” urai Syekh Siti Jenar.
“Syekh sendiri siapa yang mengawal?”
“Karena saya manusia biasa, bukan nabi dan juga keshalihannya tidak saya
ketahui, entahlah. Mungkinkah Allah
mengutus Malaikat untuk mengawal
atau tidak saya tidak tahu. Yang jelas
saya tidak dikawal oleh bangsa jin…”
Syekh Siti Jenar kembali duduk bersila. “Tapi kenapa Syekh memiliki kesaktian?
”
“Ya, itu sedikit ilmu yang saya pelajari
dari keMaha Besaran Allah. Mungkin
yang mengawal saya kemana pun
pergi adalah ilmu yang saya miliki. Sehingga dengan ilmu itu saya pun
bisa memanggil prajurit Allah yang
empat.” tambah Syekh Siti Jenar.
“Prajurit Allah?” kerut Kebo Kenongo.
“Apakah para Malaikat? Kalau di dalam
agama saya para Dewa dan Hyang Jagatnata, penguasa triloka.” ”Prajurit Allah bukan Malaikat. Saya
tidak akan berbicara tentang para
Dewa.” berhenti sejenak, lalu tatapan
matanya menyapu wajah Kebo
Kenongo.
“Namun yang akan saya bicarakan prajurit Allah. Ingat bukan Malaikat,”
“Kenapa bukan Malaikat? Bukankah
Malaikat bisa mencabut nyawa
manusia dan bangsa jin yang goib?”
tanya Kebo Kenongo.
“Meskipun demikian Malaikat hanyalah makhluk Allah, tidak beda dengan kita.
Hanya yang membedakan kita dengan
Malaikat, dia adalah goib. Malaikat
memiliki keimanan tetap dan tidak
pernah berubah, berbeda dengan
bangsa manusia dan jin. Namun meski bagaimana pun tetap saja manusia
makhluk yang paling mulia, tetapi
sebaliknya derajat kemulian yang
diberikan Allah kepada manusia akan
lenyap. Bahkan manusia akan didapati
sebagai makhluk yang lebih rendah dan hina dibawah binatang.” urai
Syekh Siti Jenar.
“Lalu prajurit yang dimaksud?”
”Yang dimaksud prajurit tentu saja
penyerang, penghancur, perusak,
dengan segala tugas yang diembannya.”
“Mungkinkah mirip dengan Dewa
Syiwa?”
“Mungkin, Ki Ageng.” Syekh Siti Jenar
berhenti sejenak. “Sedangkan prajurit
Allah yang empat disini pun fungsi dan tugasnya untuk menghancurkan,
merusak, dengan tujuan manusia
berbalik pada jalan lurus. Mengingatk
an kekeliruan yang pernah diperbuat
oleh para khalifah bumi. Tujuannya
tentu saja menyadarkan, jika yang menedapatkan taufiq dan hidayah.
Adzab dan siksa bagi mereka yang
tidak pernah mau bertobat dan
kembali kepada jalan yang lurus.”
“Lalu siapa yang dimaksud dengan
prajurit Allah yang empat tadi, Syekh?” “Prajurit Allah yang empat itu
diantaranya…” Syekh Siti Jenar
melangkahkan kakinya perlahan. “…
pertama adalah angin. Lihatlah angin
yang lembut dan sepoi-sepoi, namun
perhatikan pula jika angin itu mulai dahsyat serta bisa memporak-p
orandakan bangunan sehebat apa
pun, menghancurkan pohon-pohon
yang tertancap kokoh, menerbangkan
segala hal yang mesti diterbangk
annya, bahkan menghancurkan sebuah kota atau perkampungan.
Lantas ketika angin mengamuk siapa
yang bisa membendung dan
menghalang-halangi?”
“Tidak ada, Syekh.”
“Itulah kehebatan prajurit Allah yang disebut manusia angin pada syariatnya
. Padahal angin itu hakikatnnya
membawa pesan pada manusia, pada
para khalifah bumi, agar menyadari
kekeliruan yang pernah diperbuatn
nya. Manusia yang melakukan keruksakan di muka bumi maka akan
kembali pada perbuatannya,
akibatnya. Namun dalam hal ini
manusia hanya memandang sebelah
mata pada hakikat angin. Mereka lebih
banyak bercerita dan memandang akan hal yang berbau logika dan
penalaran semata, karena itu semua
akibat dari keterbatasan ilmu yang
dimilikinya. Ilmu yang manusia miliki
tidak mencakup berbagai hal, namun
terbatas hanya pada bidangnya saja. Sehingga manusia terkadang
melupakan Allah yang memiliki lautan
ilmu.” urai Syekh Siti Jenar, seraya
langkahnya terhenti. Sejenak berdiri di
tepi jalan, matanya menyapu
tingginya puncak gunung yang diselimuti awan putih yang berlapis-l
apis.
“Bukankah manusia akan selalu merasa
pintar jika seandainya berhasil
menangani sedikit persoalan saja,
Syekh?” “Itulah manusia. Namun tidak
semuanya seperti itu. Tetapi itulah
watak orang kebanyakan. Maka jika
demikian tertutuplah pintu ilmu
berikutnya, terhalang oleh
keangkuhan dan kecongkakan yang terselip dalam batinnya.” ujar Syekh
Siti Jenar. “Berbeda jika dibandingkan
dengan manusia yang batinnya
terang. Dia tidak akan pernah berbuat
congkak, apalagi sombong, yang bisa
membutakan mata hatinya. Sehingga orang seperti itu akan selamanya
sanggup memahami segala hal
dengan jernih….”
“…sangat sulit, Syekh.” Kebo Kenongo
menarik napas dalam-dalam. “…pantas
saja diri Syekh bisa terangkat pada derajat ma’rifat, karena telah sanggup
membersihkan batin dari noda-noda
tadi. Mungkin saya sulit mencapai
ma’rifat tadi karena batin ini masih
dijejali dan dikotori hal-hal yang
membutakan, menghalangi, mengganggu dan merintangi. Pada
intinya masih berbau keangkuhan,
kesombongan, angkara, rasa iri dan
dengki. Namun rasanya sulit untuk
melepaskan hal-hal tadi, Syekh.
Mungkin karena kesulitan itu datang akibat kita berada dalam hiruk pikuk
kemewahan duniawi, yang selalu hadir
di sisi kiri, kanan, depan, dan belakang
kita?” “…jangan salah, Ki Ageng. Bukankah
setiap manusia hidup memerlukan
kebutuhan jasadiyah?” timpal Syekh
Siti Jenar. “Duniawi adalah kebutuhan
lahiryah, sedangkan menuju ma’rifat
adalah proses perjalanan batin menuju akrab.” “Benar, Syehk. Namun jika gangguan
duniawi sangat terlalu kuat, bisa
menggelapkan mata batin. Sehingga
kita selalu memperjuangkan
kepentingan jasadiyah tanpa kendali
dan melupakan kebutuhan batinnya. Nah, untuk menyeimbangkan itulah
yang sangat sulit.” “Sebetulnya kita tidak perlu seimbang
dulu. Namun itu terlalu berat untuk
kebanyakan orang dan tidak mungkin
dapat tercapai. Sebab bagi yang telah
ma’rifat dan akrab tidak perlu jauh
melangkah tinggal mengatakannya, apa yang diinginkan akan datang atau
berada dalam genggaman.” terang
Syekh Siti Jenar, lantas membuka
telapak tangannya dan diacungkan ke
langit, lalu dikepalkan. “…lihatlah!
Inikah yang Ki Ageng inginkan?” “Syekh, rasanya sangat berat untuk
menempuh jalan ma’rifat.” Kebo
Kenongo nampak tidak ceria.
“Ya, tentu saja.” “Mungkinkah saya harus bertahap?
Menurut tahapan ilmu, Syekh?” “Tidak selalu, Ki Ageng Pengging.”
Syekh Siti Jenar perlahan bangkit dari
duduknya. “Bukankah saya
menyarankan jika seandainya andika
kesulitan mengikuti ilmu Islam,
hendaknya ikutilah ajaran agama yang andika anut. Bukankah andika tinggal
satu atau dua langkah lagi menuju
ma’rifat, setelah itu akrab. Orang yang
akrab dengan Allah itulah seperti yang
pernah saya uraikan sebelumnya.” “Ya,” Kebo Kenongo menggeleng, “Itu
dibicarakan sangatlah mudah, Syekh.
Namun untuk melaksanak terasa berat, dan sulit untuk membuka
tabirnya. Jika sekali saja tabir itu sudah
terbuka tentulah berikutnya akan lebih mudah.” “Benar,” Syekh Siti Jenar terdiam
sejenak, matanya yang sejuk dan
tajam beradu tatap dengan Kebo
Kenongo. “Ya, hanya Sunan Kalijaga
yang bisa…” gumamnya.
“Sunan Kalijaga?”ak perlu dipikirkan! Apalagi
mempertanyakannya.” Syekh Siti Jenar
kembali ke tempat duduknya. “Benar, Syekh. Andika selain bisa
membaca keinginan batin saya juga
dapat membuktikannya hanya
dengan mengepalkan tangan.” Kebo
Kenongo menggeleng-gelengkan
kepala, seraya memujinya.